Brahmacari – Bagian 3

Brahmacari
Masa Menuntut Ilmu [Bagian 3]

{sebelumnya}

Sebelum memasuki jenjang Grahasta Asrama, hubungan sek (Sanggama) dilarang oleh ajaran Agama Hindu. Agama mengajarkan manusia dalam menempuh jenjang kehidupan, sesuai dengan tingkat yang digariskan oleh Catur Asrama. Pada masa ini, Brahmacari diharapkan mampu mengendalikan diri terhadap hubungan sek. Pada masa ini hubungan sek (senggama) akan mengganggu kecerdasan spiritual. Namun, Fenomena global turut memberi peluang tehadap perilaku sek yang menyimpang, terutama pada keluarga yang ketahanan mentalnya lemah.

Hubungan sek dapat dibenarkan apabila adanya Dewa Saksi, Manusa saksi dan Bhuta saksi. Menurut Mas Suttra menyatakan bahwa pembuahan yang terjadi (pertemuan kama jaya dan kama ratih) dengan tidak didahului oleh upacara-upacara pakala-kalaan atau byakaon dianggap tidak baik, dan disebut “kama keparagan” Menurut Sura mengatakan bahwa tingkah laku yang tidak sesuai dengan hukum alam dan aturan-turan hidup bersama, dianggap membawa dampak buruk terhadap kehidupan. Hal ini menimbulkan adanya ketidakseimbangan atau ketidakharmonisan dalam kehidupan. Untuk mengembalikan keharmonisan tersebut perlu di buatkan upacara.

Hubungan sek yang tidak di dahului dengan upakara “padengen-degenan” (pakala-kalaan) dianggap tidak baik, dan disebut “Kamakeparagan”. Apabila kedua kama itu bertemu atau terjadi pembuahan, maka lahirlah anak yang disebut “rare-diadiu”, yang tidak mau mendengarkan nasehat orang tua atau ajran-ajaran agama. Pengendalian diri terhadap adanya dorongan nafsu sek, penting dilakukan karena nafsu sek yang tidak terkendali akan menjerumuskan manusia. Penyaluran dorongan sek hanya dibenarkan melalui lembaga perkawinan (vivaha) dan perkawinan dianggap sah apabila dilakukan dengan vivahasamkara.

Untuk menyalurkan nafsu sek, ajaran Agama Hindu sudah membagi fase kehidupan yang disebut dengan Catur Asrama. Pada masa Brahmacari kehidupan difokuskan untuk mempelajari ilmu pengetahuan sebagai bekal hidup pada tingkatan fase berikutnya. Dengan demikian, harapan dari ajaran Agama tersebut agar umatnya mampu untuk mengendalikan nafsu sek dengan menggunakan wiweka. Realitanya secara biologos, setiap manusia normal yang sudah menginjak remaja akan memiliki nafsu sek serta tertarik dengan lawan jenisnya. Pada masa brahmacari, nafsu sek hanyalah untuk dikenal dan diketahui. Sedangkan pada masa grahasta, sek tersebut harus dipraktekkan atau dilakukan dengan pasangan suami atau istri yang sah untuk memperoleh keturunan.

Menurut Suwantana mengatakan bahwa nilai etika seksual ini tidak terlepas dari pantangan-pantangan yang harus dilakukan. Dalam teks Resi Sembina disebutkan:

“Nihan denira sang maha widagda
mngawen arsaning stri ring anuam
panganinum pawaha nira, yaning rare kunang,
yaning stri iwang sedeng wayah nya wehen wi busan denira,
yapuan tengah tuwuh ivayah nikang stri,
upacara yukti paminton sang maha zoidagda iri ya.
Yapuan matuha ya ikang prayoga manglis kahyunia yan mangkana”

Artinya:
Inilah yang patut diperbuat oleh orang yang bijaksana membuat kesenangan orang perempuan, apabila dia masih remaja makanan dan minumanlah yang diberikan begitu pula anak-anak. Apabila orang perempuan yang sudah dewasa diberikan pakaian oleh beliau, apabila perempuan sudah setengah umur, tatacara benar itulah yang diberikan orang bijaksana kepadanya. Setelah bersuami istri adalah yoga sanggamalah yang diinginkan olehnya.

Pengetahuan tentang teknik sek diberian ketika seorang telah dalam ikatan suami-istri. Ini bukan berarti pelajaran tentang hubungan sek tidak di perlukan. Teks Resi Sembina bahkan menyebutkan bahwa pengetahuan tentang hubungan sek harus diketahui sejak kecil (Ajining rare muang matuha teka). Keberadaan tentang sek itu sendiri harus diketahui sejak dini, tetapi teknik bagaimana melakukan hubungan sek dilakukan setelah menjadi pasangan suami istri yang sah.

Sesuai dengan tahapan yang pertama dari Catur Asrama yaitu Brahmacari, maka pada masa muda (yowana), manusia wajib untuk menuntut ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya karena pada masa ini merupakan dasar dari seluruh lapangan hidup yang akan ditempuh pada masa berikutnya. Oleh karena itu, yang terpenting diusahakan pada masa brahmacari ini, adalah “dharma” (Catur Purusa Artha). Dharma dalam hal ini dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang kebenaran. Dharma sebagai tujuan hidup pertama sebagai landasan untuk meraih tujuan hidup berikutnya.

Seiring dengan kemajuann teknlogi yang sangat pesat di jaman ini, tentunya membawa dampak positif dan negatif terhadap kehidupan manusia. Salah satu dampak negatif dari kemajuan teknologi tersebut mendukung hubungan sek bebas. VCD, DVD, HP, tabloid, majalah beserta internet dengan mudah menyajikan gambar, foto, film-film porno yang dapat diakses oleh remaja. Hal ini memicu hubungan sek bebas dikalangan remaja dimana gambar, film foto-foto forno bisa mereka lihat melalui teknologi. Dengan kemajuan tersebut, hubungan sek bebas semakin meresahkan dan meng-hawatirkan di era sekarang ini. Denpost (tanggal 30 juni 2009) menyatakan bahwa marak dan bebasnya perdaran benda-benda porno seprti blue film (BF), majalah atau tabloid porno dan sejenisnya di Indonesia, turut andil “menyuburkan” perilaku sek bebas di kalangan remaja.

Untuk itu, para orang tua, agamawan dan tokoh masyarakat memberikan ajaran agama kepada para remaja agar tehindar dari hubungan sek bebas. Untuk mengarahkan manusia agar selalu untuk berperilaku sek baikp-benar dan sehat jelas tidak muda» dilakukan. Banyak tantangan yang harus dihadapi oleh mereka yang panatik terhadap hubungan sek yang sakral.

Sebelum memasuki jenjang Grahasta Asrama, hubungan sek (sanggama) dilarang oleh ajaran Agama Hindu. Agama menganjurkan agar manusia dalam menempuh jenjang kehidupan sesuai dengan tingkatan yang digariskan oleh Catur Asrama. Pada masa Brahmacari diharapkan mampu mengendalikan diri terhadap hubungan sek. Pada masa ini, hubungan sek (senggama) akan mengganggu kecerdasan spiritual. Namun, fenomena global turut memberi peluang terhadap perilaku sek yang menyimpang, terutama pada keluarga yang ketahanan mentalnya lemah.

Dalam Agama Hindu, perbuatan zina merupakan hubungan sek yang dilakukan tidak dengan pasangan suami-istri yang sah. Perbuatan tersebut dinyatakan dalam Manawa Dharmasastra VIII. sloka 353 dan 358 dan Sarasamuscaya sloka 153 sebagai berikut:

atsamutho hi lokasya
Jayate warnasamkarah.
Yena mulaharo dharmah,
sarwanacaya kalpate

Artinya
Dengan berzinaan manimbulkan kelahiran warna campuran antara manusia; kemudian daripada itu menimbulkan dosa yang akhirnya memotong keakar-akarnya dan menyebabkan kehancuran daripada segala-galanya.

Manawa Dharma Sastra VII sloka 358

Striyam sprcada desa yah
Sprsto wa marsayattaya,
parasparasyanumate
Sarwam samgrahanam smrtam.

Artinya
Bila seseorang menyentuh wanita dibagian yang tidak harus disentuh atau membiarkan seseorang menyentuhnya bagian itu, semua perbuatan itu dilakukan dengan persetujuan bersama, dinyatakan sebagai perbuatan berzina.

Sarasamuscaya sloka 153

Padadara na gantavyah sarvavarnesu karhicit,
Na hidrsamanayusyam yathan yastrinisevanam.
Ikang kaparadaran sarwadayani tan ulahkena ika,
Haywa angulaken asing amuhara alpayusa

Artinya
Menggoda atau memperkosa wanita, segala usaha curang jangan dilakukan ; pun jangan melakukan sesuatunya yang berakibat umur pendek.

Agama Hindu melarang umatnya untuk melakukan brunaha (mengugurkan kandungan), karena brunaha sama dengan membunuh orang. Walaupun bayi tersebut masih dalam kandungan tetapi tidak diperkenankan untuk dibunuh. Hal ini disebabkan karena bayi yang ada dalam kandungan sudah memiliki nyawa/roh. Hal ini disebutkan dalam kitab suci Slokantara sloka 75 sebagai berikut:

Brunaha purusaghnasca Kanyacoro grayajakah,
Ajnatasam watsavikah patakah parikirtah

Artinya
Orang yang mengugurkan kandungan, orang yang melakukan pembunuhan, orang yang memperkosa gadis orang yang kawin sebelum saudara-saudaranya yang lebih tua, orang tidak tahu masa baik untuk mengerjakan sesuatu, ini semuanya termasuk orang yang berdosa.

{selanjutnya}

I Gede Manik, S.Ag | Google Images | Youtube



Semoga dapat bermanfaat untuk semeton. Mohon dikoreksi bersama jika ada tulisan/makna yang kurang tepat. Suksma…

2018-09-14T01:45:48+00:00