Pahala Kesetiaan Suami Istri dalam Ikatan Perkawinan

//Pahala Kesetiaan Suami Istri dalam Ikatan Perkawinan



Pahala Kesetiaan Suami Istri dalam Ikatan Perkawinan

Anyonyasyawyabhicaro esa dharmah samasena jneyah stripumsayoh parah.

“Hendaknya supaya hubungan yang setia berlangsung sampai mati”
singkatnya, ia harus dianggap sebagai hukum yang tertinggi
bagi suami dan istri. (Manawadharmasastra IX. 101)

Perkawinan ialah : ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yangbahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (UU No. 1 tahun 1974).

Hal ini menunjukkan bahwa apabila perkawinan itu telah terjadi dan dilaksanakan semestinya harus terjadi ikatan lahir bathin antara suami dan istri demi tercapainya keluarga yangbahagia dan sejahtra. Berumah tangga bukanlah semata-mata hanya untuk tempat berkumpulnya suami istri dalam suatu rumah hanya untuk makan dan minum, tetapi tujuan utama dari berumah tangga adalah terbinanya ketenangan lahir bathin, tempat suami istri mencurahkah isi hatinya sehingga tercapailah kebahagiaan dan kesejahteraan.

Suami istri yang tidak mendapat ketentraman dan kedamaian dalam rumah tangganya, cenderung akan mencari hiburan ke tempat-tempat lain yang kadang-kadang dapat menyusahkan orang sekitarnya dan dapat menjadi penyebab keributan dan kegelisahan masyarakat sekitarnya. Dalam memenuhi tuntunan supaya bisa hidup tenang dan damai, masing-masing harus memperhatikan kebutuhan dan keinginan suami atau istrinya. Keduanya harus dapat saling mengerti dan berusaha untuk dapat memahami latar belakang hati dan jiwa masing-masing, sehingga tidak ada yang merasa tertekan dan menderita. Apabila hal ini terjadi akan dapat menyebabkan ketidak-harmonisan dalam hidup berumah tangga. Apakah kita tidak pernah menyadari bahwa secara umum perkawinan dapat berlangsung karena telah terjadi kesepakatan antara seorang pria dengan seorang wanita yang diawali dengan adanya 3 P (Perkawinan, pacaran dan pertunangan) sehingga terjadi pernikahan tersebut? Jika kita ingat dan sadar bahwa perkawinan adalah merupakan suatu anugrah dari Ida Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa), maka yakinlah bahwa tidak akan ada perceraian di belahang dunia ini. Sebenarnya betapa hinanya hati dan pikiran orang-orang yang merencanakan dan memutuskan untuk bercerai dengan suami atau istrinya karena pahala yang akan diterima, baik dalam kehidupan ini dan kehidupan yang akan datang akan sangat menyakitkan.

Ajaran Agama Hindu sama sekali melarang adanya perceraian tersebut bahkan menekan agar bilamana perkawinan telah terlaksana harus dapat dijaga dan dipupuk dengan sungguh-sungguh sebagaimana diungkapkan dalam kitab Manawadharmasastra, yaitu sebagai berikut:

Tatha nityam yateyatam
stripumsan tu kritakriyan,
yatha nabhicaretam tan
wiyuktamtaretaram
Artinya:
Hendaknya laki-laki dan perempuan terikat dalam ikatan perkawinan, jvnengusahakan dengan tidak jemu-^^munya supaya mereka tidak bercerai dan jangan hendak melanggar kesetiaan antara satu dengan yang lain (MDS. IX. 102)

Pahala kesetiaan suami/istri dalam perkawinan

Tujuan perkawinan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dilihat dari tujuan perkawinan tersebut, dimana setiap perkawinan menghendaki adanya keluarga yang bahagia dan kekal. Namun realita di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua rumah tangga dapat membentuk keluarga yang kekal dan sejahtra. Banyak sekali pasangan keluarga yang tidak berusaha memahami istri atau suaminya, kurang percaya mempercayai, kurang terbuka bahkan sering menyembunyikan hal-hal yang semestinya tidak perlu disembunyikan. Padahal langgeng atau retaknya hubungan keluarga sangat tergantung pada kepercayaan dan keyakinan bahwa tidak ada sesuatu yang perlu diragukan, disembunyikan atau dicurigai. Semestinya pasangan suami istri harus saling terbuka kepada masing-masing pihak dan harus dapat saling menghargai dan saling hormat-menghormati. Hal ini sangat penting dalam kehidupan berumah tangga baik secara lahiriah maupun spiritual. Hal ini sejalan dengan sloka yang diungkapkan dalam kitab Manawadharmasastra sebagai berikut :

Yatra naryastu pujyante
ramante tatra dewatah
yatraitastu na pujyante
sarwastlah ksiyah
Artinya:
Dimana wanita dihormati, disana para Dewa-dewa merasa senang, tetapi dimana mereka tidak dihormati, tidak ada upacara suci apapun yang akan berpahala.
(MDS III. 56)

Hal serupa juga diungkapkan pada sloka lain sebagai berikut:

Patim ya nabhicarati
Manowagdeha samyata,
Sa bhartri lokanapnoti
Aadbhih sadhwiti cocyate
Artinya:
Wanita yang mengendalikan pikiran, perkataan dan perbuatan tidak melanggar kewajibannya terhadap suaminya akan memperoleh tempat tinggal di sorga setelah meninggal, dan di dunia ini disebut sadhwi, istri yang baik dan setia. (MDS IX. 29)

Demikianlah ajaran Agama Hindu memberikan pedoman untuk dapat menciptakan suasana rumah tangga yang sejahtra baik lahir maupun bathin tanpa gangguan dan rintangan yang menghalangi dalam usaha untuk memperoleh keluarga yang kekal dan abadi.

Semestinya pasangan suami istri harus dapat menjaga hubungan yang telah dibinanya karena kesejahteraan yang kekal akan dapat terwujud bilamana telah ada keserasian antara suami dan istri serta dapat menerima apa adanya. Di dalam kitab Manawadharmasastra III. 60 dinyatakan:

Samtusto bharyaya bharta
bhartra tathaiwa ca,
yasminnewa kule nityam
kalyanam tatra wai dhruwam
Artinya:
Pada keluarga dimana suami berbahagia dengan istrinya dan demikian pula sang istri terhadap suami, kebahagiaan pasti kekal.

Oleh karena itu bagimanapun rupa dan wajah kehidupan yang kita alami dalam mahligai rumah tangga semestinya baru disyukuri dan berterima kasih kehadapan Ida Sanghyang Widdhi Wasa, karena tidak semua orang yang dilahirkan sebagai manusia dapat menemukan jodohnya dalam kehidupan ini. Rasa syukurlah yang dapat menyebabkan penderitaan menjadi kedamaian terlebih-lebih dalam kehidupan berkeluarga. Janganlah kita mengharapkan perceraian walaupun hanya dalam pikiran terlebih-lebih disebabkan oleh karena memiliki istri yang lugu atau mempunyai suami yang miskin. Bila perceraian terjadi hanya karena hal tersebut, niscayalah bahwa kehidupan kita berikutnya akan penuh dengan penderitaan sebagaimana dinyatakan dalam kitab Parasara Dharmasastra sebagai berikut:

Adusta patitam bharyyam yauvane
yah parityajet,
sapta janma  bhavet stritvam
vaidhavyam ca punah punah.
Artinya:
Ia yang meninggalkan seorang istri yang lugu murni pada masa mudanya, pada waktu tujuh penjelmaan berikutnya pasti dijadikan wanita yang menderita kepedihan manjanda pada masing-masing penjelmaan tersebut (Parasara Dharmasastra IV. 15)

Sedangkan dalam sloka berikutnya dinyatakan:

Daridram vyadhitam murkham
bharttaram ya na manyate,
sa mrta jayate vyali vaidhy’am ca
punah punah
Artinya:
Ia yang meremehkan suaminya karena kemiskinan dan kebodohannya dilahirkan sebagai seekor ular betina pada kelahiran berikutnya, yang disiksa dengan kesulitan hidup menjanda bahkan pada penjelmaan yar penuh kebencian semacam it (Parasara Dharmasastra IV. 16)

Berpijak pada kedua sloka di atas, semestinya pasangan suami istri dapat menjaga kesetiaan sampai akhir hayatnya karena bilamana seorang istri dapat menjaga kesetiaannya ia akan disatukan kembali dan hidup menikmati kebahagiaan bersama suaminya dialam sorga sebagaimana dinyatakan dalam kitab Parasara Dharmasastra sebagai berikut:

Vyalagrahi yatha vyalam
Biladuddharate balat,
Evam uddhrtya bharttaram tena iva
Sahe modate
Artinya: Seperti seorang pawang ular yang secara paksa menarik ular dari liangnya, demikian pula seorang istri yang mengikuti kematian suaminya, rohnya yang dalam kegelapan diangkat dari jurang neraka yang sangat dalam dan menikmati kebahagiaan berkumpul di sorga (Parasara Dharmasastra IV. 29)

Demikianlah pahala kesetiaan sepasang suami istri yang dapat mempertahankan kesetiaannya sampai akhir hayatnya.

Sumber
Google Images
Youtube



Semoga dapat bermanfaat untuk semeton. Mohon dikoreksi bersama jika ada tulisan/makna yang kurang tepat. Suksma…

2018-03-02T06:55:31+00:00