Vibrasi Doa Bisma di Pagi Hari

//Vibrasi Doa Bisma di Pagi Hari



Vibrasi Doa Bisma di Pagi Hari

Udara dingin menyelimuti kota Hastinapura. Raja Sentanu masih diperaduan bersama Dewi Satyawati, mereka enggan keluar bilik, karena kondisi dingin memang selalu tak ramah di akhir bulan Kartika. Namun di sudut kerajaan yang asri, saat subuh menjelang pagi itu terasa amat menyejukkan, sebab pancaran api pemujaan telah menyala, menghangatkan suasana, untuk menyongsong sang surya. Bau harum asap kayu cendana memberikan pertanda bahwa doa dan mantra sedang diuncarkan untuk menginisiasi roda kehidupan yang mulai berputar.

Kokok ayam jantan dan langit timur yang mulai memerah memberi sinyal dan tanda bahwa pagi hari telah hadir memberikan ruang bagi para bakta untuk melaksanakan sadhana. Di ruang sadhana, dengan hati lapang dan Jernih para bhakta menatap diri sejati untuk kemudian menyatu dalam kondisi maha hening. Dari sana muncul kekuatan, semacam energi dari vibrasi mantra bagi seseorang yang melaksanakannya untuk kemudian serempak melaksanakan tugas-tugas pelayanan pada kehidupan alam semesta, yang merupakan altar Tuhan yang maha luas. Di dimensi itulah pemikiran dan bakti sang bakta mencapai ekstasa bhatin yang sulit diukur dengan untaian kata, padanya telah tumbuh penghayatan tentang “sariram adyam kalu dharma sadhanam” tubuh diciptakan untuk melaksanakan dharma.

Di pagi buta, api pemujaan yang dihidupkan Bisma, sang pangeran muda terus bersinar terang. Cahayanya penuh aroma dan ketulusan dan semangat kebaktian seakan-akan bersatu sehingga menggetarkan suksma siapapun yang menyaksikannya. Vibrasi doa yang menakjubkan itu seolah-olah menyatu dengan kekuatan semesta untuk menyangga hukum kebenaran kehidupan. Pun demikian getar-getar pemujaan itu seakan disambut senyum lembut oleh sang mentari pagi yang lagi bersemayam di peraduannya diufuk timur. Dari sana terbetik pesan agung tentang pemujaan, bahwa segenap ciptaan timbul dari kebenaran dan lebur kembali kedalam-Nya, sesuai dengan aliran ritmis gelombang Ilahi, yang melingkupi kesadaran alam semesta. Tiada tempat tanpa kebenaran, semua terisi, dan semua seakan ada yang menyaksikan. Itu sebabnya, hati yang jernih amat mudah menangkap bahwa tangan, kaki, mata, kepala dan mulut serta telinga Tuhan memenuhi segala sesuatu. Tuhan meliputi seluruh alam semesta. Kata-kata itu menjadi gelombang bhatin yang tidak pernah surut.

Pemujaan itu diawali dengan amat santun, memohon izin kepada yang Maha Memberi, untuk bisa melihat dan merasakan hari itu dengan rasa hati itu penuh bakti. Untuk mencapai ekstasa suci, membersihkan kaki dan membasuh muka, berkumur serta membuka peralatan bhatin adalah sesuatu keharusan agar bisa menyatu dengan yang Maha Mulia. Gayatri pagi hari, adalah chanda yang amat disenangi Tuhan. Tak heran, Bisma, sebagai seorang sadaka, ritual itu tak pernah absen dilakukannya.

Doa pagi, dengan beragam titel semacam “suprabatham, adalah sebuah laku suci di awal kehidupan sehari-hari yang amat menyenangkan sebagai doa selamat pagi kepada pengawal alam semesta. Yang kemudian diharapkan dapat memekarkan hridayam puspam yang berstana dalam hati. Bunga itu dan menebarkan bahasa kasih ke setiap kehidupan di bumi. Laku seperti itu tak disangkal mudah mendapatkan rahmat yang melimpah dan mengalir laksana air sungai bah yang sulit dibendung. Cuma syaratnya amat mudah, dilakukan dengan ikhlas dan tanpa pamerih. Di ranah itu akan ada semacam perasaan rindu untuk terus melakukannya secara kontinyu. Kerinduan muncul dari dalam hati, karena proses penyatuan sang diri sejati terus mendapatkan tempatnya. Di bingkai itu, bakti telah tumbuh dan mekar di hati seseorang yang berpredikat bakta. Hanya dengan bakti, Tuhan yang Maha Memberi dapat didekati (baktyatwana niyaya sakyam). Bakti adalah pemancar yang bisa menangkap gelombang-gelombang kasih Tuhan. Kebaktian Bisma muncul karena sadhana panjang, dalam keteraturan hidup yang dipenuhi dengan yadnya.

Bisma, sama seperti layaknya orang lain yang amat kuat terikat pada Tuhan, diinisiasi dengan sebutan bakta, memiliki otoritas sempurna untuk mengikat Tuhan di hatinya. Sebab di hatinya berderu seruhan yang ingin selalu dekat dengan Tuhan. Bakta adalah seorang pencinta Tuhan sejati dengan kekuatan hatinya, dia bahagia hanya dengan proses mencintai Tuhan-Nya. Tak ada yang lain yang dia cintai selain Tuhan. Menyebut Namanya, mendengarkan kisah-kisah-Nya, adalah bakti yang mudah dilakukan oleh banyak orang sebagai sravanam sampai penyerahan secara total kepada Tuhan (Atmanivedenam).

Tidaklah aneh bagi Bisma di pagi hari untuk bangun bergegas melakukan puja, kekuatan untuk menggeliat dan bangun bukan hambatan yang berarti, dengan mata yang terbebas dari rasa kantuk yang amat dalam, mereka akan giat memulai puja penyambutan sawitri, dengan diawali dengan metrum Gayatri.

Pagi hari, sebagai awal kehidupan, merupakan jeda suci yang dalam tradisi Weda disebut Brahmamuhurta. Suatu rentang waktu yang bisa jadi merupakan prosesi penciptaan dan pengisian energi awal dari kekuatan energi semesta. Apalagi dengan lakon “japa sahita dyanam” akan memberikan efek yang tak tertandingi. Tubuh yang terdiri dari panca mahabutha, menyerap semua kekuatan semesta dalam wujud: sabda, sparsa, rupa, rasa ganda menyusup untuk memberi kekuatan Ilahi yang muncul sebagai “anandam jyoti”, untuk terus menerus membersihkan sukma.

Segala sesuatu yang terjadi siang hari memang berawal dari seberapa ikhlas para bakta menatap-Nya di pagi hari, suatu awal kehidupan yang penuh dengan kenikmatan suksma abadi. Bisma muda, amatlah yakin dengan segala sesuatu yang termaktub dalam kitab suci. Sebagai seorang sadaka, wejangan-wejangan meresap benar didalam hatinya. Apalagi wejangan itu adalah wejangan dari Maharesi Manu, dengan keteguhan hati diikuti tanpa bertanya balik, atau mengkritisi dengan pemikiran kosong (reserve), Purwam sandya japa tistanrai-cemno wyapohati begitu menggema dalam hatinya. Mereka yang berdiri di pagi hari menghadap ke timur, dengan teguh mengucapkan gayatri, dosa yang dia lakukan pada malam hari terhapuskan oleh kemahasaktian Sang Baskara Dipati, sebagai sawitri, yang muncul sebagai saksi semua perbuatan dan karma manusia, pemujaan itu mengalirkan rahmat untuk memusnahkan karma buruk dan dosa bagi mereka yang bersujud di pagi hari kehadapan-Nya.

Om, surya ya swaha, surya idam namama, begitulah bibir Bisma muda berucap terus-menerus dihadapan api pemujaan untuk menyatukan hati kepada-Nya yang menghidupi bumi, yang memberikan makan alam semesta. Mentari pagi bersinar yang menyiratkan keindahan, sebagai suatu sumber energi di bumi, mendapatkan penghormatan penuh khusuk dari Bisma, seorang pribadi yang agung mencuat menyangga, kehadiran kehidupan siang itu.

OH … yang maha memberi, hamba telah bangun dari tidur hamba, dari kandungan Hiranya-Mu yang agung, hamba kembali sadar setelah semalam, hamba tertidur, kini hamba memiliki kesadaran alam pikir yang engkau berikan kepada ku. Oh ….. Rudra, yang memberi keindahan semesta.

Bisma merunduk kemudian menarik nafas panjang, mengeluarkan dengan amat pelan, teratur penuh dengan kepasrahan, nafasnya hampir-hampir tiada terasa, nafasnya bersuara satu, so-ham yang menunjukkan bersatulah siwa sakti dalam diri hamba. Bisma berada dalam kondisi relaksasi yang menakjubkan. Kemudian dia menarik nafas pelan dan dalam, lalu mengucapkan kembali mantra yang penuh arti.

“Oh… Yang menguasai Bathin ini, yang bersemayam pada semua benda dan mahluk yang bergerak. Hamba bagaikan anak yang baru saja terjaga dari tidur lelap, yang benar-benar menginginkan dan amat sungguh-sungguh berdoa semoga semua perbuatan hamba dalam sehari ini dilakukan hanya karena dirimu sehingga paling menyenangkan-Mu. (Yadyat krtam tat bhavatu tvad artham hridse rajni cara caranam)

Bisma mendapat keseimbangan bhatin dari aktivitas pemujaan pagi hari. Ketenangan muncul dengan sendirinya, tanpa diundang. Rasanya menyusup dan membedah keheningan sukma semesta. Bentaran cahaya pagi seakan-akan menghormat penuh manja untuk menerima selamat pagi dalam bentuk pemujaan. Bisma, seorang anak muda yang berdiri menyambut kedatangan Baskara Dipati itu, terus tiada henti melantunkan doa pagi yang menawan (Adideva namastubyam, prasetia mama-bhaskara, divakara namastubyam prabas-kara namostute. Om Bhaskara yawidmahi, mahajyotikara yadimahi tano aditya pracodayat). Hamba berdoa kepada-Mu yang Maha memberi, terimalah doa dan seberkas pemujaan yang tiada berarti untuk mengisi setitik ruang angkasa yang maha luas, sebagai dentuman kerinduan hamba kepada-Mu yang amat indah. Cek-cek-cek-cek …. suara cecak mengalun, seakan setuju dengan prilaku suci ini. Om Ang agora ya namaha.

Sumber
Google Images
Youtube



Semoga dapat bermanfaat untuk semeton. Mohon dikoreksi bersama jika ada tulisan/makna yang kurang tepat. Suksma…

2018-03-08T02:44:20+00:00