Tentang

/Tentang
Tentang 2017-02-07T12:50:10+00:00

Pendahuluan





Latar belakang kehidupan retegius sebuah masyarakat terithat pada aplikasi kehidupan budaya, adat, tradisi, letak geografis dan lingkungan hidup sosial masyarakatnya. Adat dan tradisi hidup adalah lapisan tepi yang mampu kita lihat tentang kehidupan relegius masyarakat. Pengetahuan ketuhanan pada masyarakat yang memiliki filsafat yang tinggi, filosophi ketuhanannya dibungkus dengan suatu tradisi yang unik sehingga membuat masyarakat selalu ingin melaksanakannya. Begitu pula pada masyarakat lain setalu Ingin menggali tradisi terebut. Tradisi yang baik adalah sebuah tata cara kehidupan sosial yang mampu dilaksanakan oleh masayarakat pada tingkatan atau level apapun. Kenyataannya ada pelaksanaan tradisi yang membuat masyarakat pada golongan tertentu atau level masyarakat tertentu tidak mampu melaksanakannya, berarti filosophi tradisi Ini periu dikaji lagi agar lebih universal dan menyeturuh pada semua tingkatan.

Pada hakekatnya tujuan utama Ilmu pengetahuan khususnya kerohanian adalah mengantarkan masyarakatnya untuk dapat hidup sejahtera, tentram dan damai sepanjang waktu. Para leluhur pada Jaman dahulu telah merumuskan nilai-nilai pengetahuan ketuhanan yang sederhana namun kaya filosophf pada etika sosial, proses sadhana dan ritual upakara (bhakti dan karma marga).Begitupula pada golongan masyarakat tertentu juga sudah dirumuskan prinsip pengetahuan utama yakni rahasia kehidupan dan kesadaran ketuhanan yang tertinggt (jnana dan raja marga). Rumusan-rumusan pengetahuan ketuhananini memiliki dasar yang kuat pada masing-masing penggalinya yang disebut sampradaya atau sekte, sepertl Pasupataya, Ganapataya, Siwa Sampradaya, Sekte Indra, Sekte Bairawa, Kamahayanan, Kasogathan dan yang lainnya. Pada abad pertengahan semua sampradaya dan faham yang ada disatukan oleh Mpu Kuturan menjadi faham tri murti yakni sebuah ajaran yang hanya memiliki dasar ketuhanan pada Dewa Brahma, Desa Wisnu dan Dewa Siwa. Inilah yang menjadi cikal bakat penyatuan masyarakat bali yang sebetumnya terpecah-pecah kedalam sampradaya atau sekte. Penyatuan masyarakat Bali ini dibuatkan sistem kemasyarakatn lagi dengan nama Desa pakraman dengan memiliki tiga kahyangan yakni kahyangan puseh, kahyangan desa dan kahyangan dalem dengan pelaksanaan penyelenggaraan
yajnya dan kegiatan lainnya menyesuaikan pada wilayah setempat.