Puasa Ekadasi




Manfaat Melaksanakan Puasa Ekadasi Secara Teratur Melebur Dosa dan Kebodohan Dalam Diri Manusia Sekaligus Merubah Nasib Hidupnya

“Jika seseorang berpuasa pada hari Ekadasi, Aku akan membakar sampai hangus segala dosa-dosanya dan mengkaruniakan kepadanya sesuatu tempat di kediaman-Ku…………. Sebenarnya Ekadasi adalah hari yang sangat mulia dan memberi manfaat atau hikmah untuk melebur segala macam dosa apapun, dan hari Ekadasi itu muncul demi untuk memberikan keuntungan kepada setiap orang (Sri Krishna kepada Arjuna. Bab I)

Masih banyak umat Hindu di Indonesia tidak mengenal adanya aturan puasa dalam Veda. Mereka sering kali beranggapan bahwa puasa adalah tirakat yang dilakukan untuk memperoleh kesaktian batin dan memperoleh anugrah-anugrah gaib tertentu, sehingga tidak banyak umat Hindu yang melakukan puasa secara rutin.

Jika umat Islam melakukan puasa sebulan penuh sesuai dengan sunah nabi mereka, lalu bagaimana dengan Hindu?

Dalam kitab suci Veda sebenarnya terdapat banyak aturan-aturan yang membahas tentang puasa dan jenis-jenisnya. Puasa tidak hanya sekedar latihan pengendalian diri, tetapi juga ditujukan untuk memperingati momen-momen tertentu. Bahkan menurut beberapa sumber, pada dasarnya puasa menurut Veda juga menghasilkan phala (buah perbuatan) tertentu yang meskipun dalam banyak sloka-sloka Veda selalu ditegaskan bahwa kita tidak boleh terikat pada hasil tersebut.

Salah satu hari untuk melakukan puasa yang paling dikenal dan diterapkan oleh pemeluk Veda di seluruh dunia adalah puasa Ekadasi.

Penggertian Puasa Ekadasi

Ekadasi berasal dari kata Eka dan Dasi. Eka berarti satu dan Dasa/dasi berarti sepuluh. Ekadasi adalah puasa yang sangat keramat dilaksanakan pada hari ke sebelas dihitung mulai dari sehari setelah bulan purnama atau bulan mati sebagai hari yang pertama dan lusa dihitung sebagai hari yang ke dua dan seterusnya hingga hari ke sebelas.

Pada hari ke sebelas ini umat Hindu dianjurkan untuk melakukan puasa Ekadasi karena dikatakan puasa ekadasi ini bila dilaksanakan secara teratur akan dapat menghilangkan semua dosa dan kebodohan dalam diri manusia sekaligus merubah nasib hidupnya, bahkan dapat meningkatkan kekuatan batin, hingga ke tingkat yang paling tinggi yakni tingkatan bhakti kepada Tuhan.

Jenis Jenis Puasa Ekadasi:

Menurut Candrawati dalam bukunya yang berjudul “Ekadasi bimbingan rohani Hindu dalam berpuasa”, puasa Ekadasi sendiri terdiri dari 26 jenis. Adapun jenis-jenis puasa Ekadasi tersebut antara lain;

  1. Utpanna
  2. Moksada
  3. Saphala
  4. Putrada
  5. Sat-tila
  6. Jaya
  7. Vijaya
  8. Amalaki
  9. Papamocani
  10. Kamada
  11. Varutini
  12. Mohini
  13. Apara
  14. Nirjala
  15. Yogini
  16. Padma
  17. Kamika
  18. Putrada
  19. Aja
  20. Parivartini
  21. Indira
  22. Papangkusa
  23. Rama
  24. Haribodini
  25. Padmini
  26. Parama

Cara Melaksanakan Puasa Ekadasi

Puasa Ekadasi dilakukan mulai jam 00.00 dan baru berakhir pada hari berikutnya kira-kira setelah sembahyang pagi saat Brahma Muhurta yang waktunya tidak tentu dan sesuai dengan perhitungan Jyotisa (Astronomi Veda). Jadi waktu puasa Ekadasi rata-rata adalah 30 jam lebih.

Bagi mereka yang tidak kuat menahan lapar atau mungkin karena alasan tertentu dapat melakukan puasa Ekadasi dengan berpantang memakan biji-bijian. Jadi hanya dapat memakan buah-buahan atau umbi-umbian. Namun pada saat Nirjala Ekadasi, semua penganut Veda dianjurkan untuk melakukan puasa total, tidak makan dan minum sama sekali.Dalam satu bulan terdapat 2 hari Ekadasi dan juga 1 atau 2 jadwal puasa

Selain Ekadasi dalam rangka memperingati kemunculan Avatara, Rsi/guru kerohanian, atau even-even yang lainnya. Jadi paling tidak umat Hindu seharusnya melakukan puasa paling tidak  3 kali dalam satu bulan. Ternyata aturan ini juga terdapat dalam salah satu hadis umat muslim yang menyatakan “Siapa yang berpuasa tiga hari setiap bulan, maka itu sama dengan puasa dahr (puasa sepanjang tahun)”.

Ketika akan mulai berpuasa sucikan dahulu badan dan rohani dengan upacara majaya-jaya (jika dipimpin pandita) atau maprayascita jika dilakukan sendiri. Setelah itu haturkan banten tegteg daksina peras ajuman untuk menstanakan Hyang Widhi yang dimohon menyaksikan puasa kita.

Ucapkan mantram:

Om Trayambakan ya jamahe sugandim pushti wardanam,urwaru kam jwa bandanat, mrityor muksya mamritat,

Om ayu werdi yasa werdi, werdi pradnyan suka sriam,dharma santana werdisyat santute sapta werdayah,

Om yawan meraustitho dewam yawad gangga mahitale candrarko gagane yawat, tawad wa wiyayi bhawet.Om dirgayuastu tatastu astu,Om awignamastu tatastu astu,Om subhamastu tatastu astu,Om sukham bawantu,Om sriam bawantu,Om purnam bawantu,Om ksama sampurna ya namah,Om hrang hring sah parama siwa aditya ya namah swaha.

Terjemahannya,

 “Ya, Hyang Widhi, hamba memuja-Mu, hindarkanlah hamba dari perbuatan dosa dan bebaskanlah hamba dari marabahaya dan maut karena hanya kepada-Mu-lah hamba pasrahkan kehidupan ini, tiada yang lain.

Semoga Hyang Widhi melimpahkan kebaikan, umur panjang, kepandaian, kesenangan, kebahagiaan, jalan menuju dharma dan perolehan keturunan, semuanya adalah tujuh pertambahan.

Selama Iswara bersemayam di puncak Mahameru (selama Gunung Himalaya tegak berdiri), selama Sungai Gangga mengalir di dunia ini, selama matahari dan bulan berada di angkasa, semoga selama itu hamba sujud kepada-Mu, ya Hyang Widhi.”

“Jika seseorang yang dengan bertekad bulat menginginkan untuk mencapai tempat tinggal Personalitas Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krishna lupa melaksanakan Ekadasi, dia harus melaksanakannya pada hari Dvadasi sebab Ekadasi masih tetap berlaku bersambung ke hari berikutnya.

ekadasi vipluta ced dvadasi paratah sthita
upasya dvadasim tatra  yadicched paramam padam

“Jika karena suatu hal seorang tidak disengaja lupa melaksanakan Ekadasi pada hari yang ditetapkan, dia bisa melakukan puasa keesokan harinya, Dvadasi, dan kemudian membuka puasanya pada Trayodasi, sehari setelah itu, seperti dinyatakan dalam kitab suci Veda,

Selama Ekadasi yang jatuh menjelang bulan purnama, seorang bhakta hendaknya bermeditasi pada 12 nama suci Vishnu dengan berjapa mantra om kesavaya namah dan mantra yang lain yang biasa diucapkan oleh bhakta Tuhan secara sistematis pada waktu mereka memasang tilaka di beberapa bagian tubuhnya. Selama Ekadasi yang jatuh pada hari menjelang bulan mati. Bhakta hendaknya bermeditasi pada 16 nama Suci Vishnu dari kelipatan 4 ekspansi Beliau dan perbanyakan-perbanyakan Beliau yang lain. Seorang bhakta sebaiknya berjapa om sankarsanaya namah, om govindaya namah, dan sebagainya (Mohon lihat dalam Caitanya-caritamrta, Madhya-lila 20.195-97)

Selama setiap Ekadasi, seseorang hendaknya secara berkesinambungan bermeditasi kepada Personalitas Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krishna, serta memuja segenap ekspansi-ekspansi Beliau. Dia boleh juga bermeditasi kepada 8 jenis wujud Arca Beliau. Di dalam Srimad-Bhagavatam (11.27.12) Sri Krishna bersabda kepada Uddhava.

saili daru-mayi lauhi lepya lekhya ca saikati
mano-mayi mani-mayi pratimasta-vidha smrta

“Delapan wujud Arca Tuhan Yang Maha Kuasa muncul sebagai batu, kayu, logam, lukisan, pasir, pikiran, dan batu-batu permata”

Jika Ekadasi secara perbintangan dikombinasikan dengan Dasami (hari yang ke-10) menjelang bulan mati atau purnama). Orang itu tidak diharuskan untuk puasa, tetapi jika hari dikombinasikan dengan Dvadasi hari ke-12 menjelang bulan mati atau purnama) hari itu disebut Ekadasi atau   Mahadvadasi dan kemudian pada hari itu hendaklah melaksanakan puasa penuh. Dalam peradaban   Veda,   Mahadvadasi ini masih   dikatakan Ekadasi. Setelah melaksanakan puasa dengan tekun pada hari Ekadasi, dengan mengikuti persyaratan dan peraturan, dia hendaklah membuka puasanya 2 jam sesudah matahari terbit pada hari Dvadasi.

Menurut kepustakaan suci, setiap orang yang berumur lebih dari lima tahun, hendaklah sudah melakukan puasa Ekadasi. Juga para acarya menganjurkan anggota dari catur warna di masyarakat, agar melaksanakan Ekadasi dengan tekun dan ketat untuk mencapai tempat suci Sri Krishna, Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun ada terdapat instruksi-instruksi berikut ini untuk wanita-wanita yang sudah menikah.

patvo jivati ya nari  upasya vrtam acaret
ayusam harate bhartur  narakam caiva gacchati

“Seorang Wanita yang suaminya masih ada hendaknya minta ijin  kepadanya untuk melakukan puasa. Jika dia tidak minta izin untuk itu dia akan mengurangi umur suaminya dan mengirimkannya ke neraka” oleh karena itu seorang wanita yang telah bersuami harus minta izin kepada suaminya sebelum melaksanakan puasa Ekadasi.

 

Pada keesokan harinya dia hendaklah berserah diri kepada Arca Tuhan Yang Maha kuasa. Sri Krishna atau Sri Rama dan mengucapkan mantra purusa-sukta, dimulai dengan sloka yang kata-kata awalnya adalah sahasra sirsa purusah. Dia hendaklah bersujud dan bermeditasi pada Kaki Padma-Nya sambil mengucapkan om damodaraya namah. Kemudian berkonsentrasi pada pinggul-Nya sambil mengucapkan mantra om madhavaya namah, kemudian berkonsentrasi pada bagian pribadi-Nya sambil mengucapkan om kamapataya namah kemudian pada pinggang-Nya sambil mengucapkan om vamanaya namah, pada pusar-Nya dengan mengucapkan om padmanabaya namah, lalu pada perut-Nya, sambil mengucapkan om visvamurtaye namah, lalu pada jantung-Nya sambil mengucapkan om jnanagamyaye namah, pada tenggorokan-Nya, sambil mengucapkan om srikanthaya namah, pada tangan-Nya sambil mengucapkan om sahasrabahave namah, pada dahi Beliau, sambil mengucapkan om urugayai namah, pada hidung-Nya, sambil mengucapkan om narakesvaraya namah, pada rambut-Nya, sambil mengucapkan om sarvakamadaya namah, dan pada kepala-Nya, dengan mantra om sahasrasirsaya namah.

 

Dengan cara ini bhakta itu juga berkonsentrasi pada wujud yang begitu menarik dan cemerlang dari Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krishna, dan berserah diri kepada Beliau. Dia hendaknya juga berjapa nama suci—Hare Krishna; Hare Krishna, Krishna Krishna, Hare Hare / Hare Rama, Hare Rama, Rama Rama, Hare Hare—sambil memainkan alat-alat musik yang beraneka ragam, dan dia juga berjapa di dalam hati memakai japa mala dengan khusuk dan penuh cinta kasih. Jika mungkin, seharusnya dia tetap terjaga sepanjang malam sambil memuji nama Beliau dengan cara seperti tersebut di atas.

Seorang penyembah yang taat mengikuti perintah-perintah guru kerohaniaannya dan melaksanakan puasa pada hari Ekadasi—dengan puasa penuh dan mengangungkan nama suci-Nya, sepanjang hari, siang dan malam dalam suasana bhakti—dan pastinya menjadi sepenuhnya terserap dalam kesadaran Krishna yang murni.

Pada hari Dvadasi, bhakta hendaknya pertama-tama membersihkan sekujur tubuhnya dengan mandi dan hatinya dengan berjapa maha-mantra dalam hati. Kemudian dia hendaknya memasak makanan yang enak-enak untuk memuaskan Beliau dan mempersembahkannya dengan penuh cinta-bhakti dan diiringi dengan doa yang tulus kehadapan-Nya. Setelah membagikan maha-prasadam itu kepada bhakta yang lain dan kepada para brahmana. Dia bisa berbuka puasanya dan bergembira dalam melayani prasadam itu.

CARA MENUTUP  UPAWASA YANG BAIK

Bagaimana cara menutup upawasa yang baik? Dalam buku Filsafat Vegetarian (Ananda Marga) disebutkan untuk menutupnya didahului dengan minum segelas air bercampur air jeruk nipis. Setengah jam kemudian diikuti dengan makan pisang. Tetapi pisangnya tidak dikunyah halus, melainkan hanya dipotong potong dengan gigi kemudian ditelan. Adakah cara lain?

Cara paling baik menutup Upawasa adalah dengan cara minum air pada detik yang tepat penutupan Upawasa. Penutupan Upawasa dengan air dianjurkan mengingat dalam tradisi Veda, air diyakini berfungsi sebagai jalan tengah, tutup puasa atau pun tidak.

Ceritanya, ketika Maharaja Ambrisha kedatangan rombongan Resi Durwasa, Maharaja Ambrisha sedang melaksanakan Upawasa. Sebelum dijamu makan, Resi Durwasa mengatakan akan mandi dulu ke sungai dan akan balik setelah mandi.

Pada detik Maharaja Ambrisha harus membuka puasa Resi Durwasa belum juga datang. Akhirnya, atas anjuran pada pendeta penasihat kerajaan, Maharaja Ambrisha meminum air untuk menutup puasanya. Tetapi, meminum air juga dianggap tidak makan, sehingga Maharaja Ambrisha juga terbebas dari kesalahan makan sebelum tamu (Resi Durwasa) disuguhkan makanan.

Adapula yang memilih penutupan dengan juice. Prinsipnya, kita tidak membuat sang perut “kaget” dengan makanan agak keras, jadi pilihan adalah minum air atau juice. 10-15 menit kemudia bisa dilanjutkan dengan makanan, yang juga diusahakan makanan yang lembut, tidak keras, tidak panas/pedas. Semoga bermanfaat. Rahayu, by: I Wayan Sudarma

Manfaat Puasa dari segi medis

Puasa secara teratur 2-4 kali sebulan ternyata memberikan efek yang sangat positif bagi kesehatan tubuh manusia. Karena sel tubuh selalu mengalami siklus pembelahan dan regenerasi, maka puasa yang teratur dapat membantu menghilangkan sel-sel yang rusak dan lemah di dalam tubuh. Sel-sel rusak akan “termakan” dan dirubah menjadi sumber energi disaat tidak adanya asupan energi dari makanan. Sehingga dengan adanya regenerasi yang baik pada sel-sel dalam tubuh kita, maka kemungkinan adanya risiko tumbuhnya sel tumor atau kanker dapat ditekan.

Puasa yang teratur 2-4 kali dalam sebulan juga dapat menekan mal-Kolesterol di dalam tubuh, sehingga kemungkinan munculnya penyakit jantung koroner dan struk akibat penyempitan pembuluh darah, pembengkakan jantung dan otak dapat dikurangi.

Selain itu masih terdapat banyak hasil-hasil penelitian secara ilmiah yang telah mengungkapkan manfaat puasa secara teratur ini.

Dengan melakukan aturan puasa ini, anda akan mendapatkan manfaat rohani sebagaimana yang dijelaskan dalam buku yang saya kutip di atas dan sekaligus mendapatkan tubuh yang sehat. Jadi, kenapa kita tidak mencoba menerapkan puasa Ekadasi ini secara teratur dari sekarang?

Sumber:
Saivaya
Google Images



Semoga dapat bermanfaat untuk semeton. Mohon dikoreksi bersama jika ada tulisan/makna yang kurang tepat. Suksma…

2017-12-13T08:53:37+00:00