Diri Yang Bukan – Diri

//Diri Yang Bukan – Diri

Diri Yang Bukan – Diri

Selama pikiran bergejolak dan raga terus merajuk, tidak mungkin bagi seseorang untuk mengetahui Atman.Pikiran, indria-indria dan raga yang benar-benar sentausa, mutlak perlu sebelum berupaya untuk memperoleh visi Sang Diri-Jati.
-Sri Swami Krishnananda Sarasvati-

Jati-diri bukan Diri-Jati

Apa yang kita maksudkan dengan sebutan “jati-diri” selama ini tiada lain dari kepribadian. Istilah itu sendiri muncul dari kesalahan-gramati-ka di dalam mengalih bahasakan istilah bahwa Inggris “real self”, yang sepatutnya diterjemahkan sebagai “diri-jati”. Alhasil, dengan kian meluasnya penggunaannya, terjadilah salah-kaprah baru lagi di dalam khasanah kosa-kata bahasa Indonesia.

Menyelami kepribadian seseorang boleh jadi sangat mudah bagi sementara orang yang berbakat, namun menyelami kepribadi sendiri, tidaklah semudah itu. Padahal, dengan menyelami kepribadian sendiri, seseorang akan dengan mudah menyelami kepribadian dari pribadi lain manapun.

Apa yang kita sebut sebagai kepribadian seseorang adalah segena proponen yang membentuk tataran fisiko-mentalnya berikut segenap interaksi yang terjadi di dalamnya. Ia sebetulnya jauh lebih luas dan lebih dalam dari sekedar tingkahlaku dan budi-pekerti, seperti yang umumnya dimengerti. Ia juga menyangkut minat dan bakat, kecendrungan dan kegandrungan, bahkan karakter atau sifat dan naluri, kecerdasan, pencerapan, ingatan, pengetahuan, pemahaman, pandangan hidup dan kesadaran akan kehidupan itu sendiri secara keseluruhan.

Kepribadian muncul akibat adanya jiva, “sanghyang urip”, “hidup” itu sendiri, yang terperangkap di dalam satu jasad fisilak-biologis dengan corak mental-psikologis tertentu ini, dan membentuk satu pribadi sendiri ini, yang merasa terpisah dan berbeda dari yang lainnya. Singkatnya, “sanghyang urip” inilah “yang mempribadi” sehingga terbentuklah kepribadian. Tanpa adanya “yang mempribadi”, tak ada yang disebut dengan “yang berkepribadian” bukan?.

Oleh karenanya, kalau kepribadian adalah jati-diri, maka “yang mempribadi” inilah “SangDiri-Jati”. Jelas sekali bedanya bukan?

Diri dan Bukan-diri

Membicarakan jati-diri dan Diri-Jati terasa rada melompat, kalau sementara ini kita sendiri belum jelas benar akan apa yang selama ini kita sebut sebagai “diri”. Dalam ungkapan seperti “diriku”, “dirinya” atau sejenis itu, siapa atau apa sebetulnya yang kita rujuk sebagai si “diri” disini?

Secara sadar atau tidak, yang umumnya kita rujuk sebagai si “diri” adalah tubuh ini, jasad-fisikal-biologis ini bukan? Umumnya hanya sebatas itu; sebatas jasad kasar ini saja. Jadi secara sadar atau tidak sadar, kita umumnya seringkah hanya mengidentifikasikandiri sebagai jasad kasar ini, sebagai raga ini.

Pola pengidentifikasian-diri seperti ini selaras dengan pola-pandang yang memposisikan “diri” ini sebagai jaga yang berjiwa”. Sebagai konsekuensi logisnya, kita pun beranggapan keliru kalau kita ini bisa sakit, mengalami penuaan, dan bisa mati Ungkapan bijak seperti: “Apapun yang lahir, pasti mengalami kematian” merujuk pada raga ini, pada selubung lahiriah ini. Padahal, kita sendiri dapat rasakan kalau kita tidak hanya terdiri dan selubung lahiriah saja. Secara sangat sederhana, kita dapat merasakan kalau, disamping selubung terluar lahiriah ini, ada tataran lain yang lebih halus, yang lebih dalam, yang lebih hakiki sifatnya, yang diselubungi oleh selubung lahirian ini, yang kita sebut dengan “batin”. Oleh karenanyalah kita juga punya istilah bentukan “lahir-batin”.

Dalam istilah “lahir-batin” tampak jelas kalau sebetulnya kita tak hanya mengidentifikasikan diri sebatas tataran atau selubung lahiriah ini saja. Jadi, pada derajat kesadaran yang sedikit lebih tinggi, apa yang kita sebut sebagai “diri” selama ini adalah “lahir batin” ini, gabungan antara kedua selubung kasar dan halus ini.

Penyebutan ini menganut suatu pola khas yang disebut dengan pola “nama-rupa”, yang bersifat dualis. Menganut pola ini, bagi kita, setiap yang berwujud haruslah punya nama; demikian pula sebaliknya, setiap nama seharusnya punya wujud. Segala wujud kita beri nama. Sebab bila tidak, kita tak bisa menyebut atau membayangkannya. Kita semua menganut pola dualis ini, karena pikiran dan akal-budi ini tidak bisa bekerja di luar pola ini. Kenapa?

Karena pada dasarnya, Alam Semesta material dimana kita hidup ini terpolakan demikian. Sejauh masih dalam wilayah semesta material, pola ini bersifat alamiah dan juga universal. Pola – pikir dan pola-ucap kita telah terpolakan demikian. Bahasa yang kita gunakan, mau-tak-mau, menganut pola ini karena ia terlahir di dalamnya. Oleh karenanya, sedikit sekali orang yang bisa keluar dari pola-pandang dualistik ini.

Sampai di sini, kita sadar kalau yang kita sangka dan rujuk selama ini sebagai, “diri” selama ini tidak sebatas selubung lahiriah saja, jasmaniah saja, melainkan selubung “lahir-batin”. Sisi lahiriah ini sudah cukup jelas buat kita akan tetapi, yang manakah yang selama ini kita anggap dan sebut “batin”?

Atman yang mempribadi

Bila kita ingat-ingat dan renungkan kembali, akan kita temukan kalau yang selama ini kita sebut sebagai “batin” itu adalah : duet perasaan dan pikiran, ingatan atau kesan-kesan mental, pencerapan dan kecerdasan kita, yang semuanya itu juga kita sebut tataran mental-psikologis. Di dunia psikologi, semua ini dibedakan menjadi dua tataran, yakni : tataran sadar (conscious) dan tataran bawah-sadar (sub-concious). Ketika terjaga, tataran sadar ini yang dominan bekerja. Ketika bermimpi, bawahlah yang dominan bekerja. Dan saat tidur-lelap tanpa mimpi, keduanya beristirahat, non-aktif Di ketiga “alam kesadaran” inilah umumnya kita berada.

Nah… sampai disini, sudah mulai tampak kalau apa yang selama ini kita anggap sebagai “diri” kita-yakni selubung lahir batin itu sebetulnya bukan “Diri” kita yang sebenarnya, bukan “Diri-Jati” kita. Ia bersifat semu karena selalu berubah-ubah. Saat terjaga “si diri” seperti ini, saat bermimpi “si diri” seperti itu, dan saat tertidur-lelap ia seperti yang lainnya lagi. Selalu berubah-ubah sehingga tak dapat dipastikan yang manakah yang benar-benar  layak,  yang benar-benar representatif sebagai “diri”. Kalau selubung lahiriah diibaratkan ban-luar dari mobil Anda, maka selubung batiniah adalah ban dalamnya. Karmavasana memberinya kwalitas, bentuk dan ukuran, serta bertindak sebagai velgnya, dan prana atau daya-vital adalah udara pengisinya.

Saat tertidur-lelap tanpa mimpi, terjadi kelupaan total pada kita. Si diri menjadi tanpa kesadaran samasekali, walaupun sebetulnya kita masih “hidup”, masih ada daya-vital, masih bisa terjaga dimana kesadaran berikut segala bentuk ingatan, kesan-kesan mental, kecerdasan, pikiran dan perasaan terasa pulih kembali seperti sebelumnya. Apa artinya ini?

Bagi kita, setidak-tidaknya ini mengindikasikan bahwasanya kita bukanlah semua “itu”, kendati seringkah beranggapan “seperti itu”. Dan saking seringnya, kita kemudian malah mengidentifikasi-diri kita sebagai itu “itu”. Disini akar dari kekeliruan selama ini; inilah yang membentuk pandangan-keliru (mithya-drshti) yang kita anut selama ini.

Ini juga mengindikasikan bahwa-sanya, disamping tataran sadar dan bawah-sadar ada tataran kesadaran lain, yang tidak saja melandasi, namun juga mengatasi atau mengungguli keduanya Ini disebut tataran “supra-sadar” oleh kalangan psikolog, yang sejak dahulu-kala oleh para orang-orang suci dan para bijak Hindu disebut tataran kesadaran “ke-empat”, turiya-pada. Dan entitas atau subjek, “yang berada di “tataran kesadaran “ke-empat” ini disebut turiyanta. Entitas yang sama, juga disebut jiva-atman, Atman mempribadi, yang terperangkap di dalam sosok nama-rupa ini, di dalam selubung lahir-batin ini.

Semoga Cahaya Agung-Nya senantiasa menerangi setiap gerak dan langkah kita. Semoga kedamaian dan kebahagiaan menghuni kalbu semua insan.

Sumber
Google Images
Youtube



Semoga dapat bermanfaat untuk semeton. Mohon dikoreksi bersama jika ada tulisan/makna yang kurang tepat. Suksma…

2018-03-13T02:08:13+00:00