Sesana Pinandita (kajian singkat) II




Sesana Pinandita (kajian singkat) II

Untuk melengkapi sasana pinandita ini, tidak ada salahnya bila disampaikan ajaran tentang Rwawelas Brataning Brahmana, yakni suatu ajaran yang berisikan duabelas macam syarat atau aturan hidup lahir dan bathin bagi para brahmana. Adapun keduabelas macam syarat atau aturan hidup ini, dimuat dalam kitab Sarasamuccaya sloka 57, yang menyebutkan sebagai berikut:

“Dharmacca satyam ca tapo damacca vimatsaritvam
Hristitiksanasuya, yajñacca danam ca dhritih ksama
Ca mahavratani dvadaca vai brahmanasya”
Artinya:
Ini adalah brata sang Brahmana, duabelas banyaknya, Perincianya: Dharma, satya, tapa, dama, wimarsaritwa, hrih, titiksa, anusuya, yajña, dana, dhrti, ksama, itulah perinciannya sebanyak duabelas: dharma dari satyalah sumbernya, tapa artinya sarira sang sesana yaitu dapat mengendalikan jasmani dan mengurangi nafsu: dama artinya tenang dan sabar, tahu menasehati dirinya sendiri. Wimatsaritwa artinya tidak dengki-irihati, hrih berarti malu, mempunyai rasa malu, titiksa artinya jangan sangat gusar, anasuya artinya tidak berbuat dosa, yajña adalah mempunyai kemauan mengadakan pemujaan; dana adalah memberikan sedekah, dhrti artinya penenangan dan pensucian pikiran, ksama artinya tahan sabar dan suka mengampuni; itulah brata sang brahmana.

Demikian yang disebutkan dalam kitab Smrti Sarasamuccaya mengenai Rwawelas Brataning Brahmana, yang juga merupakan ketentuan/syarat yang perlu dimiliki oleh para brahmana atau dalam hal ini oleh para sulinggih, termasuk didalamnya para pinandita.

V. Kewajiban dan Wewenang Pinandita

Di dalam konteks melaksanakan dharma negara dan dharma agama, para pinandita mengemban tugas dan misi suci Tuhan (Sang Hyang Widhi Wasa). Yang sangat mulia. Ada dua hal pokok yang menjadi tugas dan kewajiban pinandita yairu

Tugas seorang pinandita adalah berbuat sesuatu untuk menciptakan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup bersama di masyarakat yang disebut jagaditha, dengan cara memberikan tuntunan rohani, pembinaan mental spiritual serta membantu kehidupan beragama dilingkungan masyarakat. Disinilah sesungguhnya arti penting daripada loka phala sraya yaitu menjadi sandaran umat dalam mewujudkan suatu kehidupan yang aman, sentosa, dan sejahtera yang disebut dengan kasukerthan jagat.

Disamping berbuat sesuatu untuk menciptakan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup umat, juga memohon keselamatan negara atau yang disebut dengan ngayasang jagat, dengan cara melakukan pemujaan setiap hari kepada Sang Hyan Widhi Wasa, sebagaimana yang dilaksanakan dalam surya sewana, yang memiliki dua sasaran dan tujuan. Pertama, menyucikan diri lahir batin dan kedua memohon keselamatan negara (ngayasang Jagat). Jadi di dalam pelaksanaan surya sewana seorang pandita, memohon ke hadapan Sang Hyang Whidi Wasa, agar beliau Asung kertha nugraha baik kepada umat maupun negara tercinta, sehingga memperoleh apa yang disebut suka sadya lan rahayu.

Kewajiban pinandita sebagai sulinggih ada sepuluh jumlahnya, yang disebut dengan Dasakramaparamartha, yakni :

  • Tapa, Teguh dan kuat pendirian dalam memuja Sang Hyang Widhi (Dewaarcana) dan melaksanakan dharmaning kawikon serta mengucapkan puja, japa, mantra dan Veda setiap hari.
  • Brata, Melaksanakan disiplin bathin, mengurangi makan (aharalagawa) dan mengurangi tidur, tidak melanggar pantangan, meninggalkan pengaruh panca indrya serta taat melaksanakan yama-niyama Brata.
  • Yoga, Melatih pernafasan (pranayama), guna menyeimbangkan stula sarira dengan suksama sarira sebagai sarana untuk menghubungkan diri dengan Sanghyang Widhi Wasa, dan melebur dasamala pada diri.
  • Samadhi, Memusatkan pikiran ditujukan kehadapan Sanghyang Widhi Wasa, sehingga tidak terpengaruh suatu kondisi luar (nirwikara).
  • Santa, Berpikir cemerlang dan berpenampilan yang tenang.
  • Sanmata, Berperasaan yang riang dan gembira meskipun dalam menghadapi cobaan-cobaan hidup.
  • Maitri, Senang mengatakan yang baik dan benar serta berprilaku yang baik dan santun.
  • Karuna, senang bertukar pikiran dengan sesama. Baik dengan hal yang bersifat wahya, maupun dengan hal-hal yang bersifat adhyatmika dan mengasihi sarwa tumuwuh atau semua mahluk.
  • Upeksa, Tahu tentang perbuatan baik dan buruk, perbuatan benar dan salah serta suka memberi petunjuk kepada orang yang belum memahami arti baik atau buruk.
  • Mudhita, Mencintai kebenaran dan memiliki budi pekerti yang luhurcemerlang dalam kehidupan.

Disamping itu seoarang pinandita/pemangku mempunyai tugas dan kewajiban untuk: mengantarkan upacara yang diselenggarakan di pura/merajannya, menuntun warganya dalam pendalaman Dharma, dan menjaga kebersihan dan kesucian pura/merajan. Demikian diungkapkan di sini mengenai tugas dan kewajiban pinandita, yang patut ditekuni di dalam melaksanakan dharmanya sebagai sulinggih.

VI. Wewenang Pinandita

Walaupun status pinandita sebagai wakil pandita, tentunya memiliki kewenangan didalam menyelesaikan upacara/upakara (yajña) sepanjang tidak bersifat prinsipil dan inipun atas seijin dan petunjuk pandita atau nabe yang bersangkutan. Adapun mengenai tingkat upacara yang dilaksanakan terbatas pada tingkat pedudusan alit. Kewenangan lain yang ada pada seorang pandita yakni dalam upacara-upacara seperti:

  • Menyelesaikan upacara Bhuta Yajña, sampai dengan tingkat menggunakan Caru Panca Sata.
  • Menyelesaikan upacara Manusa Yajña, diberi wewenang dari mulai bayi lahir sampai dengan otonan dan pawidi widana tingkat kecil.
  • Didalam menyelesaikan upacara Pitra Yajña, terbatas sampai dengan mendem sawa (mekingsan Gni).
  • Membuat tirtha panglukatan/pabersihan.
  • Nganteb upakara piodalan/pujawali di pura/merajan yang diemongnya sampai batas ayaban tertentu.
  • Nganteb upakara pada upacara/yajña tertentu di lingkungan keluarga dengan tirtha pamuput dari pandita. Istilah yang digunakan oleh pinandita adalah “Nganteb” bukan “muput”.
  • Membantu pelaksanaan yajña tertentu dari pinandita suatu pura dengan seijinnya.
  • Menggunakan Genta.
  • Menggunakan mantra, dan mudra tertentu bila sudah mewinten dengan ayaban bebangkit serta sudah mendapat bimbingan dan ijin dari pandita.

Adapun mengenai busana yang dipergunakan berikut perlengkapan dari seorang pinandita antara lain:

  • Rambut panjang atau bercukur.
  • Pakaian: destar, baju, saput (selimut), kain dalam melakukan upacara, semuanya berwarna putih.
  • Dalam melakukan pemujaan menggunakan: genta, dulang, pasepan, sangku (tempat air suci atau tirtha) bunga, Gandaksata.

Sedangkan penghargaan yang menjadi hak pemangku/pinandita adalah:

  • Bebas dari ayahan desa
  • Menerima sesari/bagian sesari
  • Menerima hasil pelaba pura (bila ada)

VII. Disiplin Pinandita/Pemangku:

  • Menjaga kebersihan (lahiriah) dan kesucian diri (bathiniah) dengan cara setiap pagi mapeningan.
  • Berpakaian sesuai dengan sesana kepinanditaan/kepemangkuan.
  • Mempunyai perlengkapan pemujaan: sebuah dulang, diatasnya ada; genta, tempat dupa, pasepan, sangku, sesirat dari daun lalng, caratan tempat air bersih, botol tetabuhan, canting, dan bunga. Sebuah kekasang dan Genitri.

Aturan kecuntakaan bagi Pemangku;

  • Tidak kena cuntaka karena orang lain.
  • Terkena cuntaka bila ada anggota keluarga yang serumah meninggal dunia.
  • Pemangku istri terkena cuntaka bila haid.
  • Bila kawin menikah harus mesepuh (mewinten ulang) dengan tingkat ayaban yang sama seperti sebelumnya, bersama-sama istrinya.
  • Pemangku yang dihukum karena tindak pidana (kriminal) diberhentikan sebgai pemangku oleh warganya.
  • Jenasah pemangku tidak boleh dipendem.
  • Tidak cemer: memikul, nywun, sesuatu yang tidak patut, nganggur di warung, metajen/berjudi, mabuk-mabukkan, melanggar Tri Kaya Parisuddha, anayub cor, tidak makan/minum di rumah yang sedang cuntaka, mengusung mayat, diungkulin oleh orang yang mengusung mayat atau orang yang nyuwun tirtha pangentas, memikul bajak, menarik sapi, menginjak tahi sapi, membuang hajat di air, mewarih di abu/apai/air, memakan makanan yang tidak patut, tidak sekamar dengan istri yang sedang haid. (Sumber: Indik Kepemangkuan, Tim Penyusun Buku-buku Agama Hindu Pemda TK I Bali: 1991)

VIII. Kesimpulan

  • Kita wajib bersyukur kehadapan Ida Sang Hyang Widhi karena atas waranugrahaNya Atman telah re-inkarnasi ke dalam tubuh manusia, yang mempunyai sabda, bhayu, dan idep. Dibandingkan dengan binatang yang mempunyai sabda dan bhayu, apalagi tumbuhan yang hanya memiliki bhayu saja.
  • Pemangku wajib bersyukur karena telah ditakdirkan menjadi manusia suci. Seoarang pemangku/pinandita tidak begitu saja bisa menjadi pemangku. Menurut Rontal Yama Purana Tattwa, hidup dan kehidupan manusia sudah direncanakan jauh sebelum re-inkarnasi. Oleh karena itu janganlah menganggap bahwa menjadi pemangku itu suatu ”kebetulan”.
  • Menjadi pemangku adalah suatu kebanggan, karena: 1) menjadi tapakan Widhi, disayang oleh Ida Sang Hyang Widhi/Dewata/Bhatara, 2) mempunyai kesempatan yang luas untuk mensucikan diri di jalan Dharma agar mencapai Moksartham Jagadhita, 3) mempunyai tugas suci mengabdi kepada masyarakat, sebagai tabungan membentuk karma wasana yang baik.
  • Oleh karena menjadi kesayangan Ida Sang Hyang Widhi/ Dewata/ Bhatara, pertahankanlah agar tugas suci ini dapat terlaksana dengan baik, menjadi pemangku yang profesional, sehingga mengharumkan linggih Ida Bhatara Sasuhunan. Kehidupan pemangku adalah hidup suci dan berdisiplin.
  • Pemangku yang melaksanakan tugasnya dan kehidupannya dengan baik akan mendapat karma yang baik tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi arwah leluhurnya, sampai tujuh tingkat ke atas (Rontal Yama Purana Tattwa).
  • Pemangku adalah pengabdi: pengabdi Ida Sang Hyang Widhi  dan pengabdi umat manusia. Oleh karena itu  dahulukan tugas/kewajiban dari pada hak.
  • Untuk dapat menjadi pengabdi yang baik , pengetahuan mengenai Tattwa, susila, dan acara agama (upakara/upacara) harus dikuasai dengan cara belajar. Belajarlah dari guru yang baik, buku, rontal, dharma wacana, kursus/pelatihan, apa saja yang dapat menambah pengetahuan, karena menurut Rontal Dharma Kauripan, Sulinggih yang baik adalah Sulinggih yang ”berilmu”.
  • Pelajar akan cepat mencapai kemajuan bila mempunyai sifat-sifat dan pemikiran, seperti: tidak merasa diri pintar, rendah hati, tidak fanatik, tidak sombong, mau mendengarkan pendapat orang lain, rajin dan disiplin, menghargai orang lain, berpikir kreatif dan berinisiatif, obyektif dan jujur, pandai mengambil keputusan (Ida Pandita Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi, 2000: 4).

IX. Penutup

Demikian secara singkat makalah ini dapat disampaikan, dengan harapan dapat menjadi lentera kecil yang akan memberikan secercah cahaya kesucian kepada para pemangku/pinandita yang dengan tulus hati telah mau mengabdikan dirinya bagi kebenaran. Semoga melalui subha karma para pemangku/pinandita kesadaran umat Hindu untuk mau mempelajari, menghayati dan mengamalkan Veda semakin semarak dan mendalam.

Om purnam adah purnam idam
Purnat purnam udhcyate
Purnasya purna ma dhaya
Purnam iva vasisyate

Om sarve bhavantu sukhinah
Sarve santu niramayah
Sarve bhadrani pa syantu
Ma kascit duhkha bhag bhavet

Om Santih, Santih, Santih Om

(Sebelumnya)

Sumber:
Jero Mangku Danu (I Wayan Sudarma, S.Ag., M.Si)
Ketua Bidang Kebudayaan dan Kearifan Lokal



Semoga dapat bermanfaat untuk semeton. Mohon dikoreksi bersama jika ada tulisan/makna yang kurang tepat. Suksma…

2018-01-04T02:50:33+00:00