ga('require', 'GTM-KFB5FMD'); Memahami akan Kehadiran Bhuta Kala - Juru Sapuh

Memahami Kehadiran Bhuta Kala

//Memahami Kehadiran Bhuta Kala

Hano Bhadrah Krawato Yantu Wiswatah
“Semoga pikiran mulia datang dari segala penjuru”

Bhuta Kala sebutan yang diberikan pada sosok mahluk jahat dengan wujud wajah menyeramkan, galak dan muncul sebagai makhluk penggoda. Menghuni tempat-tempat yang angker kuburan, jurang dan pohon-pohon besar, demikian juga tempat yang tidak Pernah dijamah atau bangunan yang telah lama ditinggalkan manusia adalah rumahnya. Banyak legenda mengisahkan bhuta kala yang dihubungkan dengan kehidupan manusia bahkan juga kehidupan para dewa. Beberapa dari legenda tersebut mengilhami terjadinya suatu tempat, nama suatu daerah dan ritual sebuah upacara sakral. Sebut saja salah satunya upacara potong gigi yang sumber ceritanya diambil dari kisah Bathara Kala yang ingin bertemu kedua orang tuanya yaitu Bathara Siwa dan Bathari Uma Parwati. Kisah ini sangat melekat dikalangan masyarakat dan menjadi tradisi bahwa setiap orang melakukan upacara potong gigi semasa hidupnya, terlebih lagi bagi mereka yang ingin mendalami ajaran agama. Sorga pun tidak dapat dicapai bila orang yang mati belum pernah melakukan ritual potong gigi semasa hidupnya (?) yang lebih akrab disebut sebagai Upacara Mepandes.

Bhuta Kala Lahir dari Dewata Luhur

Bhatara Kala adalah putra Siwa, Ia harus memotong taringnya bila ingin menjumpai kedua orang tuanya. Demikian juga Ratu Gede Mecaling yang bersemayam di Pura Dalem Peed disebut-debut sebagai putra Siwa dan bertugas menjaga Pulau Bali. Beliau menjadi dewanya para makhluk halus di Nusantara.

“…… nah nah mangkin retuning kala yadin retuning gring yadining kala wengi yadin retuning sebala-bala. Bhatara retune ento maharani batara Maejaya Crangcang Kawat, batarane makasami, sane ngambel pepatih ide Batharane mawesengan Ngurah Caling ring Nusa. I Ngurah Mucaling malih madue papatih 3 mawesengan l Kala Barong, l Kala Blingking, l Kala O ….”
(Babad Hindi Gobed 67a)

Bhatara Kala adalah putra Siwa, Ia harus memotong taringnya bila ingin menjumpai kedua orang tuanya. Demikian juga Ratu Gede Mecaling yang bersemayam di Pura Dalem Peed disebut-debut sebagai putra Siwa dan bertugas menjaga Pulau Bali. Beliau menjadi dewanya para makhluk halus di Nusantara.

“…… nah nah mangkin retuning kala yadin retuning gring yadining kala wengi yadin retuning sebala-bala. Bhatara retune ento maharani batara Maejaya Crangcang Kawat, batarane makasami, sane ngambel pepatih ide Batharane mawesengan Ngurah Caling ring Nusa. I Ngurah Mucaling malih madue papatih 3 mawesengan l Kala Barong, l Kala Blingking, l Kala O ….”
(Babad Hindi Gobed 67a)

“O Kepribadian yang berlengan perkasa, semua planet dengan dewa-dewanya goyah ketika melihat bentuk Anda Yang Maha Agung, dengan banyak muka, mata, lengan, paha, kaki dan perutnya dan banyak gigi Anda yang mengerikan; karena itu, mereka goyah dan hamba juga goyah.”
(Sloka 11.23)

“Semua putera Dhrtarastra, bersama raja-raja yang bersekutu dengan mereka, Bisma, Drona, karna dan semua pemimpin kesatria di pihak kita lari masuk kedalam mulut-mulut Anda yang mengerikan. Hamba melihat beberapa diantaranya tersangkut dengan kepala-kepala hancur di antara gigi-gigi Anda”.
(Sloka 11.26-27)

Umat Hindu di Bali banyak dipengaruhi faham atau Filsafat dari Siwa Sidhanta dan Sakti-isme sehingga tak heran hampir setiap Pura di Bali memiliki pratima-pratima dalam wujud cakti kroda. Wujud Barong, Ratu Ayu, Ratu Niang/Nini, Ratu Gede, Ratu Jero Wayan adalah yang paling populer selain itu ada juga berbagai macam tapel dari wujud binatang sampai pada wujud raksasa. Bentuk dan wajah yang menyeramkan ini dipuja guna memperoleh perlindungan dan sifat-sifat jahat itu sendiri.

Bhuta Kala mendapat perlakuan istimewa

Hindu memandang Bhuta Kala ataupun makhluk jahat yang lain bukan sebagai unsur kejahatan mutlak, bukan sebagai musuh, atau sesuatu yang seharusnya tak ada diantara manusia dan Tuhan, melainkan bagian dari rangkaian penciptaan yang lahir dari Sang Pencipta sendiri. Tanpa kehadiran mereka tidak akan ada yang disebut sebagai kebaikan. Para Awathara mampu menegakkan kebenaran dengan menundukkan para raksasa dan Bhuta Kala. Intisari dari peperangan mererka terpetik menjadi pengetahuan dan tata tertib bagi manusia Hindu. Dapat kita jumpai sekian banyak kisah terkumpul membentuk sekian banyak tuntunan atau sebagai titi pengancan ri kala hidup.

Sebagai contohnya Dasa Purana, Maha Barata dan Ramayana. Bagaimana kalau kekuatan jahat itu tidak ada? Mungkin alam yang kita pijak sekarang ini bukanlah bernama bumi, Disinilah tempat keberadaannya semua Tatwa termasuk Rwa Bineda sebagai dua perbedaan yang tetap seimbang. Namun ada hal lebih besar yang tersirat disini bahwa kebenaran (Dharma, pengetahuan) akan selalu lebih unggul dari kejahatan (Adharma, kegelapan). “Satyam eva jayate na nrtam”.

Sungguh merupakan suatu kehormatan bagi mereka, dilain pihak (agama) mereka dicaci, dihina dan terusir. Beberapa diantaranya berpendapat bahwa cerita tentang kehadiran mereka hanya membawa kekacauan, menjauhkan manusia dari Tuhan dan merupakan awal kehancuran bagi kehidupan manusia. Ada juga yang mengelompok-ngelompokkan mereka berdasarkan ketaatan mereka terhadap Tuhan. Setan adalah yang paling menakutkan dan yang paling diwaspadai, sedangkan Jin ada yang baik dan ada pula yang jahat. Setiap bentuk yang menyeramkan tersebut merupakan simbul dari kejahatan. Sebagian lagi menyatakan perang dengan makhluk tersebut!! Peperangan ini lahir ketika makhluk-makhluk itu menganggap dirinya lebih tinggi dari manusia karena terbentuk dari unsur api sedangkan manusia terbentuk dari unsur tanah.

Umat Hindu sendiri pada saat melaksanakan rangkaian upacara apapun, baik kecil maupun besar selalu menghadirkan atau mengundang para Bhuta Kala untuk hadir dalam upacara yadnya. Termasuk saat melaksanakan upacara Dewa Yadnya yaitu suatu persembahan yang ditujukan kehadapan para dewa. Bhuta Kala juga diundang untuk diberi sesajen dan setelah mereka menikmatinya diharapkan untuk tidak mengganggu proses dan jalannya upacara yadnya. Tuak, arak, berem dan air kelapa adalah minumannya. Nasi dengan bermacam warna dan tulang-belulang dari berbagai jenis hewan adalah santapannya. Mereka diundang dari segala penjuru dimulai dari Purwa (Timur) kemudian memutar kekin sampai pada yang ditengah dikumpulkan dalam satu jamuan.

Dalam melaksanakan upacara yadnya, kita mengundang dan mengajak para bhuta kala untuk bersama-sama menyukseskan upacara yadnya. Pada proses pelaksanaan upacara yadnya, Bhuta kala diundang untuk diberikan sesajen kemudian diadakan proses nyomia kala oleh manggala upacara dengan mantra. “…… Om ngulun ngadegang Hyang Batara Guru ngetuang Tirta Panglukatan. Lukat sahananing Bhuta Dengen anadi Kala, Kala lukat menadi Durga, Durga lukat mulih ring Siwa…” jadi yang mereka temukan saat pelaksanaan yadnya bukan hanya santapan yang enak tetapi juga penglukatan bagi mereka untuk menemukan sifat sejatinya yang selama ini ditutupi kegelapan (Awidya). Sifat sejati sebagai kemuliaan dan terlahir dan Brahman. Kegelapan tersebutlah yang selama ini membuat mereka lupa dan melakukan kejahatan (Adharma).

“Svarupavastithirmiktih tad Bhramso’hamtva vedanam”
Kebebasan sejati berada dalam atma tetapi karena keakuan menjadi terjatuh dan kebenaran
(Maha Up. v.2)

“Sumulo esa parisusyati yo’ nrtam abivadati”
Ia akan jatuh dan akar kebenaran yang hidupnya diliputi kejahatan
(Pras. Up. VI.l.)

Satu hal lagi yang unik yaitu rasa bersahabat yang diberikan dan ditunjukkan oleh orang-orang Hindu kepada mereka para Bhuta Kala, dimana setiap pagi seusai kita memasak, kita memberikan persembahan rutin dalam wujud Yadnya Sesa (memberikan nasi jotan). Selain sajian tersebut dipersembahkan kepada para dewa dan leluhur, para buta kala juga mendapatkan sajian yang sama. Jika kita tidak melakukan hal sedemikian kitalah dikatakan sebagai Kala.

Hindu punya etika dalam setiap pendekatan terhadap Yang Maha Kuasa dan terhadap seluruh ciptaan Beliau. Ini terlihat dari sikap tangan saat melakukan puja pada proses yadnya. Sikap sembah untuk memuja Tuhan/Hyang Widhi dengan sikap kedua tangan tercakup dan ujung ibu jari menyentuh kening atau lokasi mata ketiga. Sikap sembah untuk para dewa dengan menaruh cakupan tangan dimana ujung jari telunjuk menyentuh kening. Untuk para leluhur posisi ujung jari menyentuh ujung hidung dan untuk memberi salam pada sesama manusia posisi tangan ada di hulu hati, namun untuk makhluk yang lebih rendah termasuk Bhuta Kala posisi tangan ada di pusar dengan ujung jari menghadap kebawah.

Semua yang kita lakukan ini ada landasan Filosofinya dari sastra Weda sendiri. Bukan sakadar ritual yang tak beralasan dan yang bersifat sia-sia. Bukan suatu ketakutan dari orang-orang Hindu terhadap kekuatan Bhuta kala apalagi untuk menduakan Tuhan.

Bhuta Kala menguasai dimensi alam yang berbeda dengan alam manusia dimana sewaktu-waktu kedua alam tersebut bisa bersentuhan. Hal ini kita kenal dengan waktu Sandhi Kala yaitu pertemuan dua waktu yang diukur dari posisi atau intensitas matahari menyinari bumi dan terbagi menjadi tiga waktu yang terdiri dari pagi hari, siang (tajeg Surya) dan sore hari. Pada ketiga waktu ini diharapkan kita melakukan doa dan mengkonsentrasikan pikiran kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Raja Pengetahuan dengan mengucapkan Gayatri Mantram dan Mantra Astawa lainnya guna memperoleh pencerahan rohani dan kecemerlangan pikiran. Kegiatan inilah yang kita kemudian sebut sebagai sembahyang Tri Sandhya/ sembahyang tiga waktu.

Buta Kala Teman Manusia Lahir

Dalam tutur kekandaan yaitu Kandha Phat, kita mengenal bahwa manusia lahir tidak sendiri akan tetapi ditemani empat saudaranya. Mereka menjaga sang bayi dan ikut berevolusi baik bentuk maupun sebutan namanya. Mulai dari bayi dalam kandungan, saat lahir serta tumbuh jadi dewasa, saat manusia mengalami masa tua, bahkan pada saat kematian manusia ditemani oleh keempat saudaranya itu. Tingkatan tersebut melalui tujuh tahapan atau tujuh perubahan. Kandha yang pertama dimulai dari Kandha Phat Butha, Kandha Phat Rare, Kandha Phat Sari. Jika kita merenungkan pada tingkatan Kandha Phat Dewa, kita mendapati keempat saudara kita yang sudah “berubah” dari tingkat Bhuta ke tingkat Dewa yaitu sebagai empat Dewa yang menguasai empat penjuru mata angin yang disebut sebagai Iswara, Brahma, Mahadewa dan Wisnu. Sedangkan roh yaitu Sang Diri Sejati yang mengandung pengetahuan, kebenaran dan kebahagiaan sebagai identik dengan Siwa.

“Jivas siwah, siwo jiwah sa jivah kevala sivah tusena baddho vrihih syath bhawena tandulam”
Jiwa adalah siwa, Siwa adalah Jiwa, sungguhnya jiwa itu adalah Siwa yang esa. Seperti beras dibungkus kulit ari, padi bebas dan kulit ari adalah beras.
(Skanda. Up. 6.)

Beberapa dari kitab Usadha, Tatwa dan Purana menyebutkan bahwa dalam tubuh manusia bersemayam Roh Agung dan alam semesta yang luas serta beragam ini juga dapat kita temukan dalam diri kita sendiri seperti yang tertulis dalam kitab Bhuana Kosa dan Tatwa Jnana. Seluruh Dewa yang bersemayan dilangit di bumi dan didasar bumi juga kita temukan dalam diri, sebab tubuh juga merupakan sebuah pura dimana sang Pencipta dan seluruh ciptaan ada dalam diri manusia. Namun ada tambahan pembatas (upadhi) yang menyebabkan manusia lupa pada jati dirinya. Apalagi bila yang bersangkutan tidak mempertajam bathin dan membentengi diri dengan memperdalam ajaran agama maka akan timbul kegelapan (bhuta) dalam pikiran manusia. Kedua unsur Dewa dan Bhuta sebagai lambang kebaikan dan keburukan atau keadaan sadar (jnana) dan keadaan lupa (aividya) ini bercampur dalam diri manusia sehingga ada ungkapan “Manusa; Dewa ya, Bhuta ya.” Tinggal sekarang bercermin sebagai apakah diri kita?.

Sumber:
PHDI



Semoga dapat bermanfaat untuk semeton. Mohon dikoreksi bersama jika ada tulisan/makna yang kurang tepat. Suksma…
2017-12-13T09:00:15+00:00