Mari Bertemu Tuhan




Mari Bertemu Tuhan

Raditya pernah mendapatkan pertanyaan dari salah seorang temannya di kampus perihal di mana sesungguhnya Tuhan itu berada. Semula dia mengira Tuhan itu berada di atas langit karena sering mendengar ungkapan “sudah kehendak Yang Di Atas”. Ketika Raditya naik pesawat terbang ke angkasa, ternyata dia tidak menjumpai Tuhan di sana.

Kadang Raditya juga berpikir kalau Tuhan itu hanya ada di Pura atau di tempat-tempat suci lainnya. Sudah berkali-kali dia ke Pura, tetapi tidak pernah berjumpa dengan Tuhan.

Sekali waktu Raditya pergi ke sebuah candi yang terletak di lereng sebuah gunung dengan ketinggian yang lumayan. Setali tiga uang. Dia juga belum menemukan ada Tuhan di sana.

Rasa penasarannya berakhir ketika pada suatu hari Raditya bertemu dengan seorang Guru di sebuah ashram yang terletak di kaki gunung Salak.

Dengan senang hati Sang Guru menjelasakan bahwa Tuhan menciptakan alam semesta beserta seluruh isinya dan Tuhan masuk merasuk ke dalam semua ciptaan-Nya. Dengan demikian, Tuhan itu ada di bhuana agung (alam semesta/makrokosmos) dan juga di bhuana alit (mikrokosmos). Tuhan di bhuana agung disebut Brahman, sedangkan Tuhan di bhuana alit dinamakan Atman.

Dalam ajaran Hindu ada konsep yang disebut Brahman Atman Aikhyam yang artinya Brahman (Hyang Widhi) dan Atman itu sesungguhnya adalah sama. Atman merupakan percikan-percikan kecil dari Brahman. Sebagai analogi, Sang Guru menjelaskan bahwa percikan terkecil dari api adalah api dan percikan terkecil dari air adalah air. Dengan demikian, percikan terkecil dari Brahman adalah Brahman itu sendiri yang dalam hal ini disebut Atman. Jadi, dalam setiap diri manusia terdapat Hyang Widhi.

Untuk memperkuat penjelasannya lalu Sang Guru mencarikan beberapa sloka dalam Weda.

1. Atharwa Weda X.8.11

“Tat sambhuya bhavati ekam eva”
Brahman adalah inti alam semesta dan segalanya dilarutkan menjadi seragam dengan-Nya.

2. Reg Weda X.82.7

“Anyad yusmakam antaram babhuva”
Tuhan berada dalam hatimu.

3. Bhagawadgita X.20

“Aham atma gudakesa sarva bhutasaya sthitah aham adis ca madhyam ca bhutanam anta eva ca”
Aku adalah awal, pertengahan, dan akhir semua makhluk hidup. Aku bersemayam di hati semua makhluk hidup.

Berdasarkan keempat sloka di atas, Sang Guru mengajak Raditya untuk tidak lagi mencari Tuhan ke mana-mana karena sesungguhnya Tuhan berada di dalam diri. Guru juga mengajak Raditya agar menerapkan ajaran ini dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika kita meyakini ada Tuhan di dalam diri, maka kita sesungguhnya mempunyai potensi yang luar biasa dahsyat tanpa batas. Selama ini yang membatasi hanyalah pikiran-pikiran kita sendiri. Pikiran-pikiran yang membatasi ini dalam ajaran Hindu disebut awidya. Apabila kita bisa mengikis batas-batas pikiran (awidya), maka segala sesuatunya menjadi mungkin.

Masih ingat cerita ada orang yang dikejar anjing dan berhasil melompati pagar tinggi? Itulah sebuah contoh betapa hebat sesungguhnya yang namanya manusia itu. Tuhan sudah masuk dan merasuk ke dalam diri manusia, sehingga manusialah sebagai Sang Pencipta di dunia ini. Yang menciptakan gedung-gedung tinggi adalah manusia. Bangunan-bangunan megah juga dibangun oleh manusia. Bahkan, seorang pawang hujan mampu memindahkan hujan ke tempat lain tiada lain karena pawang tersebut telah berhasil melampaui batas-batas pikirannya.

Marilah kita songsong hari-hari ke depan dengan menghilangkan awidya dari pikiran-pikiran kita. Mari kita optimalkan segala potensi diri agar kita bisa semakin bermanfaat bagi orang lain dan bagi kehidupan pada umumnya.

Selamat menemukan Tuhan di dalam diri dan selamat menyadari betapa dahsyatnya kemampuan kita.

Salam berkelimpahan bahagia,

Sumber:
PHDI



Semoga dapat bermanfaat untuk semeton. Mohon dikoreksi bersama jika ada tulisan/makna yang kurang tepat. Suksma…

2017-12-13T08:46:21+00:00