Karma Sebagai Swadharma Menuju Kebahagiaan Bersama

//Karma Sebagai Swadharma Menuju Kebahagiaan Bersama



Karma Sebagai Swadharma Menuju Kebahagiaan Bersama

“Niyatam kuru karma twam karma jyayo hy akarrnanah, Saririyatra’pi ca te na prasidhyed akarrnanah”
Artinya:
Bedalah seperti yang telah ditentukan sebab berbuat lebih baik dari Dada Hdav berbuat, dan bahkan tubuhpun tidak akan berhasil terpelihara tanpa berkarya
(B.G.III.9)

Prawacana

Dalam kehidupan manusia tidak bisa sendirian. Antara satu orang dengan orang-orang lain saling terkait. Yang satu dengan yang lainnya saling membantu dan saling bekerja sama. Jika salah satu macet, maka yang lainnya akan berpengaruh. Bisa juga kemacetan total akan muncul. Jika hal itu terjadi, itu tak diinginkan dalam hidup kebersamaan. Untuk itu, setiap insan mesti dapat memaknai karma atau kerja itu sendiri.

Kerja atau karma merupakan kewajiban setiap orang. Insan manapun mesti ingat dengan kewajibannya sendiri. Kerja pada posisinya masing-masing itu adalah swadharma atau kewajiban sendiri yang mesti dipertang-gungjawabkan, untuk tercapainya keberhasilan kerja bersama. Jika kewajiban sendiri dilalaikan, itu berarti juga melalaikan terhadap kerja atau kewajiban secara bersama. Dalam kerja ada ketentuannya yang pasti. Berapa jam semestinya bekerja secara efektif dan berhasil guna. Berapa jam untuk beristirahat? Pekerjaan mana yang mesti tepat dan cocok untuk dikerjakan sesuai dengan keterampilan yang dimiliki? Semua itu telah diatur berdasarkan profesionalisme serta kualifikasi pekerjaan itu sendiri.

Jika profesinya sebagai bagian kebersihan (cleaner) lakukanlah itu sebaik mungkin. Jika profesinya sebagai penerima tamu (receptionist), lakukanlah itu secara ramah, lembut, sigap, dan simpatik. Jika profesinya sebagai seorang pimpinan (manager) maka berkewajiban untuk memantau, mengawasi, membina, mengarahkan, meng-koordinasikan, melindungi, merencanakan serta mengorganisasikan segala aspek pekerjaan yang ada di semua unit kerjanya.

Semua komponen dalam suatu unit/badan/organisasi tertentu, yang personalnya untuk berkarya dan berkarya terus sesuai aturan main yang diberlakukan. Kuncinya adalah sukseskan kerja di masing-masing unit demi suksesnya pula semua pekerjaan di semua unit. Di sini memerlukan pola kerja yang terencana, terorganisir, kreatif, dan terawasi. Keempat pola dan sistem tersebut perlu dipahami dan diaplikasikan secara kompak dan solid, agar tercapainya ketentraman, keberhasilan, dan kesuksesan bersama-sama.

Bagaikan itu sebuah pesawat terbang, maka semua awak kapal terbang (crew) wajib memerankan tugas secara kompak dan waling bersinergi. Apakah dia itu sebagai pilot, co pilot, pramugari, operator, teknisi mesin (engi-neer), maka semuanya bersama-sama bertanggung jawab demi tercapainya pesawat tersebut untuk mengantarnya semua penumpang (passanger) ke tempat tujuan dengan selamat dan sukses.

Makna Karma

Tentang karma, dalam Bhagawadgita (G. Pudja, 1993 : xvi) dinyatakan 1) subha karma perbuatan yang baik, 2) asubha karma perbuatan yang tidak baik; adapun perbuatan yang tidak baik dibedakan pula antara dua macam, yaitu : akarma dan wikarma. Dengan demikian terdapat tiga macam bentuk sikap tindak, yaitu : 1) karma yaitu perbuatan baik; 2) akarma yaitu perbuatan tidak berbuat; 3) wikarma yaitu perbuatan yang keliru. Apa yang diharapkan dari ajaran Karma Yoga ini adalah tercapainya tujuan yang meru¬pakan semua benua yaitu moksa atau siddhi (kesempurnaan). Ada dua hakikat pengertian kata karma yang berkembang di dalam Bhagawadgita, yaitu 1) karma dalam arti ritual atau yajna, dan 2) karma dalam arti tingkah laku /perbuatan.

Karma artinya bukan saja perbuatan, tetapi juga hasil dari perbuatan, sesungguhnya akibat dari perbuatan bukanlah sesuatu yang terpisah dari perbuatan itu sendiri. Ia merupakan bagian perbuatan dan tak dapat dipisah-kan darinya. Bernafas, berpikir, berbicara, melihat, mendengar, makan dan sebagainya semuanya adalah karma. Berpikir merupakan karma mental. Karma merupakan jumlah rangkaian perbuatan pada kehidupan ini maupun pada kelahiran-kelahiran terdahulu.

Jadi, insan manapun hendaknya dapat memaknai karma itu sendiri. Hidup menjadi tanpa makna, jika insan itu sendiri tanpa kerja. Jika kerja tidak dilakukan secara otomatis rejeki tidak diperoleh. Roda kehidupan perseorang-an dan kebersamaan menjadi lumpuh dan rapuh. Sebaliknya jika Jtarma/kerja dimaknai, maka hidup menjadi penuh makna. Bahwa hidup ini adalah bahagia. Bukan sebaliknya hidup ini petaka dan duka. Itulah pentingnya memaknai karma itu sendiri. Yang terutama adalah karma itu dapat dimaknai, oleh karena apapun jenis karma yang dilakukan itu mesti disyukuri, bukan dihianati, asalkan tak bertentangan dengan dharma atau ketentuan normatif yang berlaku. Apapun yang dikerjakan, maka hasilnya pasti akan diperoleh, ingat hukum karma phala. Yang tinggal tunggu hasilnya, kapanpun pasti akan dinikmati oleh yang bekerja, bukan oleh orang lain.

Lakukan Swadharma

Apakah makna swadharma itu? Swadharma adalah kewajiban diri sendiri. Apa pula kewajiban bagi setiap orang, hal itu telah ditentukan secara pasti dan rinci oleh unit dan komponen¬nya masing-masing sesuai dengan job description. Apa yang menjadi job descrip-tion , itulah sebagai kewajiban yang mesti dilakukan oleh setiap insan, dimanapun dia melakukan kerja. Pada intinya dharma pada agama lain adalah sama. Menurut Sri Swami Sivananda (1993 : 40) menyatakan semua agama lainnya juga menekankan pada masalah dharma. Budhisme, Jainisme, Kristen, Sikh, Zoroaster, dan Islam, kesemuanya teristimewa menaruh perhatian pada nilai-nilainya. Plato, Socrates, Aristoteles, Kant, Swederborg, dan Spinoza, semuanya merupakan contoh-contoh yang jelas dalam sejarah yang menarik yang dari filsafat Barat guna tumpuan yang tinggi, di situ mereka menempatkan moralitas, kewajiban, dan kebajikan serta meng-agungkannya sebagai satu-satunya cara untuk pencapaian tujuan hidup. Setiap agama lebih menekankan pada aspek dharma yang pasti.

Dharma bentuknya bermacam-macam jenis, yaitu sanatana dharma (hukum  abadi), samanya  dharma (kewajiban umum), wisesa dharma (kewajiban khusus), warnasrama dharma (kewajiban sendiri), yuga dharma (kewajiban pada masa tertentu), kula dharma (kewajiban keluaTga), manawa dharma (kewajiban manusia), purusa dharma (kewajiban laki-laki) Stri dharma (kewajiban wanita), Raja dharma (kewajiban raja), praja dharma (kewajiban pokok), prwrtti dharma (kewajiban dalam kehidupan duniawi), dan nirwtti dharma (kewajiban dalam kehidupan spiritual).

Menyimak kutipan di atas, bahwa setiap insan/orang memiliki kewajiban masing-masing, baik dalam suasana individual maupun dalam kondisi komunal/kebersamaan. Se¬sungguhnya kewajiban itu adalah tugas yang harus diemban dengan sebaik-baiknya. Kewajiban disini, bukan berarti bahwa pekerjaan itu sudah dilaksanakan secara asal-asalan saja, tetapi kewajiban yang bermutu/berkualitas, penuh prestasi, mengesankan, dan penuh tanggung jawab. Jadi kewajiban disini adalah tugas yang diemban untuk memenuhi tuntutan efektivitas dan kualitas yang baik. Jika memungkinkan, lakukanlah kewajiban yang terbaikbagi semua, bukan bagi diri sendiri semata.

Wujudkan Sarwahita

Menurut Sri Svami Sivananda (1993: 79-80) menegaskan bahwa karma dengan keakuan membawamu pada kelahiran kembali dan juga menimbulkan karma baru, sementara yang lama dibuang. Bebaskanlah dari karma, bila kamu menginginkan pembebasan dari kesengsaraan kelahiran kembali. Bekerja tanpa pamerih tak akan mengikatmu, dan akan memurnikan hatimu serta membawamu untuk mewarisi sinar dan berkah ilahi. Pahamilah hukum karma dan hukum sebab akibat. Berpikirlah yang benar dan berbuat yang mulia. Bermeditasilah secara teratur dan capailah kebahagiaan abadi dan kekelalan.

Karma jika disadari sebagai kewajiban suci, maka hasilnya adalah kemuliaan. Kemuliaan adalah sesuatu yang berharga sebagai milik individu dan milik bersama. Seseorang mendambakan kemuliaan dan kebahagiaan sesuai dengan karma yang telah dilakukan, yakinlah kemuliaan dan kebahagiaan itu akan diperoleh, jika dilandasi dengan kebenaran (dharma). Tetapi yang mesti diingat dan diingat terus, bahwa kemuliaan dan kebahagiaan itu tidak semata-mata untuk diri sendiri, melainkan juga untuk yang lainnya. Kemuliaan dan Kebahagiaan bersama-sama (sarwa hita) juga sangat perlu diwujudkan.

Jika pimpinan bekerja dengan disiplin akhirnya memperoleh imbalan yang memuaskan, maka para staf atau bawahan yang bekerja dengan penuh tanggung jawab, maka wajar pula ia mendapat gaji bahkan bonus yang setimpal dari buah kerjanya yang baik. Itulah sebagai wujud dari kebahagiaan bersama-sama (sarwa hita) yang dicari oleh setiap insan manusia di jagat raya ini. Kebahagiaan bersama secara curang itu tidak baik alias dosa, era sekarang KKN mulai dikikis oleh masyarakat dan aparat.

Samapta

Ciptakan suasana kerja yang kondusif penuh makna di setiap kesempatan melakukan kerja di manapun kerja itu dilakukan. Kerja yang baik adalah berlandaskan atas dharma (kebenaran). Kerja yang curang atau kerja atas dasar karma phala itu memberikan formula pasti, bahwa siapapun pelaku kerja itu, pasti dialah yang menikmati hasilnya.

Bebaskanlah segala petaka, derita, sengsara, duka dengan melakukan kerja yang baik. Setiap orang memiliki kewajiban masing-masing. Kewajiban sendiri hendaknya bermutu dan bertanggung jawab. Sukses dalam kewajiban sendiri berarti kesuksesan pula dalam kerja bersama. Jika hal itu dapat terwujud, yakinlah bahwa kebahagiaan bersama (sarwa hita) bisa menjadi kenyataan sesuai dengan job dan skill masing-masing, mogalah.

I Ketut Subagiasta
Google Images
Youtube



Semoga dapat bermanfaat untuk semeton. Mohon dikoreksi bersama jika ada tulisan/makna yang kurang tepat. Suksma…

2018-06-13T10:53:35+00:00