Pura Campuhan Windhu Segara

Dibandingkan dengan sejumlah pura di Bali yang sudah berumur ratusan bahkan ribuan tahun silam, Pura Campuhan Windhu Segara tergolong cukup baru, pura ini berawal dari kisah dari seorang pemangku yang bernama Jro Mangku Gede Alit Adnyana, yang mana beliau sempat menderita panyakit gagal ginjal, setelah kemana-mana berobat dan tidak kunjung sembuh, beliau sempat putus asa dan pasrah.
Di saat putus asa tersebut Jro Mangku mendapatkan petunjuk secara niskala, beliau menemukan sebatang kayu di pinggir pantai Padang Galak, dan kayu tersebut mengeluarkan asap, beliau yakin api tersebut pertanda akan kebesaran Tuhan, beliau akhirnya juga mendapat pewisik untuk membangun parahyangan Ida Bhatara di kawasan ditemukan kayu tersebut, beliau menyanggupi dan beliaupun sembuh sedia kala, tempat ditemukan kayu tersebut sebagai tegak (tempat) mendirikan pelinggih, walaupun hanya berlantai pasir laut.

Urutan Melukat Di Pura Campuhan Windhu Segara

Ada beberapa sarana yang diperlukan saat anda ingin bersembahyang dan melukat di Pura Campuhan Windhu Segara, pertama adalah banten pejati, minimal satu buah pejati di tempat penglukatan Ida Bhatara Wisnu dan satu buah bungkak (kelapa gading), kalau bawa banten pejati lebih (setidaknya canangsari) untuk di tempat melukat berikutnya yaitu di Pura Beji dan penataran utama pura.
Kelapa gading biasanya sudah dijual di lokasi dan sudah dibuka (kasturi), tetapi agar lebih aman dan khwatirnya habis, maka bungkak nyuh gading tersebut bisa dibawa dari rumah dan siapkan pisau untuk membukanya.

Adapun urutan, tata cara melukat dan persembahyangan di Pura Campuhan Windhu Segara

  1. Penglukatan di tempat pemujaan Ida Sang Hyang Wisnu dengan sarana Pejati dan Nyuh Gading, pemedek akan dilukat (diruwat) oleh jro mangku dengan guyuran air suci, kemudian dilanjutkan melukat dengan bungkak kelapa (nyuh) gading.
  2. Penglukatan berikutnya di pantai Padang Galak, tepatnya di lokasi Campuhan atau tempat bertemunya air laut dangan air sungai.
  3. Penglukatan di pura Beji, disini ada 3 tahap penglukatan yaitu di Tirta Darmada, Tirta Dewi Gangga dan Tirta Linggam, selesai melukat anda melakukan persembahyangan di natar (halaman) pura Beji.

Setelah proses melukat di Pura Beji dan melakukan persembahyangan di natar pura beji, anda bisa ganti pakaian memakai pakaian kering, tetapi anda masih bisa memakai pakaian basah tersebut, untuk melanjutkan persembahyangan di natar utama Pura Campuhan Windhu Segara.

Setelah selesai melakukan persembahyangan di pelinggih utama Pura Campuhan Windhu Segara, masih di lokasi yang anda bisa melakukan persembahyangan di pelinggih Kanjeng Ratu di sebelah Selatan (kanan) pelinggih utama.

Selesai melukat dan persembahyangan di Pura Campuhan Windhu Segara, jika anda mau ada sebuah pelinggih di sebelah Barat parkir kendaraan, yaitu pelinggih Ratu Niang, anda bisa melanjutkan persembahyangan ke pura tersebut.

Lokasi Pura Campuhan Windhu Segara

Untuk mengakses tempat ini juga cukup mudah, dari perempatan by pass Ngurah Rai Sanur – Waribang, anda menuju jalan pantai Padang Galak (bekas Taman Bali Festival), sampai di ujung jalan maka ketemu pantai Padang Galak Sanur, yang masih merupakan wilayah desa Kesiman, Denpasar Timur, dari pantai inilah belok kiri sekitar 300 meter anda akan tiba di lokasi. Di kawasan ini setidaknya ada 3 buah komplek pura, yang pertama adalah pura Pura Segara Taman Ayung, Pura Campuhan Windhu Segara dan Pelinggih Ratu Niang di sebelah Barat.
Areal parkir cukup luas bisa menampung puluhan mobil dan ratusan kendaraan. Jika anda datang pada saat liburan dan kebetulan hari raya, apalagi saat Banyupinaruh, maka anda butuh kesabaran untuk antre saat melakukan penglukatan.

Sampaikanlah Doa dengan tulisan yang baik, benar dan lengkap. Sampunang disingkat-singkat!

Berbagai Sumber | Google Images | Youtube | Support become Patreon
Tag: dewatanawasanga, Blogger, bali, satuskutus offering, love, quotes, happy, true, smile, success, word, history, beautiful, culture, tradition, love, smile, prayer, weda, hindu, spiritual,