Benar dan Salah

//Benar dan Salah



Benar dan Salah

Seseorang berkata, “Ini benar, Itu salah; Anda benar, dia yang salah. Tetapi lucu ketika ditanya, orang tersebut tak dapat mengatakan secara tepat apa yang dimaksud dengan “benar” dan “salah” itu.

Relativitas Benar dan Salah

Benar dan salah atau Dharma dan Adharma adalah istilah yang sifatnya relatif. Amat sulit untuk mendefenisikan istilah ini secara tepat. Bahkan orang-orang yang bijak pun dalam keadaan tertentu kadang-kadang kebingungan dalam mendapatkan makna apakah benar dan salah itu. Itulah sebabnya mangapa Sri Krsna menyabdakan dalam Gita sebagai berikut:

“Apakah kerja itu? Apakah tidak kerja itu? Bahkan orang bijak di sini dibingungkannya. Oleh karena itu. Aku akan menjelaskan kepadamu dan setelah megetahuinya, engkau akan dibebaskan dari dosa. Orang harus tahu artinya kerja, demikian pula kerja yang salah, dan juga makna dari tak bekerja. Sungguh dalam artinya jalan kerja. Dia yang melihat tak kerja dalam kerja dan kerja dalam tak kerja, di antara menusia adalah bijaksana, seorang yogi, walaupun dia terus bekerja ( IV. 16, 17, 18).

Relativitas benar dan salah bergantung pada keadaan sekelilingnya (konteks). Apa yang benar pada situasi, bisa menjadi salah pada situasi yang berbeda. Benar dan salah sangat bergantung pada waktu, situasi khusus, warna, (kedudukan dan golongan dalam masyarakat) dan asrama (aturan atau tahapan kehidupan). Moralitas merupakan istilah yang sifatnya relatif dan berubah Siwananda (1996:69) memberi contoh bahwa seorang lelaki yang penuh nafsu, yang menganiaya istrinya yang sah secara berulang-ulang untuk memuaskan nafsunya, lebih tak bermoral daripada seorang lelaki yang mengunjungi rumah saudara perempuannya yang bermental bobrok, sekali dalam enam bulan. Orang yang memiliki pikiran tak bermoral secara terus-menerus merupakan orang yang sangat tak bermoral. Inilah perbedaan halusnya.

Membunuh seseorang musuh adalah benar bagi seorang ksatria. Seorang brahmana atau sanyasin tidak boleh membunuh siapapun walau untuk mempertahankan dirinya ketika dalam bahaya. Mereka harus berlaku sabar dan pengampun secara tegas. Berkata bohong untuk menyelamatkan kehidupan seorang mahatma atau gurunya yang telah dituduh secara tidak adil oleh memimpin yang tidak adil adalah benar. Dalam kasus semacam ini, ketidakbenaran menjadi benar. Berbicara suatu kebenaran yang membuat rugi orang banyak merupakan katidakbenaran semata. TNI yang membunuh anggota GAM atau OPM yang tak mau menyerah adalah benar.

Pengampunan atau ksama, cocok bagi seorang pertapa atau sanyasin yang menjalani kehidupan niwrtti marga atau penyangkalan. Hal ini tak cocok bagi seorang pemerintah. Pemerintah dapat mengampuni seseorang yang merugikannya secara pribadi, tetapi ia tak dapat mengampuni orang yang telah melakukan kejahatan besar (koruptor besar, pengedar narkoba, pembunuh masal, pemerkosaan kambuhan) yang mengancam kedamaian dan kesejahteraan masyarakat.

Ada dharma khusus selama masa kritis dan berbahaya. Rsi Wiswamitra mengambil daging terlarang dari seorang candala ketika terjadi suatu bahaya kelaparan yang parah, dan mempersembahkannya sebagai upacara kurban kepada para Dewa. Usasti, seorang pendeta terpelajar, mengambil kacang yang tercemar dari tangan seorang pengendara gajah, ketika ia menderita kelapara kronis dan tak dapat memperoleh makanan dari mana-mana.

Petunjuk dari Benar dan Salah

Rsi Kanada (dalam Siwananda, 1996:70) menyatakan bahwa hal-hal yang meningkatkan dan membawa kita lebih dekat kapada Tuhan adalah benar. Yang membawa kita turun menjauhi Tuhan adalah salah. Yang dilakukan secara tepat sesuai dengan petunjuk kitab suci adalah benar dan yang dilakukan dengan melanggarnya adalah salah. Bekerja sesuai dengan kehendak Tuhan adalah benar, dan yang melanggarnya adalah salah.

Sangatlah sulit bagi kita untuk menemukan secara tepat kehendak Tuhan. Dalam kegiatan tertentu. Itulah sebabnya, mengapa para pendeta bijaksana menganjurkan untuk selalu meminta bantuan sastra (Weda), para pundit terpelajar, dan orang-orang yang sudah dapat merealisasikan diri, guna diminta nasihat.

Keakuan menggelapkan pengertian. Oleh karena itu, bila seseorang telah mendapat pengaruh keakuan sedikit saja, ia tak dapat mengetahui yang benar dan salah. Untuk keperluan ini, diperlukan kecerdasan yang sangat murni halus dan tajam. Bhagavad Gita menguraikan sifat dari pengertian sattwika, rajasika dan tamasika sebagai berikut:

Yang mengetahui kekuatan dan pemantangan, apa yang boleh dikerjakan dan apa yang tidak boleh dikerjakan, takut dan tanpa ketakutan, mengingat dan membebaskan, pengetahuannya itu adalah murni, wahai Partha. Yang memahami secara salah apa yang benar dan apa yang salah dan juga apa yang boleh dan tidak boleh dikerjakan, pemahamannya itu wahai Partha, adalah bernafsu. Yang berlangsung dalam kegelapan, memandang yang salah menjadi baik dan melihat sesuatunya terbalik, penegertian itu wahai Partha adalah kegelapan ( XVIII. 30, 31, 32).

Bermacam-macam defenisi diberikan oleh para bijak untuk membantu para murid untuk menapak jalan kebenaran. Dalam kitab Bibel dikatakan, “Perlakukanlah orang lain sesuai keinginanmu ia memperlakukanmu.” Ini adalah ungkapan yang baik sekali. Keseluruhan intisari dari sadacara atau perilaku nemar di sini. Bila seseorang melakukan hal ini secara cermat ia tak akan melakukan tindakan yang salah. Janganlah berbuat kepada orang apa yang tidak baik bagi dirimu sendiri. Janganlah melakukan suatu kegiatan yang tidak memberikan kebaikan kepada orang lain atau yang merugikan orang lain dan membuat kita malu karenanya. Lakukan kegiatan yang mendatangkan kebaikan kepada orang lain dan patut dipuji. Ini merupakan rahasia dharma. Ini merupakan rahasia inti dari karma yang merupakan sebuah uraian ringkas dari apa yang disebut sebagai perilaku benar, dan apa yang akan membawa menuju pencapaian kebahagiaan abadi.

Ahimsa Paramo Dharmah, tanpa kekerasan dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan merupakan yang tertinggi dari semua kebajikan. Bile seseorang benar-benar mantap dalam ahimsa pada pikiran, perkataan, dan perbuatannya, ia tidak akan melakukan perbuatan yang salah. Itulah sebabnya Maharsi Patanjali, telah memberikan kemuliaan yang besar pada ahimsa dan filsafat Raja Yoganya. Ahimsa ditempatkan pada awal pelaksanaan Yamabrata.

Memberikan kebahagian kepada orang lain adalah benar, menyebabkan kesengsaraan kepada orang lain adalah salah. Seseorang dapat mengikuti hal ini dalam perilaku sehari-hari sehingga dapat berkembang spiritualnya. Jangan malu dan takut. Kita akan tetap selamat bila mengikuti peraturan ini. Siswananda (1996-72) menyarankan untuk memancarkan setiap perilaku kita pada aturan, kemudian ikuti dengan keyakinan dan penuh perhatian. Kita akan berkembang dan mencapai kebahagian abadi.

Pekerjaan yang memberikan peningkatan, kebahagiaan dan kedamaian pada pikiran adalah benar, dan yang memberikan tekanan, penderitaan, dan kecemasan pada pikiran adalah salah. Ini merupakan jalan mudah untuk menemukan yang benar dan yang salah.

Yang membantu kita dalam evolusi spiritual adalah benar, dan yang menghalangi evolusi spritual adalah salah. Yang sesuai dengan perintah kitab suci adalah benar, dan yang tidak sesuai adalah salah. Bekerja sesuai dengan kehendak Tuhan adalah benar, dan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan adalah salah. Berbuat baik, melayani, membantu dan memberikan kebahagiaan kepada orang lain adalah benar. Semua yang terbebas dari suatu motif merugikan terhadap suatu mahluk sesungguhnya moralitas. Peraturan moral telah dibuat untuk membebaskan mahluk-mahluk dari segala perbuatan tak adil. Semoga kita masih mampu membedakan benar dan salah, melaksanakan yang benar dan menjauhi yang salah.

Sumber
Google Images
Youtube



Semoga dapat bermanfaat untuk semeton. Mohon dikoreksi bersama jika ada tulisan/makna yang kurang tepat. Suksma…

2018-02-10T00:37:37+00:00