ga('require', 'GTM-KFB5FMD'); Politik Sang Mahatma - Juru Sapuh

Politik Sang Mahatma

//Politik Sang Mahatma

Politik Sang Mahatma

Mahatma Gandhi menegaskan bahwa kehidupan manusia tidak bisa dipisah-pisahkan, tidak ada garis tegas yang bisa memisahkan antara masyarakat, politik, dan agama. Bahkan beliau mengatakan: “Aku tidak bisa menjalani kehidupan religius jika aku tidak mampu mengidentifikasi diriku dengan seluruh umat manusia, dan aku tidak dapat melakukannya jika aku tidak ambil bagian dalam dunia politik”. Agama adalah isi dan politik adalah cara/alat yang digunakan untuk meraih tujuan agama. Tanpa terjun kedunia politik, kesejahteraan bagi orang banyak tidak akan bisa diraih. Rasa kesatuan dengan seluruh makhluk akan berdampak bagi semua hanya ketika pelayanan kepada mereka diberikan. Dalam Harijan (24-12-1938, hal 393) Gandhi mengatakan: “Aku tidak bisa membagi sebuah pekerjaan apakah itu sosial, ekonomi, politik, dan religius murni kedalam kompartemen yang kedap air. Aku tidak tahu ada sebuah agama yang berpisah dari aktivitas manusia. Agama dapat memberikan dasar moral bagi segala jenis aktivitas yang tidak mereka miliki.”

Menurutnya, politik yang tidak dilandasi oleh prinsip- prinsip atauajaran agama adalah kotor dan harus dihindari. Politik menyangkut negara dan kesejahteraan bangsa, sehingga harus menjadi concern dari orang-orang religius, atau bagi para pencari Tuhan dan Kebenaran. Gandhi melihat bahwa Tuhan dan Kebenaran adalah istilah yang tidakdapat dipertentangkan, dan jika ada yang mengatakan bahwa Tuhan adalah dewanya ketidak benaran atau dewa penyiksa, Tuhan seperti itu harus ditolak untuk disembah. Karena itu, dalam politik, kita juga harus menegakkan kerajaan Surga. Politik adalah wahana yang bisa digunakan untuk menurunkan surga di bumi, karena memiliki kekuatan yang mengikat seluruh umat manusia.

Hal ini tentu berbeda dengan cara menggunakan agama dalam urusan politik. Bukan agama untuk kepentingan politik, tetapi politik untuk kepentingan agama. Apa yang terjadi dewasa ini adalah agama dijadikan alat untuk nafsu kekuasaan. Gandhi tidak pemah satu ide dengan ini. Gandhi melandaskan politiknya pada ahimsa (tanpa kekerasan) dan satya (kebenaran) sebagai sebuah konklusi keagungan spiritual dan etis dari agama. Hal ini tentu berbeda dengan politik agama yang cenderung menggunakan kekerasan dalam meraih kekuasaan. Ahimsa dan kebenaran mesti tetap diperjuangkan agar tetap berkuasa. Jadi, bagi Gandhi, ahimsa dan satya harus di atas segalanya, bukan ego dan nafsu kekuasaan. Dengan kata lain, orang yang berkuasa dengan menggunakan kendaraan politik harus telah menguasai egonya dengan sempurna, sehingga kekuasaan yang diraihnya bukanlah untuk dirinya, melainkan untuk ahimsa dan kebenaran itu sendiri.

Bagaimana itu mungkin? Gandhi dari pengalamannya sendiri mengatakan: “Aku tidak bisa mengisolasi politik dari hal terdalam pada hidupku. Mengapa? Alasan sederhana, yakni karena politikku tidak korup, kegiatan politikku terbingkai dengan tanpa-kekerasan dan kebenaran.” Saat orang tidak lagi menginginkan apa-apa, saat dirinya telah penuh, maka apapun yang dilakukannya tidak pemah korup. Kehidupan yang korup terjadi hanya ketika kita masih belum penuh, baik fisik, mental dan spiritual. Bagaimana rasa penuh itu ditumbuhkan di dalam diri? Hanya ketika kita mampu menapaki kehidupan sederhana, melihat kedalam dan senantiasa terhubung dengan Yang Maha Kuasa. Hidup sederhana artinya bisa hidup dengan cara apapun tanpa ada goncangan pikiran. Melihat kedalam artinya melakukan refleksi secara terus-menerus, melihat dan mempertanyakan siapa diri kita yang sebenamya dan kemudian menemukan jawabannya di dalam. Selalu terhubungan dengan Yang Maha Kuasa artinya selalu menyatu dengan eksistensi.

Hanya ketika orang memiliki kualifikasi seperti inilah yang mampu menjalankan ahimsa dan kebenaran secara sempurna, dan kemudian cara-cara politik akan langsung bersentuhan denga nilai-nilai kemanusiaan dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta. Gandhi melihat bahwa hidup sederhana (tapa), melihat kedalam (svadhyaya), dan menyatu dengan eksistensi (Ishvarapranidhana) diajarkan dalam agama, sehingga beliau menyatakan: “aku tidak bisa hidup sedetik pun tanpa agama. Banyak dari teman-teman politik ku sedih melihatku dan mengatakan bahwa politikku berasal dari agama. Mereka tidak salah. Sangat benar bahwa politik dan seluruh kegiatanku bersumber sepenuhnya dari agama.” Bahkan bisa dikatakan, bahwa peragaaan politik Gandhi adalah sadhana hariannya atau praktik agama sehari-harinya.

Maka dari itu, satu-satunya kualitas yang harus dimiliki oleh seorang politikus adalah dia yang telah penuh (content). Orang yang masih penuh ambisi tidak akan m ampu melihat rakyat sebagai objek pujaannya. Ia akan sibuk untuk mempertahankan posisinya sebagai orang berkuasa, hebat dan lebih dibandingkan yang lainnya. Sementara bagi Gandhi, seorang politikus itu tidak bedanya sebagai seorang pelayan bagi seluruh umat manusia. Siapa yang bisa melayani? Hanya dia yang telah penuh bisa melayani.

Sumber:
I Gede Suwantana
Google Images
Youtube



Semoga dapat bermanfaat untuk semeton. Mohon dikoreksi bersama jika ada tulisan/makna yang kurang tepat. Suksma…
2018-02-04T10:50:10+00:00