Merespon Satyam Siwam Sundaram




Merespon Satyam Siwam Sundaram

Styam brhad rtam ugram diksa
Tapo brahma yajna prthivim dharayanti
Artinya:
‘Sesungguhnya, satya, rta, diksa, tapa, brahma, dan yajna adalah tiang penyangga tegaknya dunia’
(Atharvaveda, XII. 1.1)

Satya (kebenaran)
rta (tertib semesta)
diksa (kesucian)
tapa (pengendalian diri)
brahma (pemujaan)
yajna (persembahan, pelayanan)

adalah enam prinsip ajaran Hindu yang harus dilaksanakan demi tegaknya dunia. Keenam prinsip tersebut menurut hemat saya dapat disederhanakan menjadi tiga, yakni kebenaran (satyam, sat), kesucian (siwam, cit), dan keindahan atau kebahagiaan (sundaram, ananda). Satyam di dalamnya mencakup prinsip satya dan rta, siwam mencakup prinsip diksa dan tapa, sedangkan sundaram mencakup prinsip brahma dan yadnya. Ketiga aspek inilah yang bertransformasi menjadi tiga kerangka agama Hindu (tattwa, susila, dan acara) sebagai satu kesatuan yang saling menopang dan mendukung satu sama lain.

Tattwa secara leksikal berarti ‘ke-Itu-an’ atau ‘kebenaranlah Itu’. Isinya adalah pernyataan-pernyataan teologis-metafisis-filosofis mengenai hakikat kebenaran (satya) dan tertib semesta (rta). Teks-teks Weda dan Upanisad sebagai rujukan utama filsafat Hindu dan trans-formasinya ke dalam teks-teks tattwa menguraikan secara luas dan mendalam hakikat Brahman, yakni Kebenaran Tertinggi, Mutlak, dan satu-satunya. Di samping itu, juga hakikat alam semesta dan hukum-hukumnya menjadi topik bahasan utama dalam teks-teks tersebut.

Terlepas dari perdebatan filosofis para pemikir Wedanta dalam memahami hakikat Brahman, alam semesta, dan hubungan an-tara keduanya, tampaknya sudah cukup terang-benderang bahwa satya dan rta merupakan prinsip utama yang mendasari ajaran tattwa. Salah satunya misalnya, Siwatattwa yang dianut dan dipercaya para penganut Saiwaisme secara tegas menguraikan prinsip-prinsip tattwa mengenai Paramasiwa (yang identik dengan Brahman) dan evolusinya menjadi alam semesta beserta segala isinya (bhuwana agung dan bhuwana alit).

Prinsip evolusi dalam teks-teks Siwatattwa menjelaskan terjadinya evolusi kesadaran ‘Sang Diri’ (atman) yang hakikatnya sama dengan Paramatman (Brahman) akibat pengaruh mayatattwa. Untuk mengembalikan kesejatian Sang Diri (matutur ikang atma rijatinya), maka penyucian diri (diksa) harus dilakukan secara terus-menerus. Konsep diksa sebagian dipahami sebagai ritual inisiasi menjadi orang suci, tetapi lebih luas daripada itu juga dipahami sebagai penyucian pikiran, perkataan, dan perbuatan (tri kaya parisudha).

Mengingat penyucian diri bertalian erat dengan institusi batin (mahat, budhi, ahamkara), aktivitas pikiran (manah), dan indera (indriya) sehingga pendalian diri (tapa) menjadi kunci keberhasilannya. Diksa dan tapa inilah yang mendasari seluruh ajaran susila agama Hindu dalam rangka mencapai kesucian diri (siwam). Hanya dengan jiwa yang suci sajalah, Sang Diri dapat menemukan kembali kemurniannya dan menyatu kembali dengan Paramatman, hakikat Kebenaran Tertinggi.

Selanjutnya, hubungan Brahman dengan alam semesta (bhuwana agung) dijelaskan sebagaimana hubungan antara jiwa dan badan. Brahman disebut Jiwa Semesta, sedangkan alam ini adalah badannya. Teks-teks Weda menguraikan emanasi Kebenaran Tertinggi (brahman) ke dalam manifes-manifes suci (dewa). Ia disebut Prajapati (Penguasa Dunia) baik Dunia Materi maupun Dunia Rohani Ia adalah satu-satunya dan para dewa adalah perwujudan dari Yang Satu itu. Prajapati adalah Sang Rtawan, yakni pencipta, penguasa, dan pengendali tertib semesta (rta).



Ajaran Siwaistis merangkum seluruh proses ini dalam wujud simbolis Siwa Nataraja (Siwa Sang Penari Kosmis) yang senantiasa bergerak aktif dan dinamis dalam penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan alam semesta. Siwa Nataraja juga menjadi hakikat keindahan (sundaram). Melalui api suci pemujaan (brahmagni) dan siklus yajna (cakrayadnya) tertib semesta akan terjaga terus-menerus sehingga kebahagiaan hidup akan terwujud. Transformasi filosofis-etis ke tataran kosmologis-estetis inilah yang mendasari seluruh prinsip pemujaan (brahma) dan persembahan dan/atau pelayanan (yajna) dalam ajaran agama Hindu.

Satyam-Siwam-Sundaram adalah wajah ketuhanan Siwa (‘trikona’, ‘trisula’) yang merangkum seluruh prinsip ajaran Hindu. Refleksivitas atas ketiga aspek tersebut adalah bagaimana menjadikannya trisula atau senjata untuk menghilangkan berbagai problematika hidup dan kehidupan. Agama Hindu bukan hanya sekumpulan doktrin ajaran, melainkan jalan hidup (way of life) yang akan menuntun dan mengarahkan manusia pada kebahagiaan hidup tertinggi, yakni atmanam moksartham jagadhitaya ca iti dharma (‘Diri yang sejahtera dan bahagia berlandaskan dharma’). Artinya, ketiga aspek tersebut sepatutnya ditranformasikan menjadi tiga jalan hidup, yaitu hidup benar, suci, dan indah. Hidup benar mensyaratkan ketaatan pada prinsip-prinsip kebenaran (satya) dan ketundukan pada tertib semesta (rta).

Hidup baik dibangun dengan menjaga kesucian diri, baik dalam pikiran, perkataan, maupun perbuatan (diksa) dan tetap teguh dalam pe-ngendalian diri (tapa). Sementara itu, hidup indah diwujudkan dengan memperdalam rasa syukur atas segala anugerah Tuhan melalui pemujaan (brahma), serta menjadikan seluruh aktivitas kehidupan sebagai persem-bahan dan/atau pelayanan (yajna) kepada Tuhan, alam semesta, dan semua makhluk.

Ketiga jalan hidup inilah yang perlu direspons dalam kehidupan praksis umat Hindu, terlebih lagi dalam dunia-kehidupan modern, di mana pluralitas nilai dan perubahan gaya hidup telah mendominasi kedirian manusia. Ketidak-berartian dan keterasingan diri yang melanda manusia modern tentu tidak lepas dari kegagalannya dalam memahami hakikat kebenaran, kesucian, dan keindahan. Kebenaran yang semata-mata bertumpu pada prinsip-prinsip rasio hanya akan menumbuh-suburkan ego intelektual dan semakin melemahkan kualitas moral manusia.

Tak ayal, kesucian pun hanya menjadi atribut dan performance yang giat ditransaksikan dalam ruang publik. Begitujuga dengan keindahan, ia sekadar menjadi arena pertunjukan libido seksual dan kekuasaan yang hanya dapat memuaskan indera, tetapi tidak pernah membahagiakan batin manusia.

Dalam kondisi semacam ini, hadirnya kembali spirit agama mendapatkan makna pentingnya agar manusia tidak semakin jauh terseret dalam arus maya (‘kepalsuan’) yang kian dahsyat. Sosialiasi, internalisasi, dan eksternalisasi – meminjam istilah Peter L. Berger – nilai satyam, siwam, sundaram kiranya perlu dilakukan secara terus-menerus dalam diri umat Hindu. Sosialisasi membangun pengetahuan dan pemahaman, internalisasi membentuk sikap keagamaan, dan eksternalisasi mengarahkan perilaku umat Hindu. Artinya, ketiga proses ini menyasar dimensi intelektual, moral-spiritual, dan sosial dalam aktualisasi praksis keberagamaan umat Hindu. Mengingat proses ini bertalian erat dengan pembentukan kecerdasan (quotions) sehingga langkah utama dan strategis yang perlu segera digarap adalah menjadikan umat Hindu sebagai insan pembelajar (brahmacarin).

Enam model pembelajaran ‘tradisional’ Hindu (saddharma), yaitu dharmawacana (‘ceramah agama’), dharmathula (‘diskusi agama’), dharmagita (‘seni keagamaan’), dharmayatra (‘perjalanan suci keagamaan’), dharmasadhana (‘praktik agama’), dan dharmasanti (‘perkumpulan keagamaan’) tampaknya masih cukup relevan untuk dikembangkan dengan modifikasi-adaptif sesuai situasi dan kondisi kekinian. Dharma wacana dan dharma thula adalah media pembelajaran untuk membangun pengetahuan dan pemahaman umat Hindu terhadap ajaran agamanya. Dharmagita dan dharmayatra, penting dikembangkan sebagai media untuk membangun sikap keagamaan umat Hindu. Begitu juga dharmasadhana dan dharmasanti penting dikembangkan untuk membentuk perilaku keagamaan umat Hindu, baik secara individual maupun sosial.

Kiranya, langkah-langkah ini-lah yang perlu direspons oleh seluruh elemen umat Hindu dan lembaga keagamaan Hindu memegang peranan penting untuk mewujudkannya, sesuai dengan swadharma yang diamanahkan. Dengan spirit satyam-siwam-sundaram niscaya eksistensi Hindu akan terus mewarnai perjalanan bangsa ini, walaupun secara kuantitatif adalah minoritas. “Jiwa hanya satu, tetapi materi banyak. Eksistensi tergantung dan terikat padajiwa, sehingga jiwalah yang perlu dibangun. Hindu itu kecil dan kecil itu indah, jika dan hanya jika, ia menjiwai yang besar.” Rahayu!

Sumber:
Nanang Sutrisno
Google Images



Semoga dapat bermanfaat untuk semeton. Mohon dikoreksi bersama jika ada tulisan/makna yang kurang tepat. Suksma…

2017-12-13T08:36:08+00:00