Karma Wasana #2


Sebelumnya………….



Karma Wasana

Kosa kata ini tidak asing lagi bagi sanatin. Kata karma merujuk kepada pengertian, suatu tindakan atau akumulasi berbagai tindakan, yang baik atau yang tidak baik, telah terjadi mengikuti jalan pikiran yang sudah dipolakan, terstruktur, sesuai dengan kadar intelektualitas orang yang bersangkutan. Dan tindakan-tindakan yang telah terjadi, membawa konskwensi tertentu pula. Merujuk kepada uraian sederhana ini, maka semua tindakan, yang baik atau yang tidak baik, yang dilatar belakangi oleh kesadaran, memberikan stigma dalam kurun waktu yang tidak terbatas. Namun pada sisi lain, ada suatu tindakan yang tanpa didahului oleh suatu pemikiran sadarterlebih dahulu, namun tindakan itu sudah muncul, bersifat reflektoris atau bahkan yang dilakukan semasa bayi. Pada situasi ini, maka stigma tersebut menurut saya dapat diabaikan, walau dalam kisah Bhagawan Mandawya, justru sebaliknya, semua tindakan memberikan dampak stigma.

Wasana dikatakan sebagai bekas-bekas dari tindakan dan/atau pikiran yang telah dilakukannya sendiri, terlepas dari pikiran itu murni berasal dari dirinya sendiri atau merupakan produk pola pikir orang lain, namun telah direkonstruksi seolah murni hasil pemikirannya sendiri. Merujuk penjelasan sederhana ini, karmawasana dapatlah diartikan sebagai bekas-bekas tindakan sebagai akibat produk pikiran yang sadar yang mendahuluinya. Lalu, bagaimana menemukan bekas-bekas tindakan yang dimaksudkan?

“Dalam roda besar Brahman, jiwa mengembara seperti seekorangsa, memikirkan dirinya dan sang pemberi inspirasi sebagai dua entitas yang terpisah. Manakala sang jnana hadir pada dirinya, maka dua entitas itu tidak lagi ada, dia sang jiwa lebur kedalam Jiwa Yang Agung. Dia kini menjadi “dia yang mencapai keabadian” demikian Brhadaranyaka Upanisad IV,4.4 mengingatkan. Pada kondisi ini, maka wasana tidak akan diketemukan lagi. Apakah kita kehilangan jejak?

Kata Upanisad 11.2.1. menjelaskan: “Beberapa jiwa masuk kedalam kandungan untuk ditubuhkan, yang lain masuk kedalam obyek-obyek yang tidak bergerak, sesuai dengan perbuatannya dan pikirannya…”. Sebelumnya Bhagawadgita juga memberikan penekanan yang senada, “manuju kepada tindakan apa yang telah dipolakan atau dipikirkan. Yang menyembah leluhur, yang menyembah semesta, yang menyembah jiwa yang agung (Aku), akan mendapatkan atau menemukan jalan untuk sampai sampai disana. Banyak basya muncul akan makna kalimat ini, namun Sarvepalli Radhakrishnan memberikan penjelasan yang amat apik untuk kalimat ini, demikian juga Gandhi.

Frase: “kedalam kandungan untuk di tubuhkan, yang lain masuk kedalam obyek-obyek tidak bergerak’’. Saya sangat meyakini, maksud kalimat ini hanya merujuk pada pengertian reinkarnasi, frase sebagai salah satu standard para sanatin dalam keimanan (sraddha). Bagi saya, frase ini muncul oleh adanya peristiwa awal (preliminary act) yang kita sebut dengan karma. Lalu, jiwa yang mana masuk ke mana?



Kita lanjutkan kalimat terputus diatas “..sesuai dengan perbuatannya..”. Ini lembar isian terbuka. Setiap jiwa yang ditubuhkan ulang, tidak akan pernah keliru memasuki obyek-obyek bergerak (hidup) atau obyek yang tidak bergerak (mati) yang sesuai dengan perbuatannya. Jiwa-jiwa individu masuk ketempat-tempat itu tidak akan keliru, tidak salah arah, karena penciptanya dirinya sendiri. Artinya, hanya jiwa itu yang memasuki tempat yang spesifik untuk dirinya, bukan yang lain. Pergerakan menuju kearah sana hanya ada satu sebab, karma, bukan sebab lain, bukan keimanan, bukan karena mengamini suatu tradisi yang ada, namun “hanya itu”, yang sesuai dengan perbuatannya”. Ini juga berarti, dengan munculnya hal seperti ini (one way trafic path-way), kita dibawa kepada satu pemahaman, reinkarnasi menolak adanya kehidupan kekal seperti dalam dunia fenomenal.

Reinkarnasi adalah samsara, pengulangan bentuk kehidupan setelah kematian sampai ada batas waktu tertentu yang diciptakan juga oleh dirinya sendiri. Reinkarnasi, kini sangat mashyur tidak saja pada agama-agama timur, tapi secara individual telah menarik perhatian para ekspert di luar katagori agama-agama. Mereka mencoba menemukan makna kata ini dengan berbagai cara. Banyak diantara mereka meyakini, bahwa reinkarnasi adalah rasional. Banyak bukti-bukti ilmiah yang sudah mencatat peristiwa reinkarnasi di seluruh dunia.

Karma

Hal yang sama terjadi pada kosa kata karma, walau tidak sedikit yang skeptis “cape deh hidup seperti gasing, hanya demikian saja” Selalu ada silang pendapat dan wajar. Itu syah dalam ranah manapun manakala muncul statement-statement yang berbeda.

Paham yang ingin dikemukakan oleh reinkarnasi adalah: yang kekal adalah jiwa; bukan badan mated. Logikanya, reinkarnasi “memperbanyak jumlah hidup tiap orang” sampai dia dibersihkan-bersih dari dosa, menentukan secara definitif hidup terakhirnya, hidupnya yang adil.

“Kadyangganing dyun, mewadahning hinggu, huwus ilang hinggunya, pinahilang, kawekas ya ta ambonya, gandhanya rumaket irikang dyun” Demikian Wraspati Tattva 3-35 mengingatkan. Ketika kemenyan dalam dyun sudah habis, aura bau tetap melekat. Inilah karmawasana. Inilah yang membawa samsara. Atas nama samsara jiwa tidak pernah keliru mau masuk ke daerah mana, sesuai dengan tindakannya. “Yata dumadyaken ikang jadma mapalenan, hana dewayoni, hana widhyadarayoni, akibat karmawasana ini pula, maka ada penjelmaaan yang berbeda-beda; orang yang hidupnya penuh kebaikan, ada orang yang hidupnya penuh dengan dukhalara (kesengsaraan) …” demikian dilanjutkan oleh Wraspati tattva.

Dalam mitologi kematian yang berhubungan dengan karmawasana di Bali, Bhatara Yamadipati, mempunyai juru tulis, daitya yang bernama Sang Suratma, yang merekam semua tindakan semua mahluk, apakah karma baik atau karma buruk semasa hidupnya. Ini dengan sangat jelas menjelaskan makna dari karmawasana, bahwa Rta (Sang Suratma), bekerja di luar kesadaran manusia, mengalir dan tidak ada yang tidak direkam. aum

Sumber:
Alm Dr. Nengah Sudana
GoogleImages
Youtube



Semoga dapat bermanfaat untuk semeton. Mohon dikoreksi bersama jika ada tulisan/makna yang kurang tepat. Suksma…

2018-02-04T11:00:36+00:00