Meditasi




Meditasi

Salah satu kewajiban suci bagi seorang sadhaka adalah untuk tekun melakukan praktek meditasi. Di dalam bahasa sansekerta, dhyana adalah awal pembuka meditasi dan samadhi adalah puncak meditasi.

Secara garis besar terdapat 3 [tiga] tingkatan kesadaran manusia.

I. Tingkat yang pertama [1] adalah orang yang kesadarannya masih dipenuhi kontradiksi [dualitas].

Orang yang kesadarannya masih dipenuhi oleh kontradiksi [dualitas], kesadarannya mudah sekali dicengkeram kuat oleh sad ripu [enam kegelapan pikiran] dan ahamkara [ego atau ke-aku-an]. Kesadarannya sangat rapuh. Sehingga semuanya dia terjang dengan sikap protes, marah, tersinggung, tidak puas, kata-kata menyakitkan, tidak setuju, tidak terima, dsb-nya. Atau dia mudah sekali tenggelam di dalam rasa sedih, rasa takut, keraguan, rasa bersalah, rasa cemas, rasa tidak percaya diri, dsb-nya.

Pikiran yang dipenuhi kontradiksi [dualitas], adalah pikiran penuh penghakiman yang tidak pernah istirahat. Baik melawan buruk, benar melawan salah, suci melawan kotor, bahagia melawan sengsara, untung melawan rugi, berani melawan takut, rasa lepas melawan rasa malu, agama melawan ilmu pengetahuan, damai melawan kacau, ekspresi diri melawan norma sosial, logika melawan rasa, menyenangkan melawan menyakitkan, pendapat saya benar melawan pendapat orang lain salah, dsb-nya. Kebiasaan pikiran yang penuh penghakiman [tidak pernah istirahat] inilah yang menyebabkan pikiran kita penuh kontradiksi [dualitas].

II. Tingkat yang kedua [2] adalah orang yang tekun dan konsisten melakukan praktek meditasi kesadaran, orang yang sudah sering-sering “mengistirahatkan pikiran“ dari konflik pertempuran dualitas pikiran.

  • Pertanda dalamnya adalah di dalam diri kita merasa nyaman, tenang dan damai terhadap semua kontradiksi-kontradiksi yang muncul di dalam diri. Kedamaian sejati bukanlah keadaan tanpa konflik dan kekacauan di dalam diri, karena hal itu tidak mungkin. Kedamaian sejati adalah kemampuan untuk selalu tersenyum penuh belas kasih dan nyaman, tenang, damai terhadap semua kontradiksi-kontradiksi yang muncul di dalam diri.
  • Pertanda luarnya adalah di kita suka melakukan kebaikan dan memberikan pertolongan, serta penuh pengertian kepada orang lain. Sikap kita penuh belas kasih dan kebaikan.

III. Siapa saja yang dalam jangka waktu lama bertahun-tahun tekun dan konsisten melatih pikirannya sering-sering “istirahat” dari kontradiksi-kontradiksi di dalam diri, hanya masalah waktu saja kesadarannya akan bertransformasi untuk memasuki kesadaran tingkat ketiga [3].

Kembali kepada intisari diri yang sejati, yaitu kesadaran Atma. Keheningan yang berlimpah dengan belas kasih dan kebaikan.

Kenyataan sejati setiap manusia adalah kesadaran Atma yang penuh kedamaian. Tubuh fisik dan tubuh pikiran-perasaan, hanyalah bungkus-bungkus luar dari kenyataan sejati manusia. Ini berarti sesungguhnya manusia tidak perlu mencari kedamaian, kita hanya perlu membuka lapisan-lapisan pembungkus luar Atma, yaitu tubuh fisik dan tubuh pikiran-perasaan. Caranya dengan “istirahat” dari segala bentuk konflik pertempuran dualitas pikiran di dalam diri.

Para Guru dan orang-orang suci dari berbagai jaman menyampaikan bahwa, merupakan sebuah kerugian besar jika dalam kelahiran sebagai manusia ini kita tidak tekun melaksanakan praktek meditasi kesadaran. Karena praktek meditasi kesadaran adalah sadhana yang dapat mengubah kecenderungan pikiran dan perasaan [emosi] kita.

Ketekunan untuk praktek meditasi terus-menerus dapat menurunkan kualitas dan kuantitas cengkeraman sad ripu [enam kegelapan pikiran] dan ahamkara [ego, ke-aku-an] dalam kesadaran. Karena pikiran mulai belajar untuk “istirahat” disaat kita tekun dan konsisten melakukan praktek meditasi.

Pikiran yang sering-sering istirahat inilah yang akan mengantar kita untuk bertemu intisari diri sejati, kesadaran Atma, yang penuh kejernihan dan kedamaian.

Sumber:
Rumah Dharma

 



Semoga dapat bermanfaat untuk semeton. Mohon dikoreksi bersama jika ada tulisan/makna yang kurang tepat. Suksma…

2017-12-13T08:48:31+00:00