Air Sebagai Sumber Kesucian




Air Sebagai Sumber Kesucian

Air merupakan suatu benda yang tidak bisa dipisahkan dari mahluk hidup dan kehidupan di muka bumi ini, yang merupakan sumber kehidupan bagi seluruh mahluk hidup tidak terkecuali. Begitu pula tanah sebagai tempat untuk berpijak semua mahluk hidup yang berfungsi sebagai ibu pertiwi tempat kembalinya segala sesuatu untuk melebur dan memusnahkan segala kekotoran yang ada di muka bumi ini dan menjadi sumber air. Sehingga air merupakan segala bagi mahluk hidup, baik tumbuhan maupun hewan serta manusia sehari-hari sangat membutuhkan, bahkan untuk lebih lengkap dalam tubuh diperlukan ukuran tertentu, sehingga organ tubuh berfungsi dengan baik, karena mahluk hidup kalau tanpa air maka sangat menderita hidupnya karena kekeringan.

Sedangkan kesucian berasal dari kata suci yang berarti sejati, murni, utama, inti, dan sari. Kesucian sebenarnya sangat penting sekali untuk menjadi dasar maupun gerak langkah dalam kehidupan sehari-hari. Mengingat pada era globalisasi sekarang ini, yang menjadi pemacu kemajuan zaman yang sangat berpengaruh terhadap pergaulan dan tata kehidupan manusia yang sudah jelas menimbulkan kecendrungan yang bersifat baik maupun buruk, serta tidak ketinggalan terjadinya pembauran budaya, baik budaya asli maupun asing saling berbaur pada tempat yang sama sehingga terjadi akulturasi budaya.

Yang menjadi kekhawatiran adalah usaha untuk bisa mempertahankan budaya yang telah menjadi dasar setiap langkah dari nenek moyang. Walau budaya zaman dahulu ada segi negatifnya namun perlu disaring oleh keturunannya hingga sekarang, seperti halnya budaya mabuk-mabukan (matuakan), budaya berjudi, yang jelas-jelas sekarang sudah dilarang. Oleh karena itu hanya budaya positif saja yang patut dijalankan, dan.ini vvajib diteruskan untuk generasi muda sekarang. Budaya positif itu seperti belajar menari, belajar mejejahitan, belajar makidung, dan sebagainya yang perlu diperdalam sehingga di masa depan ada penerus yang menggantikan. Walaupun pada hari-hari biasa banyak kesibukan yang dijalani seperti mengikuti pelatihan, mengikuti les atau kursus bahasa maupun pelajaran sekolah juga tidak ketinggalan para pekerja yang sibuk bekerja, namun hal ini tidak menutup kemungkinan untuk terus melestarikan budaya yang sudah menjadi kewajiban bagi umat Hindu seperti mejejahitan baik untuk saat upacara di hari-hari suci tertentu seperti Purnama, Tilem, Kajeng Kliwon, serta rerahinan lainnya maupun untuk persiapan hari-hari besar agama.

Untuk melangkah melaksanakan kewajiban itu, tentu tidak dilupakan hal-hal yang bersifat kesucian. Umumnya hal yang amat suci itu biasanya dilakukan oleh orang suci atau orang yang sudah disucikan dengan upacara yang lengkap, yang tidak terpisahkan dengan air suci. Namun dalam hal ini sebagai umat Hindu perlu untuk mengenalnya, apalagi bagi generasi muda sekarang agar tidak sembarangan mengambil atau menyentuh benda suci tanpa memperhatikan kesucian diri terlebih dahulu.

Makna dan Fungsi Air Sebagai Sumber Kesucian

Dari hal-hal yang pribadi sekalipun segalanya selalu dilakukan pembersihan tangan sebelum menyentuh kepala atau wajah. Jika di masyarakat, sebelum mengikuti kegiatan gotong royong dalam persiapan piodalan seperti majejahitan, maka utamakan pembersihan tangan sebelum menyentuh alat-alat sembahyang. Juga selain itu diwajibkan melukat dengan Tirtha Penglukatan terlebih dahulu saat memasuki tempat suci atau Pura.

Mengenai makna dan fungsinya maka air mempunyai dua makna yang dipakai pada waktu sembahyang yaitu air untuk membersihkan mulut dan tangan dalam persiapan sembahyang dan air yang nantinya berfungsi sebagai sir suci atau tirtha (di beberapa tempat sering disebut toya). Tirtha atau toya ini ada dua macam yaitu tirtha yang didapat dengan memohon kepada Tuhan (termasuk Bhatara-Bhatari) dan tirtha yang dibuat oleh Pendeta dengan puja mantra, yang digunakan untuk sembahyang sehari-hari.

Dalam hal untuk upacara keagamaan air mempunyai beberapa istilah seperti odaka (odakem) air dalam arti biasa dapat digunakan untuk mencuci tangan, berkumur serta minum sebagai pelepas dahaga dan sebagainya. Sedangkan Tirtha merupakan air yang telah disucikan dan kesuciannya diperoleh dengan jalan dimantrai oleh orang yang berwenang dan bisa juga dengan mengambil di suatu tempat tertentu disertai dengan upacara keagamaan yang pada beberapa tempat sering disebut dengan wangsuhpada. Ditinjau dari segi manfaatnya ada 3 jenis tirtha, yaitu :

  1. Tirtha yang dimanfaatkan sebagai penyucian terhadap tempat, bangunan-bangunan, alat-alat upacara ataupun diri seseorang. Tirtha ini diperoleh dengan puja mantra.para pandita. Yang tergolong pada tirtb: ini adalah Tirtha Penglukatan/pembersihan, Prayascita, dan sejenisnya,
  2. Tirtha yang dimanfaatkan sebagai penyelesaian dalam upacara persem-bahyangan. Tirtha ini pada umumnya dimohon disuatu pelinggih utama pada suatu pura atau tempat suci dan disebut dengan Tirtha Wangsuhpada.
  3. Tirtha yang dimanfaatkan untuk penyelesaian dalam upacara kematian, misalnya Tirtha Penembak, Tirtha Pemanah, dan Tirtha Pangentas.

Pemakaian tirtha untuk penyucian bangunan atau tempat upacara dipercikkan tiga kali mempunyai fungsi sebagai simbul penyucian yang meliputi awal, tengah dan akhir. Sedangkan untuk memohon berkah selesai persem-bahyangan selain dipercikkan tiga kali dengan lis/kembang di kepala atau ubun-ubun juga diminum tiga kali sebagai simbul penyucian terhadap batin. Lalu meraup atau mencuci muka tiga kali sebagai penyucian terhadap lahir. Sehingga dalam Weda Parikrama dan Surya Sevana dijelaskan, bahwa maksud dari pemakaian Tirtha itu adalah penyucian secara lahiriah dan rohaniah {lahir dibersihkan dengan air, rohani dibersihkan dengan kesucian (tirtha). Sedangkan cara membuat air suci atau tirtha dalam kaitannya sebagai sarana persembahyangan, terdapat dari salah satu sloka dari Bhagawadgita Bab XI, 26 menyatakan bahwa :

“Patram puspham phalam toyam
Ya me bhaktya prayaccahati
Tad aham briaktyauphritam
Asnami prayatatmanah “
Maksudnya:
Siapa saja yang sujud kepada Aku dengan mempersembahkan sehelai daun, sekuntum bunga sebiji buah-buahan, Seteguk air, Aku terima sebagai bhakti persembahan dari orang yang berhati suci.

Dalam Sloka tersebut ditegaskan bahwa dengan mempersembahkan air sebagai sarana upacara agama disebut dengan toyam atau tirtha atau tirtha karena sebagai air suci yang secara khusus dipergunakan dalam kaitannya dengan upacara keagamaan yang memiliki kekuatan magis dan kekuatan religius yang bersumber dari kekuatan Ida Sang hyang Widhi Wasa. Sehingga dalam fungsinya air sebagai odaka dan sebagai sumber kehidupan manusia yang disebut dengan Amertha. Dalam persembahyangan dan sehabis menghaturkan sembah dilanjutkan dengan mohon atau nunas tirtha dengan ketentuan dipercikkan ke seluruh tubuh tiga kali, diminum tiga kali dan diraup sebanyak tiga kali, dengan maksud untuk mensucikan bayu, sabda, dan idep.

Kalau tirtha pada saat dipercik¬kan ke anggota badan yang bermakna penyucian badan atau stula sarira disebut dengan tirtha kundalini, yang diiringi dengan puja mantra “Om Bhuda Pawitra ya namah Om Buddha Maha Tirtha ya namah Om Sanggya Maha Toya ya namah”. Jika tirtha saat diminum yang bermakna untuk penyucian kotoran dari perkataan atau suksma carira disebut dengan Tirtha Kamandalu, pada saat minum diiringi dengan puja mantra : “Om Brahma Pawaka Om Wisnu Amertha Om ISwara Jnana”. Tirtha pada saat diraupkan yang bermakna kesucian dalam kekuatan hidup disebut dengan Tirtha Pawitra Jati, pada saat diraup diiringi dengan puja mantra:

Om Ciwa Sampurna ya namah
Om sada Siwa ya namah
Om Parama Siwa ya namah

Disamping itu fungsi tirtha yang lain seperti sebagai lambang penyucian atau pembersihan, sebagai lambang pengurip atau penciptaan dan sebagai pemelihara. Dan yang perlu juga dilakukan adalah rajinnya datang ke tempat mata air suci untuk melebur kekotoran atau kecemaran, seperti yang ada di sungai maupun di Pura yang ada mata airnya. Hal ini penting dilakukan agar mendapat ketenangan hidup lahir dan bhatin serta tidak terlalu berambisi untuk mendapat harta maupun kekuasaan walau itu perlu dan mungkin telah menjadi suatu harapan, namun sebaliknya diberikan kesadaran dengan jiwa rohani yang tenang dan kesegaran jasmani yang merupakan kepastian suatu langkah di masa depan namun perlu diingat juga kembali pada keberuntungan nasib seseorang. Sehingga jika direnungkan secara mendalam betapa pentingnya nilai-nilai kesucian yang terkandung pada air yang kelihatannya sepele saja namun mengandung suatu kekuatan yang luar biasa jika diambil pada sumbernya ataupun di tempat suci. Hal ini juga tergantung pada kepercayaan masing-masing. Kesucian sebenarnya menjadi dasar segala kecerdasan karena jika telah melaksanakannya maka kekuatan-kekuatan Tuhan selalu ada padanya, yang akan memancarkan sinar-sinar kesucian pada wajah bahkan ke seluruh tubuh serta kemanapun melangkah menjadi lebih yakin akan eksistensi diri alias percaya diri. Oleh karena itu dalam segala hal sebaiknya sucikan tubuh dan tangan terlebih dahulu sebelum melaksanakan kegiatan. Sebab dengan melakukan kesucian segalanya menjadi lebih indah.

Sumber:
Pande Wyn. Renawati
Google Images
Youtube



Semoga dapat bermanfaat untuk semeton. Mohon dikoreksi bersama jika ada tulisan/makna yang kurang tepat. Suksma…

2018-02-08T00:45:35+00:00