Bahaya Bermusuhan dengan Ibu

//Bahaya Bermusuhan dengan Ibu



Bahaya Bermusuhan dengan Ibu

Tad samrdhadha bhavati tad’
Bhavati, tad ‘sunyamjagat saryam
Yad’ m’tr’ viyujyate
(Sarasamuscaya.247)
Maksudnya: Orang yang ditinggalkan oleh ibunya karena permusuhan dengan ibunya sendiri, orang tersebut akan miskin, akan senantiasa menghadapi duka nestapa, duniapun seakan-akan tidak ada apa-apanya, sepi adanya.

Dalam suatu kehidupan bersama seperti dalam kehidupan suatu rumah tangga ada saja masalah yang muncul. Kadang-kadang masalah tersebut dapat menguras pikiran dan mental. Misalnya, ada anak yang demikian memusuhi ibu kandungnya, sampai ibunya menjauhinya karena tidak tahan dimusuhi oleh anaknya. Sesungguhnya anak yang demikian itu menurut Sarasamuscaya yang dikutif di atas akan mendapat pahala buruk. Seperti miskin, senantiasa dirundung derita, seolah-olah dunia memusuhinya.

Ajaran Putra Sesana mengajarkan seorang anak seyogianya senantiasa berbakti pada orang tua dan leluhurnya tentunya termasuk ibunya. Bahkan Sarasamuscaya 250 menjanjikan pahala mulia bagi yang dengan tekun dan sungguh-sungguh berbakti pada orangtua dan leluhurnya. Disebutkan ada empat hal yang akan berkembang (p’t ikang rddhi) dengan baik dalam hidup ini. Empat hal yang akan berkembang itu adalah Kerti, Bala, Ayusa, Yasa. Kerti artinya usaha untuk mendapatkan kesejahteraan lahir bathin akan sukses. Bala maksudnya mendapatkan daya tahan yang kuat lahir batin. Bala itu bukan menekankan kekuatan otot, tetapi kekuatan atau daya tahan diri dari berbagai godaan dan serangan penyakit fisik dan penyakit mental. Ayusa artinya hidup sehat bugar dan berumur panjang. Yasa dapat mengembangkan upaya untuk berbuat jasa pada alam lingkungan dan sesama manusia dengan benar dan tepat. Janji pustaka suci itu sebagai motivator spiritual yang logis untuk mendorong agar anak tidak bermusuhan dengan orangtua terutama ibunya.

Empat hal itulah yang akan berkembang dengan baik lagi mereka yang berbakti pada orang tuanya termasuk melahirkannya. Kalau ibu yang melahirkannya dianggap tidak ada kecocokan bahkan mungkin bertentangan, hal itu tidak semestinya diatasi dengan bermusuhan dengan ibu yang melahirkannya. Ketidakcocokan itu dapat dicari jalan dialog dengan kasih sayang dan hormat. Dengan demikian tidak perlu dengan bermusuhan yang tidak akan menyelesaikan masalah bahkan dapat menambah aprah permasalahan yang sudah ada.

Apalagi dalam Kekawin Nitisastra ada dinyatakan:

Nora na sih mangelwihaning atanaya.
Artinya: tidak ada cinta kasih yang melebihi cintakasih kepada anak.

Apalagi bagi ibu, cinta kasih pada anaknya pasti melebihi cinta pada dirinya sendiri. Kecuali itu yang ada kelainan mental/penyakit gangguan jiwa atau mengidap suatu penyakit, mungkin ada yang memusuhi anak kandungnya sendiri. Yang sering terjadi antara anak dan ibunya adalah adanya kesenjangan wawasan atau perbedaan paradigma tentang kehidupan ini. Hal itu disebabkan oleh dinamika zaman. Keadaan zaman saat ibu lahir dan tumbuh berbeda dengan saat anak lahir dan tumbuh. Hal itu kadang-kadang juga berperan sebagai penyebab adanya perbedaan paradigma. Ada yang terlalu sok modern. Sering juga dijumpai dalam masyarakat ketidakcocokan antara menantu perempuan dengan ibu mertuanya. Ada yang sampai menyeret anak bermusuhan dengan ibunya karena nurut isteri.

Suami semestinya menjadi katalisator dan mediator hubungan kasih sayang antara isteri dan ibu kandungnya. Suami yang tidak bisa melaksanakan peran tersebut, bahkan sampai ikut-ikutan memusuhi ibunya. Anak yang demikian umumnya kehidupannya tidak akan lancar atau senantiasa tersandung berbagai masalah yang tidak mudah diselesaikan. Hal ini juga banyak dibahas dalam ilmu sosial. Ada yang menyimpulkan karena berebut kasih sayang. Saat anak masih perjaka rasa hormat dan kasih sayangnya tercurah pada ibu yang melahirkannya. Setelah punya isteri tentunya hal itu akan terbagi untuk ibu dan untuk isterinya. Dalam hal inilah kalau tidak disertai dengan pemahaman yang dalam dan luas oleh semua pihak akan terjadi ketidakcocokan antara menantu dengan ibu mertuanya.

Kalau masing-masing menyadari bahwa anak yang telah memiliki isteri tentunya harus direlakan mereka hidupnya ditentukan oleh mereka berdua. Sebaliknya suami isteri tersebut seyogianya secara kompak berbakti pada kedua mertuanya dengan rela mengorbankan beberapa pandangan atau selera yang mungkin tidak nyambung dengan kedua orang tuanya. Artinya menantu, mertua perlu saling mengalah secara damai sehingga terjadi sinergi paradigma di antara keduanya.

Dalam kehidupan post modern dewasa ini berbagai ragam sikap dan paradigma tentang kehidupan berbaur dalam kehidupan bersama dalam masyarakat. Ada yang paham dan sadar akan adanya berbagai keanekaragaman nilai kehidupan tersebut ada juga yang tidak. Hal tersebut ada yang menimbulkan dampak positif pada kehidupan sehari-hari ada yang juga akibat negatifnya. Perbauran itu terjadi karena makin dinamisnya berbagai perubahan yang terjadi dalam berbagai bidang kehidupan.

Akibat maju pesatnya teknologi telekomunikasi, transportasi, pariwisata, perdagangan antar wilayah intren negara dan antarnegara, menyebabkan semakin meningkatnya berbagai dinamika kehidupan. Dalam dinamika tersebut ada yang menganut nilai tradisional dan ada juga yang terlalu maju untuk menganut paham modern secara berlebihan. Hal ini sering sebagai penyebab terjadi kesalahpahaman antara generasi tua dengan generasi muda. Untuk mengatasi hal ini perlu adanya dialog yang didasari oleh suatu semangat untuk saling mencari dan saling mengisi. Dengan demikian diharapkan adanya kesamaan persepsi tentang pengelolaan hidup pada zaman post modern ini. Dengan demikian berbagai masalah yang muncul di kemudian hari akan memiliki ruang yang sejuk untuk mengatasinya. Hidup ini memang tidak mungkin tidak ada masalah sama sekali.

Untuk itu tiap umat Hindu agar memiliki wawasan yang luas dan dalam, seyogyanya juga menghormati empat ibu yang lainnya. Ibu yang pertama adalah ibu yang melahirkan yang disebut Deha Mata. Mata berasal dari bahasa Sansekerta artinya ibu sama dengan mother dalam bahasa Inggris. Ibu yang lainnya adalah Dewa Mata, Weda Mata, Bumi Mata dan Desa Mata. Dewa Mata artinya Tuhan sebagai ibu. Weda Mata artinya kitab suci Weda itu sebagai ibu karena dari Weda lahirlah berbagai ilmu pengetahuan. Bumi Mata adalah bumi ini yaug melahirkan berbagai hal sebagai sarana kehidupannya. Ibu yang kelima adalah Desa Mata artinya tradisi kehidupan di Desa tanah tumpah darah kelahiran wajib dihormati.

Sumber:
Drs. Ketut Wiana, M.Ag
Google Images



Semoga dapat bermanfaat untuk semeton. Mohon dikoreksi bersama jika ada tulisan/makna yang kurang tepat. Suksma…

2018-01-11T01:30:59+00:00