Zaman Kali

//Zaman Kali



Arah Beragama Hindu Pada Zaman Kali

Tujuan agama disabdakan oleh Tuhan untuk menuntun manusia, agar senantiasa hidup di jalan dharma, yaitu menuju hidup yang benar, baik, tepat, dan wajar. Karena itu Tuhan menciptakan alam semesta sebagai wadah kehidupan semua makhluk hidup. Untuk bisa hidup di jalan yang benar, baik, tepat, dan wajar itu apabila eksistensi alam sesuai dengan rta, yaitu hukum alam ciptaan Tuhan dan manusia senantiasa eksistensinya sesuai dengan Dharma. Rta dan dharma itu menurut Manawa Dharmasasatra VII. 14 adalah putra Tuhan untuk mengatur alam dan manusia.

Manusia adalah makhluk hidup ciptaan Tuhan yang paling sentral dan paling strategis. Artinya keadaan alam dan makhluk hidup lainya sangat besar terpengaruh oleh perilaku manusia. Manusia tidak bisa hidup bahagia tanpa alam yang lestari. Demikian juga manusia tidak bisa hidup bahagia tanpa mampu menata diri secara individual dan menata kehidupan sosial secara normatif struktural. Norma alam yang lestari, individu dan keberadaan sosial yang ideal sudah ada filosofi dan konsepsinya dalam ajaran Hindu. Keberadaan alam dan manusia ada dalam ruang dan waktu yang berbeda-beda. Karena itu tuntunan beragama Hindu sebagai pengamalan Weda dalam setiap zaman menjadi berbeda-beda pula.

Alam berputar ada siang dan ada malam, ada pagi, siang, sore, dan malam. Ada musim kemarau, musim hujan dan ada juga musim semi. Ada lautan, ada lembah, ada gunung dan seterusnya. Ada zaman Kerta Yuga, Treta Yuga, Dwapara Yuga, dan Kali Yuga. Keadaan yang sangat variatif atau beraneka ragam inilah menyebabkan cara beragama Hindu harus berbeda-beda atau beraneka ragam. Karena itu Swami Siwananda menyatakan bahwa intisari Weda itu adalah Sanatana Dharma atau kebenaran yang kekal abadi, tetapi penerapannya yang Nutana. Kata Nutana dalam bahasa Sanskerta artinya baru, muda, segar, tapi membahagiakan. Ini artinya pengamalan Weda harus dinamis senantiasa ada pembaharuan untuk penyegaran yang penting intinya yang Sanatana Dharma itu berdayaguna memberikan kebahagiaan pada penganut Weda.

Ibarat makanan intinya sepanjang zaman itu sama. Siapa pun butuh karbohidrat, protein, vitamin, asam amino, dan lain-lain, hanya bentuknya berubah-ubah sesuai dengan perkembangan zaman dan budaya masyarakat setempat. Karena itu pengertian “Ajeg” itu bukan berarti tidak berubah. Justru untuk dapat Ajeg itu adalah terus berubah sesuai dengan norma perubahan itu. Artinya berubah itu adalah berubah ke arah yang semakin baik dan kuncinya membuat umat semakin bahagia.

Sosok Agama Hindu
Idanim dharma pramanamyaha
Weda khilo dharmamulam
Sruti smrtisila ca tadvadam
Acarasscarva sadhanam
Atmanstustireva ca
(Manawa Dharmasastra II.6)

Maksudnya. Sumber pertama dari agama (dharma) adalah Weda Sruti. Kemudian Smrti, terus Sila selanjutnya Acara. Tujuannya mewujudkan kebahagiaan rokhani atau Atmanastusti.

Tampilan wujud budaya beragama Hindu tidak bisa kita lihat tanpa menggunakan konsep yang telah ditetapkan dalam pustaka suci. Kalau menggunakan konsep memandang tampilan agama Hindu kita akan jelas apanya yang kita lihat, apa tampilan substansinya berupa Weda Sruti Sabda Tuhan. Weda Sruti inti yang paling substansif itu ada di dalam kemasan tradisi budaya Hindu dimanapun Agama Hindu itu dianut. Apa kemasannya yang lebih luas. Dalam buku Upadesa, agama Hindu diibaratkan telur, yaitu ada kuning telur, ada putih telur, dan kulit telur. Swami Siwananda menyatakan, Weda sumber ajaran agama Hindu itu Santatana Dharma, yaitu kebenaran yang kekal abadi atau universal.Tetapi penerapannya Nutana, artinya dalam bahasa Sansekerta adalah baru, muda, segar tetapi membahagiakan seperti yang sudah dijelaskan di atas.

Mencermati sosok Hindu itu konsepnya adalah Manawa Dharmasastra II.6, yang dikutip di atas. Sosok Agama Hindu dapat diamati dengan lima lapis, yaitu Sruti, Smrti, Sila, Acara, dan Atmanastusti. Inilah norma yang dijadikan dasar melihat sosok Hindu. Lima hal tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Sruti, yaitu Mantram Catur Weda, Sabda Tuhan sebanyak 20389 mantram. Inti Catur Weda ini adalah Sanatana Dharma, yaitu kebenaran yang kekal abadi. Mantram Weda sebagai Sabda Tuhan itu dinyatakan dalam Atharwa Weda X.7.20, demikian juga dalam Yajur Weda XXXI.7, Bhagawad Gita XV. 15, Manawa Dharmasastra 1.23. Swami Siwananda menyatakan: Mantram Weda itu non human origin, maksudnya mantram Weda itu tidak berasal dari manusia dan mantram Weda itu disebut Prabhu Samhita, artinya kumpulan mantram yang penuh wibawa. Demikian Swami Siwanada menyatakan dalam bukunya All About of Hinduisme. Karena itu para vipra dan para Resi itu adalah orang-orang suci Hindu membuat rumusan yang Suhrita Samhita, artinya rumusan yang lebih ramah, sehingga umat kebanyakan lebih mudah mendalaminya. Lebih lanjut Swami Siwananda menyatakan bahwa mantram pustaka Sruti itu ada tiga kelompok, yaitu Paroksa Mantram, yaitu mantram jenis ini yang paling sukar, baru dapat dimengerti kalau disabdakan kembali oleh Tuhan, seperti Savitri Mantram yang lebih populer dengan Gayatri Mantram maknanya diterima dari Tuhan oleh Resi Wiswamitra. Ada Adyatmika Mantram, yaitu jenis mantram Weda baru dapat dipahami dengan penyucian diri secara benar. Pratyaksa Mantram, yaitu mantram Weda yang dapat dipahami dengan kecerdasan pikiran dan ketajaman Indria.
  2. Smrti, yaitu sosok Hindu yang selanjutnya merupakan tafsir Weda, sabda Tuhan itu yang disusun oleh para Resi. Weda Smrti ini juga disebut Dharma Sastra. Pustaka Smrti ini ada empat kelompok. Ada Smrti yang berlaku untuk zaman Kerta Yuga, ada Smrti untuk Treta Yuga, ada yang untuk Dwapara Yuga, dan ada untuk zaman Kali Yuga. Resi yang menyusun pun banyak. Manawa Dharmatra disusun oleh Resi Manu untuk nuntun hidup zaman Kerta Yuga.
  3. Sila, pustaka Sila ini isinya berbagai perilaku yang berdasarkan dharma yang tergolong subha karma yang seyogianya dijadikan teladan lam menyelenggarakan hidup. Ada Sila yang adharma atau asubha karma yang seharusnya dihindari atau dijauhi bagi yang menghendaki kehidupan yang bahagia. Pustaka Sila ini adalah “Ithasa dan Purana. Itihasa, yaitu Ramayana dan Mahabharata, sedangkan kitab Purana ada delapan belas Purana. Dan ada juga Upa Purana. Sarasamuscaya 39 menyatakan: Endan Sang Hyang Weda paripurnakena yan masadana Sang Hyang Itihasa muang Sahyang Purana. Artinya, untuk mencapai kesempurnaan Weda hendaknya melalui Itihasa dan Purana. Hal inilah yang menyebabkan dikalangan umat Hindu lebih populer cerita Itihasa dan Purana. Itihasa dan Purana ini memiliki dimensi yang amat luas tentang kehidupan sepanjang zaman. Itihasa dan Purana ini tidak akan pernah tuntas untuk di diskusikan atau di-dharmatula-kan, karena isinya demikian luas menyangkut kehidupan umat manusia sepanjang zaman. Karena itu Itihasa dan Purana akan terus menerus menjadi bahan diskusi sepanjang zaman dan dimana pun manusia itu ada.
  4. Acara, artinya langgeng atau abhyasa, artinya sudah menjadi kebiasaan dimana isi Weda itu wajib ditradisikan. Dalam Sarasasamuscaya 111 dinyatakan: Acara ngarania prawrti kawarah Sang Hyang Aji. Artinya: Acarana namanya pengamalan apa yang diajarkan dalam pustaka suci. Inilah pada zaman penjajahan Belanda disebut adat oleh Snouk Hugrogne dan Van Volen Hopen. Pada kata adat dalam bahasa Arab artinya tradisi yang tidak ada hubungannya dengan agama. Pada hal Van Der Berg dengan teori: Resepci in complekshu menyatakan bahwa kebiasaan-kebiasaan umat Hindu di Bali sesungguhnya wujud pengamalan agama Hindu berdasarkan kebiasaan di Bali. Hal inilah yang ditentang oleh Snouk Hugrogne dan Van Volen Hopen. Itu hanyalah adat yang tidak ada hubungannya dengan agama. Pandangan Snouk Hugrogne dan Van Volen Hopen itulah yang dipakai meskipun itu tidak benar. Sampai dewasa ini adatlah yang lebih menguasai agama Hindu. Hal ini menyebabkan kontek beragama Hindu masih ada yang tidak berhubungan dengan teks sastranya yang suci. Manawa Dharmasastra 11.12 dan 18 ada istilah Sadacara yang berasal dari kata ‘Satya’ artinya kebenaran Weda, dan acara artinya langgeng. Ini maksudnya, agar kebenaran Weda itulah yang dilanggengkan atau ditradisikan dalam kehidupan beragama sehari-hari. Untuk mentradisikan kebenaran Weda sudah ada pe-domanannya dalam Manawa Dharmasastra VII. 10, yaitu Iksha, Sakti, Desa, Kala, dan Tattwa. Dengan demikian Weda akan selalu tampil dalam kemasan luarnya yang berbeda-beda sesuai dengan keadaan dimana Weda itu dianut. Tapi yang berbeda-beda itu hanya kemasan sosial budayanya. Intinya tetap sama, yaitu Sanatana Dharma dari Weda Sruti sebagai jiwa atau Purusa dari acara atau tradisi pengamalan Weda, sabda Tuhan tersebut.
  5. Atmanastusti, artinya kebahagiaan atman atau kebahagiaan rokhani. Artinya tujuan untuk mencapai hidup bahagia di dunia ini agar berangkat dari upaya mewujudkan kesucian atman. Atau disebut dalam Tattwa Jnyana 35 sebagai Atma Wisesa. Artinya kesucian atman itu yang menguasai budhi, manas, dan indria. Karena Rg Weda, X.36.14 menyatakan bahwa Tuhan selalu memancarkan Savita atau sinar pencerahan hidup dari segala penjuru sepanjang masa. Kebahagiaan hidup yang disebut Atmanastusti itu akan terwujud apabila struktur diri itu normatif seperti dinyatakan dalam Bhagawad Gita 111.42 dimana Indria itu sempurna berada di bawah kesempurnaan manah dan manah ada di bawah kesadaran budhi nurani dan kesucian atman. Kondisi atau stuktur diri yang demikian itulah yang akan mengekspresikan kesucian atman membawa karma itu selalu subha karma.
Sumber:
Drs. I Ketut Wiana, M.Ag
Google Images



Semoga dapat bermanfaat untuk semeton. Mohon dikoreksi bersama jika ada tulisan/makna yang kurang tepat. Suksma…

2018-01-19T08:37:41+00:00