Tuhan Maha Besar

//Tuhan Maha Besar



Tuhan Maha Besar

Sebagaimana bentuk anatomi dan fisiologinya, pikiran manusia juga mengalami parinama (evolusi). Manusia tidak sekadar tumbuh, berkembang, dan bereproduksi, tetapi juga ada dan menjadi (being and becoming). Pola pemikiran seperti ini juga terjadi pada penghayatan manusia terhadap hakekat keberadaannya, beserta sumber dari keberadaannya itu.

Ajaran Sanatana Dharma yang kemudian secara umum disebut Hindu Dharma bukanlah ajaran yang sekali jadi. Berbeda dengan agama lain, yang umumnya disampaikan oleh seorang nabi dalam bentuk perintah dan larangan untuk membentuk bangunan raksasa spiritual. Hindu Dharma justru tumbuh dan berkembang sebagai sebatang pohon yang bermula dari biji kesadaran dan keyakinan. Dia kekal, tetapi ada dan menjadi selaras dengan tingkat pemikiran kaumnya.

Para leluhur kita memahami bahwa di luar dirinya ada kekuatan yang maha dahsyat. Kekuatan-kekuatan itu menguasai dan mengatur hukum-hukum dan fenomena alam, yang dikenal sebagai Dewa-dewa. Dari sini timbul pemikiran untuk menyerasikan diri dengan hukum-hukum alam tersebut. Barang siapa yang dalam hidupnya senantiasa mengikuti hukum alam, maka akan mendapatkan kebahagiaan. Sebaliknya, siapa pun yang menentang hukum alam pastilah akan punah.

Pemikiran berikutnya berkembang dari pemahaman terhadap “perilaku” seluruh komponen alam ini. Semua yang ada bergerak secara teratur mengikuti hukum keserasian secara universal. Proses ini hanya bisa terjadi apabila diatur oleh satu kekuatan, dan itulah Sang Hyang Widhi Wasa. Dia yang memiliki otoritas atas segala hukum-hukum itu. Dewa-dewa hanyalah sinar suci-Nya yang menguasi satu atau beberapa fenomena di alam ini.

Nama-nama yang diberikan kepada-Nya, hanyalah merupakan model pembatasan yang bersifat relatif dan arbitratif. Pembatasan bukan terhadap keberadaan-Nya yang tidak terbatas, tetapi justru terhadap pikiran manusia yang memang sangat terbatas dan subyektif. Tuhan tidak akan berubah gara-gara nama yang ditujukan kepada-Nya. Berbagai macam gelar yang ditujukan oleh orang-orang suci kepada-Nya adalah bentuk penghormatan. Ekam sat viprah bhahuda vadanti. Tuhan hanya satu, orang-orang bijaksanalah yang menyebut-Nya dengan banyak nama. Bhinna vaktra eka cruti, berbeda penyebutannya tetapi sama maknanya. Atas dasar itu, jika ada orang-orang yang mempertentangkan gelar-gelar itu, pastilah masih jauh dari apa yang disebut bijaksana.

Siapa Tuhan Itu?

Dalam mantram dan sloka-sloka pustaka suci terdapat banyak penjelasan tentang tuhan. Banyak penjelasan dapat ditafsirkan, bahwa ada kecendrungan kita sering melupakan-Nya, sehingga perlu diperingatkan berkali-kali. Dalam Maitri Upanisad disebutkan, sesungguhnya hanya seperempat bagian dari Diri Brahman (Tuhan) itu bergerak di alam nyata ini. Bagian inilah yang langsung berhubungan dengan segala macam ciptaan-Nya. Sementara itu, tiga perempat bagian yang lain membentuk bagian yang abadi dari eksistensi Beliau, yang hanya dapat didekati dengan kesa-daran Turya (kesadaran tertinggi, melebihi kesadaran tidur tanpa mimpi).

Kesadaran manusia terhadap eksistensi Tuhannya bersifat terbuka, sebagaimana dilambangkan dengan ardhacandra (bulan sabit) pada simbol Omkara (pranawa). Kesadaran itu dimulai dari titik centrum yang dikenal sebagai hindu (windu), dan dilukiskan dalam bentuk angka nol. Jika diibaratkan dengan suara, windu adalah pangkal suara yang bergema keluar. Gema atau resonansi suara dalam ilmu mantra dikenal sebagai nada. Gema tersebut menggetarkan alam sekitarnya sehingga terdengar sebagai gelombang suara yang semakin jauh dari sumbernya akan semakin melemah, dan akhirnya akan hilang sama sekali. Daerah dimana resonansi suara tidak dapat didengar lagi, dikenal sebagai sunya. Atas dasar itu, kesadaran pikiran manusia terhadap Tuhan diawali dari nol dan berakhir pada sunya. Lalu, adakah perbedaan antara nol dengan sunya?

Dalam Brahma Sutra 1.1.2 disebutkan. “Jnama-dhyasya yatah”. Artinya Tuhan ialah dari mana asal mula semua ini. Karena Dia adalah asal mula dari semua yang telah ada, pernah ada, dan juga yang akan ada, maka Dia tidak pernah diadakan oleh siapa pun juga. Dia jugalah yang menguasai semua yang ada ini (Bhg. X. 2.8). Dia adalah benih segala makhluk. Tidak akan pernah ada sesuatu dapat bergerak atau tidak dapat bergerak, tanpa Dia (Bhg. X. 39). Hal ini disebabkan Dia adalah Jiwa yang berdiam dalam hati segala insani. Dia adalah permulaan, pertengahan, dan akhir dari segala makhluk (Bhg. 20). Lebih lanjut, sifat Tuhan dirumuskan dalam Maha Nirwana Tantra sebagai Sat Citta Ananda Brahman (sesungguhnya) Brahman adalah kebenaran, pengetahuan yang tidak terbatas. Dari sinilah umat Hindu dan Budha melumrahkan slogan Dharma kang kinaranan Widhi (kebenaranlah yang disebut Tuhan), yang dipertegas lagi oleh Mahatma Gandi, lewat pernyataannya. “Bagi saya, kebenaran adalah Tuhan!”

Segala macam sifat yang ada pada makhluk ciptaan-Nya berasal dari Dia. Sifat-sifat tersebut pada kehidupannya terdahulu (Bhg. X. 4.5). Dari sini dapat diketahui, bahwa Tuhan tidak hanya Maha kuasa, tetapi juga Maha adil dalam batas-batas yang juga dapat diterima oleh akal-budi, (idep) manusia.

Bagaimana Tuhan Itu?

Perdebatan tentang berapa jumlah Tuhan, apalagi dengan tujuan melecehkan agama orang lain, pada saat ini sudah bukan zamannya lagi. Jika itu dilontarkan, maka dapat dijadikan indikator tentang ketidakmengertiannya terhadap ajaran agama yang ‘diserangnya’ itu. Tuhan tidak berpribadi, maka tidak mungkin dapat dibatasi dengan kuantitas bilangan. Pembatasan terhadap jumlah Tuhan, sesungguhnya adalah perbuatan yang sia-sia, dan kurang memahami keagungan Tuhan. Banyak gelar (nama) yang ditujukan oleh kaum-Nya kepada Tuhan sesembahannya, sebenarnya hanyalah simbol-simbol. Simbol hanyalah model pembatasan, pembatasan terhadap pikiran para penyembah, dan bukan yang disembah.

Untuk memberikan gambaran yang jelas tentang wujud suci-Nya, terutama yang penting-penting saja. Krisna bersabda dengan mengambil ilustrasi kosmologi dan psikologi secara bersamaan. Dia bersabda: Di antara cahaya, Aku adalah matahari (cahayanya paling terang, paling bermanfaat): Di antara angin, Aku adalah marichi (topan, paling kuat): Di antara bintang, Aku adalah rembulan (lambang keindahan); Di antara Rudra, Aku adalah Sankara (kemusnahan yang mendatangkan bahagia; Di antara Yaksa dan Raksasa, Aku adalah Kubera (raksasa yang memiliki sifat baik; Di antara semua gunung. Aku adalah Mahameru (puncak Himalaya); Di antara gajah perkasa. Aku adalah Airawata (gajah tunggangan Dewa Indra); Di antara manusia biasa, Aku adalah maharaja (paling berkuasa); Di antara semua sapi, Aku adalah kamadhuk (sapi yang dapat memenuhi segala keinginan); Di antara semua ular, Aku adalah Wasuki (raja dari segala macam ular); Di antara penegak hukum, Aku adalah Yama (Dewa kematian, ketua majelis hakim di alam akhirat): Di antara ilmu pengetahuan. Aku adalah falsafah Atman (pengetahuan yang tersulit, tetapi paling bermanfaat); Di antara syair suci. Aku adalah Gayatri (mantram yang paling utama): Di antara musim, Aku adalah musim semi (saat yang paling indah).

Aku ini japa di antara cara memuja (japa merupakan cara yang terbaik untuk memuja Tuhan); Aku adalah Prahlada di antara Daitya (Prahlada adalah putra Daitya Hiranyakasipu, tetapi merupakan bhakta Wishnu sejak dalam kandungan): Aku adalah singa di antara segala bintang: Aku adalah Garuda di antara segala burung; Aku adalah Rama di antara pahlawan kebenaran; Aku adalah Gangga di antara semua bengawan; Aku ini penjudi di antara bangsa penipu (penjudi paling berani mengambil resiko); Aku adalah kebaikan dari segs yang baik; Aku-lah kekuatan hukum dari semua penguasa; Aku-lah negarawan di antara yang mengejar kejayaan; Aku-lah tempat menyimpan segala rahasia (Tuhan tidak akan pernah dikenal oleh siapa pun juga ); Aku-lah yang mengetahui segala ilmu pengetahuan; Dari semua indria, Aku adalah pikiran (rajan indria); Dari semua makhluk. Aku adalah kesadaran (yang paling penting bagi setiap makhluk); Dari semua Dewa-Rsi, Aku adalah Narada (Rsi agung yang selalu dekat dengan Narayana), dll.

Lebih lanjut Krisna bersabda. “Yad-yad vibhutimat sattvam, srimad urjitam eva va; tad-tad eva ‘vagachcha tvam. mama tejomsa sambhavam”. Artinya, segala apa saja yang ada, memiliki keagungan, keindahan, dan kekuatan, ketahuilah semua itu mejelma dari bagian fragmen-Ku (Bhg. X. 41). Dari seluruh uraian tersebut dapat disimpul-kan, bahwa Tuhan itu Mahabesar, yang meliputi segala macam kebenaran, kebajikan, dan juga kemuliaan (sathyam, sivam, sundaram). Semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru.

Sumber
Google Images
Youtube



Semoga dapat bermanfaat untuk semeton. Mohon dikoreksi bersama jika ada tulisan/makna yang kurang tepat. Suksma…

2018-02-17T10:17:11+00:00