Pemujaan dan Persembahyangan

//Pemujaan dan Persembahyangan

Pemujaan dan Persembahyangan

Mengamati hiruk-pikuk sementara umat beragama belakangan ini, dimana ada yang mengaku dan mengklaim diri sebagai Nabi yang kemudian didakwa sebagai penganut aliran sesat, ada majelis umat yang menjatuhkan fatwa bersalah dan pelarangan bagi yang bersembahyang menggunakan bahasa Indonesia, dan entah apa lagi nantinya, tidaklah terlalu aneh bila itu memunculkan pertanyaan di benak tak sedikit orang tentang : Apakah sesungguhnya pemujaan atau persembahyangan itu ?; Mengapa bersembahyang harus begini atau begitu, harus merujuk kitab ini ataupun kitab itu, dan yang serba harus lainnya?.

Pada dasarnya, laku pemujaan dan persembahyangan dalam arti luas adalah pengejawantahan dari usaha umat beragama guna mendekatkan diri hingga menyatu dengan-Nya. Sesuai dengan tingkat kesadaran Ketuhanan masing-masing, cara umat beragama di dalam mendekati hingga menyatu-Nya pun bertingkat-tingkat. Ini amat sangat manusiawi. Seberapa tinggipun tingkat cara pendekatannya dengan-Nya, tak sepatutnyalah seseorang memandang rendah dan merendahkan satu cara tertentu dan meninggikan caranya sendiri. Kita mesti ingat kalau kita pun tidak langsung bisa membaca dan menulis, tidak langsung bisa berbicara dan bernyanyi, tidak langsung bisa berjalan dan berlari, segera setelah untuk pertama kalinya menghirup udara Bumi ini. Secara manusiawi, pentahapan, tingkatan-tingkatan kemajuan atau evolusi merupakan sesuatu yang teramat sangat wajar bagi kita. Kita semua mengalami-nya.

Menyadari fakta itu, para bijak, para orang suci di jaman dahulu telah merancang beberapa cara pendekatan dan penyatuan, seperti yang kita semua warisi sekarang ini. Cara-cara pemujaan dan persembahyangan, yang tiada lain adalah cara-cara pendekatan dan penyatuan itu, menganut prinsip dari luar ke dalam, dari hilir ke hulu, dari bawah ke atas, dari yang terkasar ke yang terhalus. Bentuk bentuk terluarnya, terkasarnya, terbawah dan hilirnya adalah (1) pemujaan melalui berbagai bentuk upacara atau ritual keagamaan dan perziarahan ke tempat-tempat suci atau yang dianggap suci.

Seperti halnya tiada yang perlu direndahkan apalagi dipersalahkan dari putra-putri kita yang baru belajar mengucapkan satu atau dua patah-kata, tiada yang perlu direndahkan untuk kemudian diejek dari mereka yang baru belajar mendekatkan diri melalui berbagai bentuk ritual keagamaan dan mengunjungi tem-pat-tempat suci atau yang mereka anggap suci. Itulah fase yang sedang mereka lalui saat ini. Kewajiban dari mereka yang “sudah maju”-lah untuk memberi bimbingan cara-cara yang benar, sembari secara bertahap meningkatkan pemahaman mereka tentang tahapan pemujaan dan persembahyangan yang lebih tinggi, lebih halus dan lebih ke dalam lagi.

Masih dalam wilayah pemajaan luar, namun sudah lebih tinggi, lebih halus dan lebih dalam lagi, adalah (ii) pemujaan menggunakan simbol-simbol. Ini sudah semakin ringkas, simpel dan tidak lagi sedemikian hingar-bingar. Kedua tahap pemujaan luar ini bisa kita saksikan dalam semua umat ber-agama , dengan variasi pada cara dan bentuk yang disesuaikan dengan adat-kebiasaan dan budaya masing-masing. Di kalangan umat Hindu-Buddha di Bali, kombinasi dari keduanya tampak sedemikian marak dan meriahnya, mewarnai dan menjiwai setiap perikehidupan masyarakatnya, membentuk ke-khasan dan budaya-religius Bali sedemikian rupa, sehingga tak sedikit pihak-pihak luar bahkan sementar orang Bali sendiri menyangka kalau itulah “Agama Bali”.

Memang, tidaklah banyak umat yang mampu meningkatkan pemahamanannya untuk kemudian beranjak dari wilayah pemujaan-luar untuk melaju lebih ke dalam lagi. Kebanyakan umat bahkan mengakhiri tahapannya hanya sam-pai disini, hanya sampai dimana mereka memulainya. Disinilah seha-rusnya mereka yang “sudah maju” memerankan dirinya secara lebih aktif dan lebih arif lagi.

Beranjak dari bentuk-bentuk pemujaan-luar, seseorang mulai memasuki garda terdepan dari pemujaan-dalam,  yang  adalah (iii) yoga dan meditasi. Menginjak tahap ini, seseorang tak harus serta-merta melepas dan mencampakkan begitu saja bentuk-bentuk ritual dan berbagai simbol, walaupun itu sudah bukan merupakan keharusan lagi. Bahkan, hingga batas-batas dan dengan derajat pemahaman tertentu, simbol-simbol luar bisa saja masih diperlukan atas pertimbangan-pertimbangan sosio kultural. Tempat-tempat suci dan keramat, benda-benda suci dan keramat, simbol-simbol suci dan keramat, bahkan puja-mantra suci dan keramat, tidak lagi di luar sana atau sebatas bibir dan lidah saja. Ungkapan-ungkapan seperti : “Apapun yang ada di luar sana, juga ada disini”, “Makrokosmos identik dengan mikrokosmos”, “Tuhan bersemayan di hati semua insan”, dan yang sejenisnya, merupakan ungkapan-ungkapan mereka yang telah masuk dan menjalani bentuk pemujaan dalam ini.

Sampai disini, usaha “pendekatan” sudah beranjak. Tidak lagi sekedar mendekati-Nya namun sedikit-demi-sedikit meningkat menjadi (iv) usaha yang intens guna realisasi. Diri-Jati, mencapai “penyatuan”, “panunggalan” dengan-Nya. Inilah bentuk pemujaan terdalam, terhalus dan tertinggi. Bagi yang sepenuhnya telah ada dalam fase terdalam ini, bentuk-bentuk pemujaan luar sudah tidak seberarti seperti bagi kebanyakan dari kita. Bahkan, bagi kebanyakan dari kita, dari sudut-pandang keberagamaan, beliau-beliau ini bisa kelihatan sepertinya tidak beragama, seperti para atheis, hanya lantaran kita baru mengetahui sisi tertular dari agama itu sendiri. Beliau-beliau ini telah sepenuhnya “berkiblat” ke dalam.

Nah…… sampai disini, menjadi jelas bagi kita apa yang menjadi “akar” dari terjadinya hiruk-pikuk sementara umat beragama di Tanah Air belakangan ini. Bentuk-bentuk pemujaan-luar manapun, mau-tak-mau mesti menetapkan sejumlah keharusan-keharusan demi penyeragaman, demi keserasian dan keindahan tampakan-luarnya. Selama kita berjalan di suatu ruas jalan tertentu, kita mesti mengindahkan segala aturan dan segala rambu-rambu yang ada, yang berkenaan dengan itu. Sebab bila tidak, bukan saja itu mengganggu sampai dengan bisa mendatangkan bencana bagi pemanfaat jalan lainnya, itu juga bisa membahayakan diri sendiri dan para penumpang yang kita angkut.

Namun untuk selalu diingat, ini tidaklah berarti kita harus mandeg sampai disitu saja. Hidup di alam dualistik ini, kita mutlak perlu mengindahkan kaidah-kaidahnya. Kita tak perlu membuang-buang enerji dan waktu dengan berbenturan dengannya, dengan cara tidak mengindahkan, apalagi sampai menentang, kaidah-kaidah alam. Itu suatu pemborosan, tak perlu yang bodoh. Kalau untuk yang sifatnya hakiki saja kita sudah kekurangan enerji dan sedikit sekali waktu yang tersedia karena terbatasnya usia manusia, mengapa harus bertindak bodoh, “ajum-ajuman”, menghambur-hamburkannya begitu rupa?

Semoga Cahaya Agung-Nya senantiasa menerangi setiap gerak dan langkah kita. Semoga kedamaian dan kebahagiaan menghuni kalbu semua insan.

Sumber
Google Images
Youtube



Semoga dapat bermanfaat untuk semeton. Mohon dikoreksi bersama jika ada tulisan/makna yang kurang tepat. Suksma…

2018-03-01T12:58:39+00:00