Brahmacari – Bagian 2




Brahmacari
Masa Menuntut Ilmu [Bagian 2]

{sebelumnya}

Kehidupan Brahmacari asrama dalam belajar di sekolah

Menurut Dep Agama RI menyatakan bahwa pada masa post-na-tal education inipun di dalam masa Brahmacari banyak pula tahapannya. Mula-mula dilihat secara umum maka tahapannya dapat dibagi sebagai berikut:

  1. Saptawarsa pertama :
    0-7 tahun Anak dalam masa ini dumpamakan sebagai Dewa, Dalam hidup ini anak belum memiliki kesadaran kemanusiaan, tanpa dosa, tanpa jasa, harus diladeni bagaikan kita berbakti kepada Dewa.
  2. Saptawarsa kedua :
    8-14 tahun Anak pada masa ini serba ingin tahu, dan kita harus memperlakukan sebagai budak yang disayang, disuruh dan dibanggakan.
  3. Saptawarsa ketiga:
    15-21 tahun Masa ini adalah masa pancaroba atau masa pubertas dan masa ini pula sering disebut masa pendekar. Betul-betul menghendaki pengamatan yang intensif.
  4. Saptawarsa keempat:
    21 tahun ke atas Masa irti disebut masa pemimpin. Orang sudah dewasa dan sudah ingin untuk bertanggung jawab.

Apabila hal ini dikaitkan dengan pendidikan formal maka usia anak muda dalam menuntut ilmu pengetahuan dari usia sekolah di Play Group (Taman Kanak-Kanak) sampai Perguruan Tinggi (PT) yaitu ± 23 tahun. Pada pra sekolah formal (play group dan Taman Kanak-kanak) dimulai dari anak-anak usia 5-6 tahun. Untuk pendidikan formal mulai dari sekolah dasar sampai Perguruan Tinggi kurang lebih memerlukan waktu 16 tahun. Artinya Sekolah Dasar ditempuh selama 6 tahun kira-kira dari umur 6 tahun sampai 12 tahun. Sekolah Menengah Pertama (SMP) memerlukan waktu 3 tahun yang ditempuh pada usia kurang lebih 12 tahun sampai 15 tahun. Sekolah Menengah Atas (SMA dan SMK) memerlukan waktu selama 3 tahun kira-kira dimulai dari umur 15 sampai 18 tahun. Dan di Perguruan Tinggi (SI) kurang lebih ditempuh selama 5 tahun yang dimulai dalam dari umur 18 tahun sampai 23 tahun. Jadi, masa belajar sampai menamatkan pendidikan tinggi adalah selama 16 tahun. Apabila usia awal memasuki pendidikan di Sekolah Dasar mulai dari usia 7 tahun maka masa belajar seluruhnya menjadi 23 tahun. Dengan pertimbangan (mengabaikan rasa pendidikan pranatal dan pendidikan prasekolah) maka masa brahmacari dapat ditentukan lebih kurang sampai pada 23-25 tahun.

Masa ini merupakan masa untuk mengembangan dan membangun diri, yaitu membentuk identitas dan jati diri. Oleh karena itu, kehidupan manusia pada masa ini diwarnai oleh aktivitas dan kreativitas belajar sebagai upaya untuk membangun landasan kehidupan yang kuat. Landasan ini berupa keseimbangan kehidupan antara pisik dan pisikts, yaitu kematangan dan kedewasaan. Landasan ini dapat disebut dengan dharma (kebajikan). Untuk membangun landasan yang utuh dan kukuh diperlukan ilmu-ilmu gelar urip atau guna vidya.

Manusia wajib menuntut ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya karena pada masa Brahmacari merupakan dasar dari seluruh lapangan hidup yang akan ditempuh pada masa berikutnya. Yang terpenting diusahakan pada masa ini adalah ilmu pengetahuan, karena ilmu pengetahuan tersebut memegang peranan yang sangat vital dalam fase kehidupan berikutnya. Dalam Ajaran Agama Hindu, diharapkan agar manusia untuk selalu mengejar ilmu pengetahuan tersebut. Hal ini disebutkan dalam Canakya Nitisastra VII.4 sebagai berikut:

Santosa trisu kartavyah
svadare bhojane dhane
trisucaiva na kartovyo
dhayayane j apa danayoh
Artinya:
Hendaknya orang merasa puas terhadap tiga hal yaitu: terhadap istri sendiri, terhadap makanan dan terhadap kekayaan yang didapat dengan cara yang halal. Tetapi terhadap tiga hal, yaitu: mempelajari ilmu pengetahuan suci, berjapa/memuji nama-nama suci Tuhan dan berdana-punya, haruslah orang tidak akan merasa puas.

Masa kehidupan Brahmacari diutamakan untuk mengetahui kewajiban belajar, kebenaran dan kebajikan yang kesemuanya itu disebut dengan dharma. Pada masa Brahmacari Asrama menitikberatkan pada pendidikan sebagai kewajiban seorang remaja (yowana). Masa remaja (yowana) merupakan masa yang baik untuk belajar karena belum ada yang mengikat, otak serta pikiran sedang tajam, seperti kehidupan rumput ilalang. Di waktu remaja pikiran sedang tajam-tajamnya, sedangkan setelah tua menjadi tumpul.

Saat umur masih muda mencapai, puncak kekuatan baik pikiran, fisik, kepekaan dll. Disamping itu pada masa muda beban relatif masih sedikit sehingga banyak waktu luang untuk mempelajari ilmu pengetahuan di bandingkan dengan masa tua. Pada masa Brahmacari inilah merupakan masa belajar yang baik. Sedangakan untuk mencari arta dan kama baik dilakukan ada masa grehasta (hidup berumah tangga) yang tentunya berdasarkan dharma. Hal ini kita jumpai pada Sarasamuscaya 27 sbb:

Matanya deyaning wwang, pengponganikang kayowanan,
panedeng ni awak sadhanakena ri kala naning dharma,
artha jnana, kunang apan tan pada kacaktinang atuha lawan rare,
drestante nahan yaning alalang atuha,
telas rumepa, marin alandep ika

Artinya:
Karena prilaku seseorang hendaknya gunakan sebaik-baiknya pada masa muda, selagi badan sedang kuatnya, hendaklah dipergunakan untuk usaha menurut darma, artha dan ilmu pengetahuan, sebab tidak sama kekuatan orang tua dengan kekuatan anak muda, contohnya ialah seperti ilalang yang telah tua itu menjadi rebah, dan ujungnya tidak tajam lagi.

Brahmacari Asrama adalah suatu usaha untuk mendapatkan ilmu pengetahuan sebagai bekal untuk melanjutkan jenjang kehidupan, berikutnya (Grehasta, Wanaprasta dan Biksuka). Sadar terhadap tugas dan kewajiban merupakan suatu nilai yang utama dalam menyukseskan pembangunan, yaitu membebaskan diri dari belenggu berbagai krisis termasuk krisis buta aksara dan kemiskinan. Sadar akan tugas dan kewajiban yang harus dilakukan dan sadar bahwa melaksanakan tugas belajar merupakan suatu kebahagiaan. Setelah ilmu pengetahuan diperoleh oleh seorang brahmacari, tentunya dapat diaplikasikan di masyarakat yang berdasarkan ajaran agama. Dengan demikian, ilmu pengetahuan yang diperoleh oleh seorang brahmacari, tentunya dapat diaplikasikan di masyarakat yang berdasarkan ajaran agama. Dengan demikian, ilmu pengetahuan yang diperoleh dapat bermanfaat bagi kesejahtraan orang banyak serta menguntungkan, baik bagi dirinya maupun orang lain.

Dalam Wiracerita Mahaberatha dikisahkan saat Pandawa dan Korawa menuntut ilmu kepada Guru Drona. Pada suatu malam Bima ingin mencuri makan di dapur, lalu didengar adanya suara desingan panah. Bima mendekati suara desingan panah tersebut. Ditemukannya Arjuna sedang giat untuk mempelajari ilmu panah. Dengan ketekunan dan kegigihan Arjuna belajar memanah sehingga dia menjadi pemanah yang terkenal. Hikmah dari Wiracerita tersebut bahwa, dalam menuntut ilmu pengetahuan termasuk teknologi harus dilakukan dengan serius dan sungguh-sungguh. Dengan demikian ilmu pengetahuan tersebut dapat dimiliki oleh seseorang yang serius dan sungguh-sungguh memfokuskan dirinya untuk belajar serta tidak mengabaikan etika-etika dalam menuntut ilmu pengetahuan.

Dalam menuntut prosesi belajar perlu mengetahui kapan waktu untuk belajar yang baik dan tepat. Pukul 01-07 pagi waktu belajar yang sangat baik. Pada waktu tesebut pikiran masih jernih sehingga lebih banyak dapat menyerap ilmu pengetahuan yang dipelajari. Waktu tersebut, pikiran lebih banyak dikuasai oleh sifat satwam. Pada pukul 07-13, pikiran lebih banyak dikuasai oleh sifat rajas, sedangkan waktu dari pukul 13-24 sifat tamas lebih banyak menguasai pikiran.

Belajar sangat identik dengan proses pengetahuan yang belum diketahui. Belajar untuk mengenal diri, lingkungan, alam dan yang menciptakan jagat beserta isinya yaitu Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Belajar merupakan sebuah wujud tanggungjawab remaja/ yowana sebagai generasi penerus yang mengambil tongkat generasi sebelumya yaitu para orang tua. Dengan demikian semestinya sebagai remaja (yowana), sudah memikirkan apa yang akan diambil dan apa yang akan ditinggalkan dari para orang tua.

Menghindari Hubungan Sek Pada Masa Brahmacari

Menurut I Gede Sura (Acara Dewata TV) mengatakan bahwa secara biologis setiap manusia normal yang sudah menginjak remaja akan tertarik dengan lawan jenis serta mempunyai nafsu sek. Hubungan sek bebas atau tidak pada tempatnya dalam ajaran agama Hindu disebut dengan semara dudu (sek yang salah). Hubungan sek dilakukan dengan pasangan suami istri yang sah yang didahului dengan adanya prosesi upacara perkawinan.

Sebelum memasuki jenjang Grahasta Asrama, hubungan sek (Sanggama) dilarang oleh ajaran Agama Hindu. Agama mengajarkan manusia dalam menempuh jenjang kehidupan, sesuai dengan tingkat yang digariskan oleh Catur Asrama. Pada masa ini, Brahmacari diharapkan mampu mengendalikan diri terhadap hubungan sek. Pada masa ini hubungan sek (senggama) akan mengganggu kecerdasan spiritual. Namun, Fenomena global turut memberi peluang tehadap perilaku sek yang menyimpang, terutama pada keluarga yang ketahanan mentalnya lemah.

{selanjutnya}

I Gede Manik, S.Ag | Google Images | Youtube

 

 



Semoga dapat bermanfaat untuk semeton. Mohon dikoreksi bersama jika ada tulisan/makna yang kurang tepat. Suksma…

2018-09-14T01:45:32+00:00