ga('require', 'GTM-KFB5FMD'); Melenyapkan Rasa Takut - Juru Sapuh

Melenyapkan Rasa Takut

//Melenyapkan Rasa Takut

Melenyapkan Rasa Takut

Untuk memperoleh penjelasan yang bernalar mengenai topik ini maka penjelasannya saya awali dengan ungkapan seperti ini: “Berani karena benar, takut karena salah”. Jadi rasa takut itu ditimbulkan oleh perbuatan yang salah. Oleh karena itu untuk melenyapkan rasa takut kita tak boleh salah. Perbuatan yang salah adalah perbuatan yang melanggar hukum. Pernyataan takut berbuat salah ini pernah diucapkan oleh Sutasoma. Ceritranya sebagai di bawah ini.

Setelah Batara Kala tidak sanggup menyantap Sutasoma maka beliau bertanya kepada Sutasoma dengan berkata, “Sebenarnya apakah yang Tuanku takuti di dunia ini ?” Sutasoma menjawab, “Yang saya takuti di dunia ini adalah berbuat dosa dan melakukan pembunuhan”. Setelah Betara Kala mendengar ucapan Sutasoma itu maka beliau kagum terhadap keluhuran budi Sutasoma. Kemudian beliau memegang kaki Sutasoma dan mau menyembahnya. Sutasoma menolak untuk disembah dengan alasan bahwa Sutasoma adalah manusia dan Batara Kala adalah dewa yang kedudukannya lebih tinggi dari pada manusia. Akhirnya Batara Kala menjelaskan bahwa yang beliau sembah adalah keluhuran budi Sutasoma bukan jasmaninya.

Mengenai kebenaran dalam kitab suci ada disebutkan Sathyam bruyaath priyam bruyaat yang berarti lakukanlah kebenaran dan ucapkanlah yang menyenangkan yang maksudnya perbuatan yang benar harus ditindak lanjuti dengan berbuat yang baik yang disebut berbudi luhur (berbuat baik yang menyenangkan). Budi yang luhur itu bisa menghilangkan rasa takut karena budi yang luhur itu mengalahkan segala macam gangguan antara lain membebaskan orang dari segala macam mara bahaya dan mengalahkan semua musuh. Penjelasannya sebagai di bawah ini.

Terbebaslah orang yang melakukan dharma dari segala mara bahaya, walaupun ia berada di hutan, di tempat yang berbahaya, di jurang, dalam suasana sulit dan kacau, dalam kurungan, di medan perang sekalipun karena perbuatannya yang baik itulah yang melindunginya (Sarasamusccaya seloka 22).

Mengenai kekuatan budi yang luhur ada diungkapkan dalam peribahasa Jawa yaitu: Sura dira jayaning rat lebur dening pangastuti. Artinya Kegagah beranian dan kejayaan di dunia ini dikalahkan oleh keluruhan budi (Majalah Pusara, Juli 1972 hal. 317).

Dalam kitab Boma dan juga disebutkan bahwa untuk memperoleh sifat saleh (berbuat yang benar), dan berbudi luhur (berbuat baik yang menyenangkan) adalah sulit. Penjelasannya sebagai ini. Dalam Kekawin Boma, XXVIII. 16 disebutkan: “Yapwan perak emas manik raja yoga, meman sang krte yan kapangguh, anghing tak eweh ri kanang dadi wwang tan ten kata katemu wanta wisasta sadu” Artinya: Perak, emas, permata perhiasan raja, bila dijumpai oleh mereka yang sudah berhasil mendalami ajaran agama, barang-barang itu menjadi tidak bermanfaat baginya. Tetapi yang sulit bagi seseorang adalah untuk memperoleh sifat yang saleh (berbuat yang benar) dan berbudi luhur (berbuat baik dan menyenangkan). Perbuatan saleh dan berbudi luhur itulah yang disebut bersikap mental positif, yang dalam Gita dinyatakan: “Anudwega karang vakyam sathyam priyahitam cayath”. Artinya: Di dalam berbicara, kata-kata yang dikeluarkan seharusnya tidak menyebabkan rangsangan apapun, harus benar, menyenangkan dan baik artinya.

Perbuatan yang bagaimanakah disebut perbuatan yang benar? Adalah perbuatan yang dikerjakan menurut tugas yang telah ditentukan. Seperti dijelaskan dalam Bhagawadgita, XVIII. 47, bahwa: “Lebih mulia melakukan kewajiban sendiri walaupun tidak sempurna daripada melakukan tugas orang lain kendatipun dengan sempurna, sesungguhnya bila ia melaksanakan tugasnya sendiri sesuai dengan sifatnya, ia tidak berdosa atau perbuatannya itu adalah perbuatan yang benar”.

Kebenaran itu menurut tempat dan waktu. Misalnya seorang ksatria membunuh musuhnya di medan perang ketika perang berlangsung maka ia tidak berdosa. Contoh, Arjuna berperang di Kuruksetra melawan Korawa adalah benar walaupun yang dihadapinya adalah gurunya, Bhagawan Drona, dan Kakeknya, Bhagawan Bhisma. Seandainya perbuatan itu dilakukan di tempatnya berguru atau di rumah melawan Kakeknya, maka itu adalah dosa karena terjadi di luar medan perang.

Perbuatan Yang Bagaimana Disebut Perbuatan baik?

Di dalam kitab Mahabarata, Yudistira menjawab pertanyaan Yaksa dengan jawaban yang menyatakan orang yang baik adalah orang yang suka menolong dan suka menghormati orang lain. Perbuatan yang suka menolong itu harus dilaksanakan dengan rela, tanpa pamrih, bertujuan baik dan tepat sasarannya. Perbuatan yang demikian disebut jasa.

Orang yang menyumbang rumput kering setinggi gunung, jika disertai api sebesar kunang-kunang (tak rela) maka rumput itu akan terbakar habis. Demikian pula sebaliknya bila ada. orang yang menyumbang satu biji beringin yang diberikan dengan rela, jika ditanam maka biji itu akan tumbuh menjadi pohon beringin yang besar dan berdaun rindang sehingga besar artinya bagi orang yang kepanasan. Hal ini ditegaskan pula dalam Bhagawadgita IX. 26 yaitu: Siapapun dengan kesujudan mempersembahkan kepada-Ku, daun, bunga, buah-buahan atau air, persembahan yang didasari cinta kasih dan keluar dari hati yang suci aku akan terima”.

Perkataan dan Perbuatan yang Bagaimanakah yang Disebut Menyenangkan?

Ucapan yang menyenangkan adalah perbuatan yang bersifat menganalisis pendengar. Hal ini terdapat dalam kitab Nitisastra dan Ramayana. Dalam Nitisastra 1.4 disebutkan: Orang terkemuka harus bisa mengambil hati dan menyenangkan hati orang lain, jika berkumpul dengan wanita harus dapat mempergunakan kata-kata yang manis yang menimbulkan rasa cinta, jika berkumpul dengan pendeta harus dapat membicarakan pelajaran-pelajaran yang baik, jika berhadapan dengan musuh harus dapat mengatakan kata-kata yang menyatakan keberanian seperti seekor Singa.

Perkataan atau perbuatan yang menyenangkan itu harus bersifat sebagai pohon cendana atau pohon tebu. Pohon cendana memberikan bau harumnya kepada siapa saja, bahkan kepada kapak pun yang membinasakan cendana itu kebagian bau harum juga. Pohon tebu bersifat makin diperas pohon tebu itu makin banyak ia mengeluarkan rasa manis, yang berarti kebencian dibalas dengan kasih sayang.

Dalam kitab Ramayana disebutkan, “Inakang bhuana kabeh ya ta don nira nimitang jadma” (membuat masyarakat senang, itulah tujuan kita menjelma ke dunia). Perkataan yang bersifat menyenangkan yaitu kata yang bernilai rasa baik, misalnya orang kurus kering disebut orang yang langsing.

Empu Sedah yang menyusun kitab Bharata Yuda adalah pengarang pada istana Raja Jayabaya, dibunuh oleh Raja Jayabaya karena dalam cerita Bharata Yuda, Empu Sedang menceritakan kecantikan Dewa Setiawati, istri Salya, kecantikannya tak ada yang memadainya. Empu Sedah lupa menceritakan bahwa istri Jayabaya jauh lebih cantik dari pada Dewi Setiawati. Kekeliruan ini menyebabkan Raja Jayabaya tidak sedang terhadap perbuatan Empu Sedah itu.

Akhirnya Empu Sedah dibunuh oleh Raja Jayabaya dan cerita Bharata Yuda dilanjutkan ceritranya olem Empu Panuluh dimulai setelah meninggalnya sampai cerita itu selesai. Demikian pula Ni Diah Tantri dikawini oleh Raja Eswarya Dala, setelah dihibur oleh Ni Diah Tantri dengan cerita seribu satu malam. Agar kita bisa menyenangkan orang lain maka sikap kita harus manusiawi untuk bisa hidup harmonis saling harga menghargai. Supaya hal itu bisa terlaksana, kitab Manawa Dharmasastra III. 80 ada memberikan petunjuk. “Kepada para Rsi, kepada para leluhur, kepada dewa-dewa, kepada makhluk, dan kepada para tamu, kepada para rumah tangga oleh mereka yang mengetahui hendaknya dapat memberi kepada mereka sesuai dengan kebutuhannya”.

Berdasarkan hal tersebut di atas maka yang terpenting dalam mewujudkan rasa manusiawi itu adalah pada pelaksanaan athiti yadnya, yaitu berkorban kepadfa tamu yang datang ke rumah kita. Tamu itu tidak boleh diusir dan dicaci maki karena bertentangan dengan moral dan ketentuan yang terdapat dalam ajaran Agama Hindu. Terimalah dengan hormat dan dengan tegur sapa yang hormat pula.

Mengenai hal ini lebih lanjut dikemukakan dalam kitab Manawa Dharmasastra III, 99 yang menyebutkan. “Hendaknya ia memberikan sesuatu dengan peraturan kepada tetamu yang datang tiba-tiba. Berikanlah tempat duduk, air dan juga makanan dengan lauk pauknya sesuai dengan kemampuan. Jadi tamu yang kita terima hendaknya jangan kecewa dan cara penerimaan kita harus sopan, dengan mempergunakan gaya bahasa litotes, karena seorang tamu akan merasa lebih senang disambut oleh seorang tuan rumah yang miskin, tinggal di gubuk yang reyot dengan muka manis dan berkata dengan tersenyum simpul (memikat) dari pada disambut oleh seorang tuan rumah yang kaya, tinggal di sebuah gedung dengan muka muram dan kening berkerut yang mengakibatkan sang tamu merasa seolah-olah duduk di atas bara di dalam rumah tersebut. Kesimpulannya yaitu: Bersikap mental positif adalah Konsep Hindu Melenyapkan Rasa Takut.

Sumber
Google Images
Youtube



Semoga dapat bermanfaat untuk semeton. Mohon dikoreksi bersama jika ada tulisan/makna yang kurang tepat. Suksma…
2018-02-13T08:02:50+00:00