Kekuatan Doa dan Praktek Religius




Kekuatan Doa dan Praktek Religius

Menjelang tengah malam orang yang mengaku dirinya pertapa itu mengumumkan: “Sudah tibalah waktu ku untuk meninggalkan rumah dan mencari Tuhan. Ah siapakah kalian berdua yang telah menahanku di sini begitu lama dalam kesesatan ?”
Dengan bayi yang terlelap di dada istrinya berbaring di peraduan. Orang itu berkata “Siapa gerangan kalian berdua ini yang begitu lama menggoda ku ?”
Terdengar Tuhan berkata “Mereka itu Tuhan”, orang itu tidak mendengarnya. Si bayi menangis sambil merapat kepada ibunya.
Tuhan berkata lagi “Tutup mulutmu bodoh, dan jangan tinggalkan rumah !” Tetapi orang itu tetap tidak mendengar.
Tuhan pun mengeluh “Mengapa hambaKu yang mencari Ku malah meninggalkan Aku”.

(Rabindranath Tagori, Sang Juru Taman, 75)

Hidup bisa menjadi saat-saat yang suram dan tidak mengenakan. Saat akal pikiran kita jauh dari Tuhan dan lekat dengan hal-hal duniawi. Ini tidak berarti bahwa kita harus menarik diri dari hal-hal yang bersifat duniawi. Namun penekanan utama sebaiknya diberikan kepada Tuhan dan memahami-Nya. Jika kita tidak memperhatikan ini, pencapaian duniawi menjadi tak berarti sama sekali. Siapapun yang tidak memberikan perhatian yang layak pada kehidupan bathiniah tidak dapat menikmati keduniawian (Jagadhita). Mereka mungkin punya segala-galanya, kesehatan, rumah, keluarga, kekuasaan, jabatan dan yang lainnya, namun karena kekhawatiran, ketakutan dan keresahan pencapaian kenikmatan duniawi adalah mustahil. Tidak banyak orang yang memahami bahwa berdoa, sembahyang dan meditasi adalah penting untuk kehidupan duniawi.

Praktek-prktek ini tidak khusus demi pencapaian jagadhita, namun sosok yang meditatif memenuhi syarat kualitas untuk mencapai jagadhita. Itulah, siapapun yang melupakan Tuhan merupakan korban dari sikap mental mereka sendiri. Banyk juga diantara mereka yang menderita gangguan mental dan tidak menemukan kedamaian pikiran, mereka secara fisik dan mental terpisah. Sangat penting untuk mengolah kehidupan bathiniah, kehidupan meditatif. Ini tidak berarti bahwa orang yang rajin ke tempat ibadah, pintar mengutif ayat-ayat suci adalah orang yang religius. Namun seseorang yang mempraktekkan ajaran agama dengan benar akan memiliki kesetabilan mental.

Kehidupan bathiniah adalah kehidupan yang teratur dengan “memikirkan” Tuhan. Itu diarahkan dengan gagasan spiritual, kesadaran dan pemahaman Tuhan. Jika spirit ini “ditarik” maka tujuan hidup akan lenyap. Kita memang tidak bisa menentang kenikmatan, namun jika seseorang menginginkannya harus memiliki akal pikiran yang damai. Hasrat pribadi akan menjadi intensif dan dia akan tetap berlari mengejar keinginan-keinginan, dengan demikian akan menciptakan suatu kondisi peningkatan ketegangan. Jika seseorang sudah tegang akan menimbulkan banyak masalah. Lihat keadaan masyarakat Indonesia saat ini. Keinginan akan kenikmatan obyektif ini akan memunculkan semangat persaingan yang membawa perselisihan dan kecekcokan antar pribadi, keluarga, kelompok, bangsa dan bahkan antar negara. Untuk menghindari ini kita harus “menempatkan” Tuhan dalam kehidupan kita. Ini dapat dilakukan dengan efektif hanya dengan sembahyang dan meditasi.

Kebanyakan orang yang memulai kehidupan religius saat dia kebingungan menghadapi masalah-masalah keduniawian. Di sini letak manfaat sembahyang, meditasi dan praktek-praktek religius lainnya. Melalui latihan spiritual seseorang dapat mencapai apa yang mereka harapkan. Itulah alasan bahwa seseorang mendapatkan kekuatan melalui sembahyang ataupun doa.

Adalah penting untuk mengetahui bagaimana sembahyang/berdoa, dan kepada siapa itu ditujukan. Orang-orang gagal mendapatkan apa yang mereka inginkan dan kemudian mengeluh “Oh Aku tidak mendapat apa-apa dari sembahyang”, ketika mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka melempar tanggung jawab kepada orang lain dan bahkan Tuhan.

Seseorang harus bersembahyang kepada Tuhan, bukan kepada yang lainnya. Tuhan adalah Semesta Kasih dan Maha Kuasa. Dialah satu-satunya yang dapat memberikan segala sesuatu yang kita inginkan. Memang ada beberapa orang yang berdoa kepada mahluk-mahluk lain, seperti kepada roh-roh dan mencoba mendapatkan apa yang mereka inginkan. Apa yang bisa diberikan oleh roh? Bagaimana mereka bisa memberi kedamaian jika mereka sendiri tidak punya kedamaian di dalam hidupnya. Beberapa orang mencoba untuk berdoa kepada mahluk halus seperti yang dijelaskan oleh Sri Krshna dalam Bhagavad Gita IX,23-25;

“Sesungguhnya mereka yang percaya kepada kekuatan alam dan mengharapkan kenikmatan surgawi juga percaya kepada Ku, Namun cara mereka salah. Akulah yang menerima segala macam persembahan, namun karena ketidaktahuan mereka, mereka tersesat. Mereka yang menjunjung tinggi kekuatan-kekuatan alam memperoleh kekuatan-kekuatan itu. Mereka yang memuja leluhur mencapai para leluhur. Mereka yang menginginkan materi akan mendapatkan materi. Tetapi mereka yang kesadarannya terpusatkan kapada-Ku akan mencapai Aku.”



Makhluk-makhluk itu bersifat terbatas. Sesuatu yang terbatas tidak dapat memberi sesuatu yang tidak terbatas, seperti kedamaian dan kegembiraan. Itulah alasan Sri Krishna mengatakan bahwa manusia dapat mencapai Tuhan melalui pemujaan kepada-Nya.

Kegagalan berdoa dan menjadi tanpa makna saat tidak ada kontak dengan Tuhan. Banyak yang berdoa dengan cara-cara yang mekanis. Mereka melakukan dengan bentuk-bentuk tertentu, penuh kata-kata, berbelit-belit, membaca kitab suci, namun pikiran mereka ada dimana-mana. Konsekuensinya, tidak ada kontak dengan-Nya.

Sembahyang yang dilakukan dengan cara-cara yang mekanis tidak akan efektif oleh karena itu, doa-doanya tidak terjawab dan orang tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan dan juga hdak mencapai Tuhan. Sembahyang yang efektif membawakan kedamaian dan mencapai obyek doa saat akal pikiran dipusatkan kepadaTuhan.

Ada orang yang berdoa untuk maksud-maksud jahat. Ini sering disebut Ilmu Hitam. Ada hal-hal dimana seseorang dengan konsentrasi dan kekuatan fikirannya yang dalam menghasilkan pengaruh buruk pada orang lain, mengirim pikirannya kepada orang lain dan sekaligus mengontrol pikirannya.

Svami Brahmananda menggolongkan tipe sembahyang ke dalam empat kelompok.

  • Tipe sembahyang yang pertama dilakukan oleh sebagian besar orang untuk mendapat sesuatu yang mereka inginan, dalam bentuk uang, rumah, keluarga, anak, kesehatan, kedudukan, nama kekuasaan, popularitas dan bahkan kemenangan dalam peperangan. Ini disebut sebagai bentuk pemujaan yang paling rendah.
  • Tipe sembahyang yang kedua adalah perilaku untuk mencapai personalitas total. Seorang pemuja tipe ini berdoa untuk kesucian, kebenaran, kesabaran, dan kasih. Mereka sudah tidak menginginkan kekuasaan, kedudukan dan sebangsanya.
  • Tipe sembahyang yang ketiga adalah konsentrasi yang dalam dan meditasi (Dharan dan Dhyan). Dalam tahapan ini seseorang tidak sembahyang untuk sesuatu. Mereka gembira dalam “memikirkan” Tuhan. Seseorang yang berkonsentrasi dan bermeditasi menguatkan segala segi kehidupan mereka. Dia tetap menjalin hubungan dengan Tuhan. Sri Ramakrishna pernah berkata :

    “Berikan semua kepada-Nya, serahkan dirimu sendiri kepada-Nya. Dan tidak ada halangan lebih banyak lagi bagimu. Tuhan adalah pohon buah harapan itu sendiri, siapapun yang mengatakan dalam hidupannya: “Oh Tuhan, Engkau beri aku segalanya” – dia akan mendapat segalanya”.Svami Brahmananda memberi saran: “Percayalah pada ku Tuhan selalu bersamamu. Jika kamu bekerja sedikit, Dia akan memperluas bantuan-Nya kepadamu. Tetaplah bersujud di kaki Padma-Nya. Dia akan memenuh., kebutuhanmu. Kamu harus tetap memusatkan pikiranmu kepada-Nya”.

    Ada sebuah cerita menarik, ada seorang pengemis yang telah berjalan jauh dan dia begitu lelah, sehingga dia berdoa. “Oh Rama, berikan aku seekor kuda” sementara dia berdoa dengan penuh kesedihan. Seorang Inggris “Tommy” datang dengan menunggang kuda diikuti oleh beberapa kuda di belakangnya, di antaranya ada keledai kecil. Tommy memanggil dan menyuruh si pengemis untuk membawa keledai kecil itu, Pengemis itu menangis dan berteriak, “Oh Rama, Engkau salah faham, Aku meminta kuda untuk membawaku, bukan keledai kecil yang harus aku bawa”.
    Inilah yang terjadi di dalam kehidupan kita. Orang meminta sesuatu yang menjadi bebannya. Mereka menginginkan kekuasaan, jabatan. Kekuasaan dan jabatan malah merusak kedamaian dan menjadi beban serius baginya. Dia yang tetap menjalin hubungan dengan Tuhan melalui meditasi kepada-Nya dengan kasih dan Bhakti adalah yang paling bijak dari semuanya.

    Patanjali telah menemukan suatu teknik untuk meningkatkan kesadaran dengan teknik-teknik yoga. Teknik-teknik ini membantu menguatkan sistem syaraf. Untuk membentuk konsentrasi bagi pemula kita dapat mengambil simbol Tuhan yang mewakili sifat keillahian-Nya yang universal, seperti sinar sucinya dan memusatkan pikiran kepada simbol tersebut. Para pemikir ilmiah yang rasional sulit sekali dapat berpikir tentang aspek tradisional dari Tuhan. Mereka yang disebut Filsuf pantheistik juga menemukan kesulitan untuk menggunakan sebuah personalitas sebagai obyek konsentrasi, walaupun mereka dapat bermeditasi terhadap beberapa simbol yang menghadirkan pengetahuan kebahagiaan dan keberadaan yang absolut.

    Dalam tradisi Hindu, seseorang disarankan untuk mengulangi Nama Tuhan tertentu. Teknik mantra ini menghadirkan aspek ketuhanan tertentu, digunakan secara ekstensif untuk evolusi spiritual yang lebih tinggi. Saat seorang mengulangi mantra, akal pikirannya akan larut ke dalam bentuk Tuhan yang Nama-Nya disebut. Sri Ramakrishna mengatakan: “Dengan japam – dengan pengulangan NamaNya disertai dengan konsentrasi akal pikiran, kamu dapat menyadari-Nya”.
    Svami Brahmananda juga mengatakan “Melaksanakan japam cocok untuk jaman Kali. Tidak ada praktek spiritual yang lebih mudah dari ini, sehingga meditasi harus didekati dengan metode ini”.

    Pikiran memang sulit untuk dikendalikan, dalam Bhagavad Gita Sri Krishna bersabda: “Memang pikiran itu liar Arjuna, namun dengan latihan terus-menerus dan melepaskan keterikatan sedikit demi sedikit, kamu dapat mengendalikannya “

    Keagamaan Tuhan dapat dicapai ketika sang pemuja tetap dalam kondisi reseftif dengan pemurnian akal pikiran melalui sembahyang konsentrasi dan meditasi. Kemudian dengan sendirinya mereka akan merasakan keagungan Tuhan dan kehadiran-Nya, seperti kata Sri Ramakrishna: “Angin Keagungan Tuhan tidak putus-putusnya mengalir, seorang pelaut yang malas dalam lautan kehidupan ini tidak akan bisa mengambil keuntungan dari hal ini. Tetapi ia yang aktif dan kuat akan selalu menjaga akal pikirannya agar selalu terkembang dan menangkap angin sepoi-sepoi dan oleh karena itu, mencapai tujuan dengan segara”.

  • Tipe sembahyang yang keempat adalah tipe sembahyang yang paling tinggi. Ini hanya dapat dilakukan oleh segelintir orang di dunia. Bentuk hubungan ini dalam Astangga Yoga disebut sebagai Samadhi. Dalam kondisi ini seseorang berhadapan langsung dengan Tuhan. Inilah tipe ibadah yang Utama. Tidak ada lagi yang lebih tinggi yang harus dicapai, tidak ada lagi yang ingin diketahui. Itulah alasan bahwa kekuatan yang paling besar dapat dicapai melalui sembahyang. Walaupun tipe keempat ini tidak dapat dilakukan oleh banyak orang, tipe ketiga dapat dilakukan oleh banyak orang atau sedikitnya oleh setiap orang.
    Ada cerita menarik tentang seseorang putra mahkota yang dibuang bersama ibunya dari kerajaan ayahnya. Walaupun usia anak itu baru 8 tahun, dia mulai sembahyang untuk mengembalikan kerajaannya. Doanya begitu intensif, akhirnya Tuhan menampakan diri pada anak tersebut. Tapi dia malah tidak minta kerajaannya, dia hanya minta Kasih Tuhan.Banyak orang yang memulai kehidupan spiritualnya dengan keinginan atas benda-benda duniawi, bahkan awalnya minta uang, kekuasaan kedudukan dan yang lainnya, sesudah dia merasakan Tuhan, dia berubah. Ini merupakan sifat dasar manusia dan dia akan berkembang secara perlahan dan tipe sembahyang yang terendah ke yang ebih tinggi. Svami Brahmananda berkata: “Akal pikiran seperti sapi perah yang memberi banyak susu saat makannya bagus. Beri akal pikiran lebih banyak makanan dan kamu akan mendapat pelayangan yang lebih baik sebagai imbalannya. Dan apakah makanan yang layak bagi akal pikiran? Meditasi, konsentrasi, sembahyang, dan praktek-praktek religius lainnya”. Mereka yang deka t denganku tidak tahu bahwa Engkau lebih dekat dengan ku dari pada mereka. Mereka yang bercengkrama denganku tidak tahu bahwa hatiku penuh dengan kata-kata keheningan-keibsaan-Mu. Mereka yang berkerumun di jalan kecilku tidak tahu bahwa aku sedang berjalan sendiri dengan-MU. Mereka yang mencintaiku tidak tahu bahwa cintanya membawa Mu kepada ku. (Naivedya, Rabindranath Tagore).
Sumber
Google Images
Youtube



Semoga dapat bermanfaat untuk semeton. Mohon dikoreksi bersama jika ada tulisan/makna yang kurang tepat. Suksma…

2018-02-10T00:22:24+00:00